“Ajining Raga saka Busana” artinya kira-kira begini seseorang akan kelihatan gagah, tampan atau berwibawa, cantik dan lain-lain karena berbusana dengan benar, artinya bisa menyesuaikan dengan kondisi dan tempat.Berbusana yang baik tidak harus dengan pakaian yang bagus-bagus dan berharga mahal, tapi yang penting bersih, rapi dan sesuai atau maching dengan badannya.Ngadi busana juga harus menyesuaikan dengan situasi dan kondisi, contoh bila anda sedang bertakziah hindarilah pakaian yang berwarna ngejreng karena bisa menyiksa batin orang yang sedang berbela sungkawa.Bila kita sedang menerima tamu atau sowan kepada sesepuh atau orang yang terhormat berpakaianlah dengan rapi dan bersih karena itu wujud penghargaan kita.

Ajining Diri gumantung kedaling lathi: Pepatah melayu juga mengatakan mulutmu harimaumu, artinya segala sesuatu yang akan menimpa kita itu tak lepas dari ucapan2 kita yang mungkin kadang keluar begitu saja dengan ringan.Suka bicara kasar akan menyakiti perasaan orang lain yang buahnya nanti kita akan di cap orang yang berwatak buruk dan berbudi gelap, suka bicara bohong kita tak akan dipercaya orang dan dicap sebagai pembual, suka bicara manis tapi kontradiksi dengan perilaku kita akan mendapat julukan wong lamis atau orang munafik.Kadang ucapan atau tutur kata sesesorang itu juga bisa dijadikan sebagai tolok ukur kemapuan seseorang. Seperti Filosofi sebuah Teko (jawa=untuk nyedu teh) apa yang keluar dari mulutnya itulah isinya.Maka hati-hatilah dengan organ atau lobang yang satu ini.

Ajining Pribadi saka budi lan pakarti, Seseorang bisa dianggap sebagai orang yang saleh bukan karena dia bisa ndremimil hafal bacaan atau apapun, tapi sejauh mana dia bisa mengaplikasikan kawruhnya dalam kehidupan sehari-hari atau ing sakmadyaning jalanidhi begitu kata eyang kakung.Pribadi yang bisa diajeni yaitu pribadi yang bisa memberikan suri tauladan baik dengan akhlak dan perilakunya.Orang sekarang telah terbalik, cuma karena hapal buku agama seperpustakaan maka orang itu akan dianggap orang yang ahli ibadah atau orang saleh. Ironis memang kalu pemahaman hanya berhenti pada kulit, sehingga orang makin males untuk berusaha berbuat, yang ada hanya nunggu dijejeli oleh ngelmu2 atau faham jarene atau kata si anu, Si Suta atau Si Naya. Kanjeng Nabi SAW sendiri lebih banyak memberi ketauladanan melalui akhlak dan perilakunya, mungkin alangkah lebih bagusnya sebagai orang orang yang senang dengan dunia spritualitas untuk bisa mensinergikan unen-unen atau apalah seperti yang saya dongengkan di atas.Karena hal-hal yang kelihatannya sepele itu kalau tidak dicermati dari dini bisa jadi gawe. Ya….., barang sepele iku bisa dadi gawe.

About these ads