Archive for Januari, 2009


Gambuh pitutur III (tamat)

Sjati gesang puniku

Tindak becik meper hawa nepsu

Lamun leno pralaya kang den temahi

Mulo tansah setya tuhu

Mring Gusti kang Maha Manon

Ijinkan saya nggedabul lagi, membedah tembang gambuh yang saya tulis dengan memakai bahasa yang sangat sederhana ini.

Jadi hidup yang sejati, hidup yang benar, hidup yang rahmatan lil alamin, hidup yang bermanfaat adalah hidup yang penuh kebaikan. Yaitu hidup dimana kita telah berhasil menundukkan hawa hawa nafsu negatif, Amarah, sufiyah dan lawamah.Karena nafsu nafsu tesebut apabila tidak ditundukkan hanya akan menimbulkan manusia yang penuh keakuan, sombong, gila kehormatan, serakah dll. Seorang muslim dianjurkan untuk selalu bermuhasabah yaitu selalu instropeksi diri atau jawanya Mulat Sarira hangrasa wani, nah buah dari laku tersebut adalah menjadi manusia yang selalu awas, teliti, bijaksana, mengerti dsb. Jika manusia mengesampingkan hal hal di atas maka kematianlah yang akan ia temui. Kematian disini bukan berarti kematian fisik melainkan kematian secara ruhani. Bayangkan bila manusia  yang dalam hidupnya hanya menuruti hawa nafsunya saja, maka seperti pernyataan seorang penulis yang pernah saya baca, maka manusia tersebut diibaratkan seperti Zombie-zombie yang siap menerkam siapa saja.Jalan  satu satunya adalah mendekatkan diri kepada Tuhan, yaitu Tuhan yang telah menciptakan jagad  raya seisinya ini. Lho bukannya Tuhan itu ya ..yang satu satunya menciptakan jagad raya ini. Jawaban saya belum tentu, karena dalam praktek kehidupan sehari hari kadang kita sering menuhankan sesuatu, misalnya harta benda, kekuasaan, kekuatan, kehormatan dll. Lha yang paling sulit untuk diteliti itu yang namanya Tuhan Ego, maaf kadang2 kalu dicermati masih ada saja orang yang berilmu tinggi, berpengetahuan tinggi namun akhirnya terjebak dengan egoisme yang lebih halus. Kalu hal ini tidak serta merta diobati, seberapapun tinggi pengetahuan seseorang sampai sundul ngawiyat pasti akan terperosok kelubang rasisme, narsisme, fanatisme, keminterisme dll. Sebagai penutup kata: kenali dirimu maka kau akan mengenali tuhanmu dan kenalilah tuhanmu maka terasa semakin bodohlah akan dirimu…(pesan ini buat saya sendiri lho…. :mrgreen: )

2012 (ada apa denganmu)

1. Ramalan suku bangsa Maya (Badai Matahari)

2. Jangka Jaya Baya (Owah gingsiring tatanan jaman anyar)

3. Jaman sulit

4. Sahabat saya menengarai adanya seleksi alam yang hebat.

????????????????????????????????????

Semoga  para pembaca yang budiman sudi membagikan wejangan atau petuahnya, supaya ke depan  semakin eling lan waspada hidup kita. O iya semalam saya melihat bulan purnama kembar dari arah timur, tingginya sepenggalah, salah satu bulan tersebut ada tulisannya nama tokoh leluhur masa lalu, bulan yang satu lagi saya lupa tulisannya, mmm nglantur ya…? eh tapi bener lho saya ga bohong. Mudah mudahan pertanda baik, Matur sembah nuwun

Wassalam

Rahayu

Tanpa tudhuh kedlarung dlarung pinesthi

Tansah mituhu pitutur

Mring pra suci lan waskitha

Ini mengajarkan kepada para salik untuk senantiasa mematuhi rambu rambu yang telah ada. Tujuannya adalah untuk memperkecil resiko ditengah perjalanan.Rambu rambu (tudhuh) adalah pengetahuan yang bisa diambil dari berbagai referensi, misalnya Kitab kitab suci, Serat serat suluk, Babad dan sebagainya.Dengan pengetahuan tersebut apabila kemudian disertai laku dengan teratur atau ajeg dan dengan keyakinan yang penuh akan menghasilkan berbagai  Kaweruh yang sangat bermanfaat untuk diri sendiri dan masyarakat.Kenapa disebut kaweruh? , kaweruh artinya kaparingan weruh atau dikasih tahu, artinya orang tersebut benar benar bisa mengalami, merasakan dan bisa menggunakan kaweruh tersebut.

Langkah selanjutnya adalah terbuka atau mau mendengarkan petuah petuah atau nasehat nasehat orang lain dan  kemudian menyaringnya. Tidak boleh merasa sudah cukup dengan pengetahuan yang telah dimiliki, karena rasa demikian hanya akan menimbulkan kesombongan  yang berakibat mengotori batin dan mengahambat perjalanan mencariNYA. Juga senantiasalah untuk selalu mencari orang orang yang dianggap suci dan waskitha, supaya bekal kita makin bertambah.Terus apa parameter atau ukuran untuk bisa melihat bahwa seseorang bisa dikatakan “Suci lan Waskitha”.

Menurut saya sederhana saja untuk mengetahui seseorang itu benar2 termasuk seperti orang orang yang saya sebutkan di atas. Beberapa ciri cirinya sebagai berikut:

1. Sudah menjauhi perbuatan yang keji dan munkar. Munkar adalah perbuatan buruk yang jelas jelas bisa dilihat secara kasat mata dan ditolak keberadaanya ditengah masyarakat. Contohnya: Perjudian(main), Madon, Madat dll:P. Sedangkan perbuatan keji adalah perbuatan yang menjijikan, misalnya , iri, dengki, dendam kesumat dsb.Lho, bukannya penyakit ini tidak bisa dilihat dengan mata telanjang? Terus bagaimana melihatnya.Saya rasa gampang saja, bilamana seseorang masih suka grenengan bila melihat orang lain mendapat kesenangan, atau masih suka membicarakan cacat orang lain(seneng nyacat alaning liyan). atau tidak mau tersaingi dari segi materi, jabatan dll, itu tandanya orang tersebut masih memelihara sifat sifat keji.

2. Sudah mampu mengaplikasikan pengetahuannya dalam kehidupan sehari hari atau telah mampu mengimplementasikan ilmunya ditengah kehidupan masyarakat. Contohnya kalu menyuruh orang lain untuk hidup sederhana, ya dia sendiri telah mempraktekannya. Intinya berani dan bisa memberikan suri tauladan bagi keluarganya, lingkungan dan masyarakat.

3.Berakhlak mulia atau berbudi luhur.

Karena semua agama pada dasarnya mengajarkan bagi para pemeluknya untuk selalu mensucikan diri dengan ritual ritual yang telah diajarkan oleh masing masing agama tersebut. Nah buah dari mengerjakan ritual ritual tersebut  salah satunya  adalah terbentuknya akhlak yang mulia atau berbudi luhur. Lha kalu ritualnya ajeg, disiplin tapi sifat sifat buruknya tidak berubah?, itu namanya baru dapat kulitnya belum dapat isinya, kalu istilah kejawennya baru sembah raga, ya yang sehat atau segar cuma raganya saja.

4. Ora seneng nerak wewaler atau tidak suka menentang sesuatu yang telah mapan secara baik pada kehidupan masyarakat. Karena orang orang di level ini telah memahami hakekat atau telah menggapai kesejatian. Dia selalu bertindak hati hati dan bijaksana juga sangat menjaga toleransi dan penuh kesahajaan serta kebijaksanaan.

5.Berikutnya, sebetulnya ini tidak mutlak, tapi biasanya mereka memiliki daya linuwih atau semacam karomah dan lain lain. Mampu membaca sesuatu yang  lahir dan yang batin. Ada juga yang berkelakuan aneh atau nyeleneh. Bahkan kadang banyak orang tidak menyangka bahwa orang tersebut sebetulnya jalmo kang linuwih.

Mungkin ini dulu yang bisa saya sampaikan, mudah mudahan membawa manfaat walau cuma sedikit..:D.Ya inilah tafsiran tembang gambuh ” kembang gadhung” bait pertama, marilah senatiasa agawe – jumbuh antara pengetahuan dan perbuatan. Selalu njumbuhake kahanan dalam kehidupan sehari hari, percuma rasanya  mempunyai ilmu yang tingginya sundul ngawiyat tapi perilaku tidak sesuai.

Akhir kata, mangga kita asesanti:

Memayu hayuning bawana langgeng, tansah ngupadi  kasampurnaning urip lan bisoa bali maring kahanan jati.

GAMBUH Bag I

KEMBANG GADHUNG


Ngudi jatining kawruh

(Mencari pengetahuan tentang kesejatian)

Lir ngupaya puspitaning gadhung

(Seperti pencarian terhadap bunga gadhung)

Tanpa tudhuh kedlarung dlarung pinesthi

(Tanpa memakai pentunjuk atau rambu-rambu yang benar hanya akan tersesat)

Tansah mituhu pitutur

(Oleh karena itu dengarkanlah wejangan atau petuah-petuah)

Mring pra suci lan waskitha

(Dari orang-orang yang kau anggap suci dan waskitha)

Baca lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 33 pengikut lainnya.