Bahasa Tuhan

Waspadeng sasmita kaki

Kareben sira waskita

Ulatno njaba njerone

Sak isine alam ndonya

Mengku Dzating Pangeran

Yekti  sapa nora weruh

Uripe pindha raseksa

Amatilah  segala sasmita,seloka, simbol dll anakku

Supaya dirimu menjadi orang yang awas(waskita)

Lihatlah luar dalamnya

Dunia dan isinya ini

Terliputi oleh Dzat  Tuhan

Siapa yang tiada mampu membaca kebesaranNya

Hidupnya seperti  Raksasa (Bodoh)

Di atas itu adalah penggalan bait tembang asmaradana yang saya tulis malam jum’at kliwon kemarin, tembang tersebut mengisyaratkan tentang bahasa Tuhan. Gusti Allah telah menggelar tanda-tanda kebesarannya di alam semesta ini, supaya manusia bisa membacanya (iqra’), Supaya manusia berhati hati dalam hidupnya sehingga bisa bahagia , selamat dunia akherat.

Sebetulnya Tuhan telah mempermudah hamba-hambanya dengan memberikan petunjuk-petunjuk, simbol, gambaran dengan senyata-nyatanya, supaya manusia tidak tersesat dalam mencariNya.

Samodra, gunung, sawah , hutan, pohon, binatang dan sebagainya adalah sebuah peta dariNya, dan apabila kita mampu untuk membacanya, hasilnya kita akan menjadi manusia yang linuwih, waskita atau jalma limpat seprapat tamat.

Terkadang kita dihadapkan oleh kejadian sehari-hari yang kelihatannya biasa saja, padahal kalau kita cermati boleh jadi itu merupakan pepeling , sindiran atau tegoran dari Tuhan. Kesandung, tersedak, klilipan dan lain sebagainya merupakan bahasa-bahasa halus dari Gusti, dan jikalau kita mampu membacanya, bukan tidak mungkin tersimpan pelajaran yang amat dalam.

Sebagai contoh, suatu saat tiba-tiba ada seekor kucing yang pulang ke rumah saya. Mulanya kucing itu selalu diusir oleh istri saya, karena anak saya yang masih kecil sangat ketakutan kalau di dekati kucing. Namun beberapa kali diusir kucing tersebut kembali lagi ke rumah kami, saya mulai memperhatikan kucing tersebut, ternyata kucing tersebut terluka dibagian perutnya, luka itu cukup dalam seperti bekas terkena sayatan benda tajam. Saya merasa kasihan, ketika saya tangkap kucing tersebut tidak berontak sama sekali, malahan ketika lukanya saya obati dengan obat penyembuh luka, kucing tersebut diam saja dan kadang-kadang giginya meringis seperti menahan rasa perih. Yang aneh lagi kucing tersebut tidak seperti pada umumnya, ketika tidak diberi makan dia tak pernah berani mengambi sendiri, walau dirumah belakang banyak tersedia bahan makanan.Singkat cerita kucing tersebut sembuh dari sakitnya, dan kemudian pergi entah kemana. Nah beberapa hari kemudian datanglah seorang sahabat ke rumah saya, usut punya usut ternyata dia baru  menghadapi berbagai masalah dalam hidupnya. Sahabat tersebut meminta bantuan moril, yaaaach setidaknya minta dikasih saran untuk menyesaikan masalahnya. Ternyat lewat kejadian di atas, Gusti telah mengajari saya untuk belajar, peduli, bijaksana dan welas asih kepada sesama. Banyak lagi kejadian-kejadian yang lucu, namun ternyata menyimpan hikmah yang dalam.

Gusti Allah telah menyederhanakan  segala ilmunya lewat beberapa kitab yang di turunkan dimuka bumi ini, supaya manusia tidak kesulitan dalam mencari jati diri dan mencari Gustinya. Diantara kitab tersebut adalah sebagai berikut :

1. Kitab Garing (yaitu kitab yang tersurat diantaranya kitab suci, sastra, syair, puisi mistik dll)

Apabila manusia mampu membedah dan memahami apa-apa yang termaktup dalam kitab garing ini, hasilnya menjadi manusia yang winasis, mengerti rahasia yang terdapat dala diri maupun alam ini.

2. Kitab berjalan (Manusia itu sendiri)

Ada hadist yang mashyur di kalangan sufi” Barang siapa kenal dirinya akan mengenal Tuhannya”

3. Kitab yang tersirat yaitu alam yang sangat luas yang bisa kita saksikan dengan mata telanjang.

QS. 2:164:

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.

Nah, untuk menangkap bahasa Tuhan tersebut ada berberapa teknik atau metode yang telah biasa dikenal oleh orang-orang yang suka mengolah rasanya.

1. Ngaji Diri

Adalah usaha manusia untuk mencari jati dirinya, atau mengetahui sangkan paraning dumadi, sehingga lahir metode-metode yang baru-baru ini digolongkan menjadi  teknik konvensional dan teknik yang modern.Dulu di daerah timur tengah banyak terlahir tarekat-tarekat sedangkan di bumi nusantara melahirkan aliran-aliran kebatinan, yang intinya adalah bermuara pada pencirian jati diri manusia. Referensi dalam rangka pencarian jatidiri ini bisa diambil dari kitab-kitab suci maupun dari pengalaman-pengalaman saat menjalani suluk.Ketika pertama-tama berlatih tafakur dan tahanust dulu, saya sering melihat sosok-sosok yang mengerikan. Pernah ketika baru posisi ruku’ tiba-tiba didepan saya lewat bayangan seekor ular yang besar sekali, juga sewaktu tafakur tiba-tiba ada orang setinggi rumah lewat didepan saya. Saya sendiri tidak pernah memusingkan dari mana dia datang dan siapa dia sebenarnya, mereka selalu saya fahami bahwa semua itu adalah potret-potret diri saya sendiri atau bagian kita sendiri. Karena dengan begitu, kita akan selalu ingat bahwa kita ini makhluk yang lemah yang sering berbuat kesalahan-kesalahan atau kesombongan.

2. Ngaji Ciri

Teknik ini sangat gampang sekali dipraktekan, kita tidak perlu  mengerahkan kekuatan batin atau menggunakan ilmu teropong  bila ingin mengenali atau mengetahui karakter,pola pikir atau budaya yang dianaut oleh individu atau kelompok didaerah tertentu. Caranya adalah dengan ilmu titen, namun tentu saja ilmu titen yang memang didasari oleh riset yang valid adan akurat. Teknik ini bukan berarti untuk mencari borok-borok atau mencampuri urusan orang lain, namun dimaksudkan dengan mengetahui sedini mungkin karakter orang lain atau kelompok masyarakat dimanapun kita tinggal, kita akan gampang menyesuaikan diri atau adaptasi sehingga tidak menimbulkan masalah  atau kontra.

Sebagai contoh, suatu hari saya dan temen  saya yang jadi pengurus RT berkeliling lingkungan untuk mengontrol warga. Sampai di ujung gang ada rumah yang cukup besar, beliau ini ternyata warga baru, teman saya ini tiba-tiba tersenyum,  “Ada apa mas? Kok senyum-senyum sendiri? Tanya saya. “Emang mas herjuno ga lihat gambar yang punya rumah ini, hati hati lho mas, nanti sampeyan kerepotan lho ngurus orang satu ini. Ternyata setelah saya perhatikan, di depan rumah sebelah kiri orang tersebut terdapat Torn air yang tinggi menjulang dan di bawah Torn tersebut  dibuat kerangkeng yang isinya burung oceh-ocehan. Mungkin kalau ditafsir begini ya, burung adalah simbol pikir, sedang air adalah nafsu keindahan. Burung yang dikerangkeng tersebut tidak bisa keluar ataupun tidak ada  burung dari luar yang bisa masuk. Artinya adalah orang ini berkarakter seperti katak dalam tempurung, baginya apa yang difikirkan itu selalu benar dan tak pernah mau menerima pemikiran orang lain, pandai memoles diri sehingga bila di depan saya suka berbicara yang manis-manis namun ternyata bila di belakang saya ,suka ngoceh tidak karuhan seperti burung kutilang yang dikerangkengnya. Waduh jadi curhat ya, sebetulnya ini bukan menilai negatif orang, namun hanya sebagi contoh ternyata untuk mengetahui kejiwaan individu ataupun kelompok itu sangatl mudah. Keadaan jiwa seseorang bisa dilihat dari, bentuk rumahnya, pagernya, cat temboknya, pusaka yang disimpannya, gambar-gambar dalam rumahnya, binatang peliharaanya, tanaman hiasnya, pakaiannya, kerling matanya dan masih banyak lagi.

3. Ngaji Alam

Mungkin ini termasuk dari ilmu Sastra Jendra Hayuningrat, Pak Dhe saya yang SD saja tidak tamat pandai sekali memprediksi kejadian-kejadian yang akan datang, dan kebanyakan tepat sekali. Beliau ini hanya membaca  fenomena alam  dan setelah melalui Teknik Pengolahan Data yang sangat njlimet akhirnya lahir pengetahuan-pengetahuan yang mencengangkan, dan mungkin seorang sarjana filsafat pun belum tentu bisa menandingi beliau.

Nah, mungkin kalau di antara sahabat-sahabat banyak yang warisan talenta gaibnya sedikit bisa belajar ngaji ciri dan ngaji alam ini, toh nanti hasilnya sama saja, yaitu menjadi manusia-manusia yang “WASPADENG SEMU”

& Komentar

  1. “sesungguhnya pandangan Allah ada pada kalbu” katanya… :cool:

    • haiyah, kemana aja kang, tiap hari aku mertamu sampeyane gak ono.

  2. Ki pernah dengar acara Ngaji Kuping?

    • Belum tuch, boleh dong diceritakan mas!
      wassalam

  3. pamuji rahayu..

    nuninjih Ki… seyogyanya kita lebih cenderung kehal yang sifatnya ngawulo pada Gusti dan alam ( mengerti dan melaksanakan apa yang diperintahkan ) .. dan sepertinya kurang pas kalo kita mengandalkan jaya kawijayan kanuragan dan kewaskitaan kita untuk tujuan bahwa diri kita mampu untuk menerawang, melihat dan membaca bathin orang dan memprediksi akan suatu kejadian masa datang dengan label mampu, kita lebih menekankan akan hidup yang mungpangat bagi alam sekitar dan sesama juga mahluk yang terlihat maupun tidak, juga benda hidup dan benda mati untuk bisa saling mengait dalam kebersamaan menuju jalan pepadhanging urip.., menjaga keseimbangan alam dan lebih membumi memeyuhayuning bawono, bagaimana kita agar saling keterkaitan dan saling membutuhkan satu sama lain, karena hidup kadang memerlukan hal yang sifatnya kurang mengena pada kita.., tapi itulah bagian dari hidup. merasakan dan nayuh bahasa alam atau bahasa Tuhan memang perlu keahlian dalam artian seringnya kita melatih kepekaan dan membangkitkan daya dalam diri kita.., sehingga hal terkecil dan terhalus sekalipun kita bisa merasakan.., itulah Ki… suatu pemberdayaan diri apabila kita mau mengerti akan apa yang telah diberikan Tuhan untuk kita.. apakah kita mampu membangkitkan atau hanya diam dalam kepasrahan dan berpedoman pada kalimat dogmatis…, tapi tentu saja tidak memaksakan diri .. nanging biarlah mengalir apa adanya tanpa keburu kesusu, karena semua berproses dengan berjalannya waktu …, hakekat pembangkitan akan kewaskitaan adalah tergantung dari cara mengolah sesuai apa yang panjenengan paparkan diatas, kecuali laduni ( tiban ) talenta dari sejak dalam kandungan.

    **** saya kutip juga pemaparan dari kadhang Sudrajat –
    Pada dasarnya..semua makhluk..adalah baik. Mereka , tidak bisa dikatakan jahat selamanya.. karena di dalam pribadi mereka..pasti terkandung/memiliki…esensi illahiah..hidup illahiah..berasal dari sang maha sumber Hidup/Urip/llahiah..yang pasti Suci.
    Mereka sedang menjalankan tugasnya / Evolusinya -> dengan demikian..( istilah menggoda ) bukanlah..kejahatan.., dipandang dari sudut mereka/Makhluk itu.
    Coba ..perhatikan dan hayati.., siapapun..dia/mereka/makhluk yang terlihat maupun tidak terlihat oleh panca indera , adalah juga saudara kita juga , karena bersumber..dari satu satunya Tuhan yang sama .
    Dengan beberapa pengertian./ pemahaman itu…, mungkin sebaiknya..(menuru pribadi ) :
    1. Sentuhlah,..esensi illahiah..mereka..yang juga kita punya. .., dengan memberikan simpati-empati – kasih sayang..serta mendoakan. à baik yang berwujud (manusia atau bukan ) atau yang tidak terlihat.
    2. Kalau mereka muncul di dalam Meditasi.., bilang : Aku di dalam tingkatan evolusi yang lebih tinggi dari pada kamu , kamu tidak bisa mengganggu aku. Aku bukan musuhmu.., damai damai damai.
    3. Berdoa.- setiap malam/pagi..berikan ..kirim kan getaran kasih .pancarkan dengan rasa kasih dan persaudaraan :
    - “ Semoga semua makhluk hidup – “terlihat maupun tidak terlihat “ bebas dari : penderitaan – permusuhan – kebencian dan diberikan terang. “
    - “ Semoga mereka hidup : rukun-tentram-damai-sejahtera dan bahagia “.

    mohon maaf Ki .. apabila pendapat saya melenceng dari topik.., mugya panjenengan wonten ing kahanan karaharjan kasugengan berkahing Gusti ingkang Welas Asih.., matur sembah nuwun,
    salam sihkatresnan
    rahayu.

  4. Nuwun Ki Hadi awit saking tambahan piwucal kautamanipun, nuwun sewu badhe nyuwun priksa, menapa tiyang ingkang luhur bebudenipun menika kedah kagungan kawaskitan lan sugih ngelmu gaib, Menapa menika syarat mutlak njih Ki.

  5. luar biasa sekali mas herjuno…sebuah artikel yg sangat mencerahkan, saya kok merasa harus banyak2 belajar dan ngaji tauhid ke panjenengan…hihihihihi…

    mnengenai waspadeng ing semu kok saya rasa agak susah diterapkan, misalnya begini….paling mudah adalah membedakan antara siang dan malam di luar ato di ruangan terbuka sedangkan waspadeng ing semu itu ibarat membedakan semut hitam diantara batu hitam di malam hari, ya tapi kalo bisa membedakan ini ya sudah hebat sekali tapi hanya untuk pribadi sendiri kalo diceritakan ke orang lain bisa diketawain, karena yg bisa melihat semut tsb adalah yg sudah waspadeng ing semu sedangkan orang lain kan tidak semua……kalo saya kok maap yah sedikit curhat biasanya dengan mengamati khususnya tetumbuhan itu mengeluarkan cahaya, hanya saja bagi yg percaya karena pada hakekatnya semua makhluk itu memancarkan cahayaNya…..segitu aja ki

    nuwun

  6. Hi hi hi, sugeng rawuh ki mas Tono ingkang wasis, jo ngalem-alem aku kang mengko ndak aku dadi kadi ngaleman. Ngomong2 soal kawaskithan, sebetulnya sampeyan itu juga sudah tingkat tinggi lho, sekelas Prabu Brama Kumbara Raja Madangkara itu, cuma keberaniannya belum cukup, buktinya mau posting “ngatemi” sampai sekarang ga jadi..
    salam hi hi hi

    • kalo ngatemi sudah 3 postingan kira2 mas…hihihihih…yg di mas lambang itu cuman gojegan biar rame…btw sebenarnya kita semua itu punya kawaskitan dan kawicaksanaan masing2 cuman apakah menyadari ato tidak….dan saya kira panjenengan juga punya itu bahkan mungkin diatas rata2 dialem sithik yo ra popo to kang tapi ya itu mungkin agak rancu juga dengan ilmu gothak gathik gathuk dadi mathuk banjur manthuk manthuk :mrgreen: ya contohnya yg seperti sampeyan sampaikan itu tentang ayat2 dan musibah….kalo saya sendiri ilmu gathuk tsb ya benar separo….lha separonya lagi hilang entah kemana hihihi….mungkin tidak selalu benar dan tidak selalu salah, harus ada kroscek dengan realitas yg ada…………monggo dipun lanjut….

  7. +++Ki sy baru dengar ngatemi, kira kira warung sebelah mana??
    ah enggak enak sama romo resi (bp Hadi Wirojati).
    +++ benar romo saya setuju semua mahluk itu dasarnya baik dan dari tuhan, tidak boleh dipandang sebelah mata,….
    +++mas tono yang ini benarnya berapa persen..
    sampun.. pareng benjeng dipun lanjut….rahayu

  8. Terimakasih atas artikelnya.Sangat bermanfaat sekali bagi saya…….

    Silahkan dibaca-baca mas, kalau sekiranya bermanfaat.

  9. podo ndelik…

    • aku yo ndelik kang…ngenteni sing duwe omah…..yo wis tak jawabe sisan ae….benere mung sekitar 60%an….aku ra wani ngomong 100%….masalah itung2ane kok iso 60% iki gur waton nebak wae…hihihi…..sedhantenipun namung kersanipun Gusti Sang Hyang Manon
      ===================================================

      Nuwun sewu, saya kemarin rada mriang, jadi ndak bisa kekantor. Maklum ga duwe leptop, jadi ya online nya di kantor aja. Mangga dilanjut!

  10. Sugeng dalu, sugeng wayah gondo yoni, mlebet wayah puspa tajem Ki….
    Mugi berkahing Gusti tansah kajiwo kasarira dumateng kita sedaya.

    Punika seratan ingkang pinunjul kebak seserepan, bab serat sastra jendra, kitab suci ingkang satuhu. Lah, ingkang awrat kadospundi jalmo menungsa saget maos kanthi permana lan terwaca. Sebab punika kalebet papan tanpa tulis, daluwang tanpa mangsi. Maosipun sanes ngagem paningal wadag utawi netra, nanging ngagem paningaling kalbu ing salebeting batin. Pramilo kedah nyinau lan nglantipaken “ngelmu titen”. Saha datan kendat ngasah rasajati sejatining rasa supados manggih makripating makripat.
    Ing pangajab saget dados jalma ingkang lantip, waskita lan linuwih. Sedaya punika saget dipun usadani soksinten kemawon ingkang kersa ngugemi NGELMU SUNGSANG BAWANA WALIK.

    sembah nuwun awit saking piwucal kautamaning batin punika
    salam kasugengan

  11. Matur sembah nuwun Ki, sampun kersa pinarak. Kala wau ndalu lha kula malah kejatah ronda siskamling dumugi subuh, nggih ngiras pantes kaliyan melekan.
    rahayu


Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal

Tinggalkan komentar