Aneh..!, dua kali sudah saya kehilangan artikel yang telah cape’-cape’ saya tulis dengan rapi.Keduanya raib begitu saja. Saya jadi berfikir, apakah perihal yang saya tulis itu memang belum waktunya untuk di babar. Ach kaya’nya terlalu berlebihan kalau saya punya pendapat seperti itu, karena isi dari artikel saya ini tidak terlalu rumit-rumit amat.Lagian yang saya tulis juga bukanlah sebuah ilmu gaib yang sinengker. Setelah saya melakukan kontemplasi beberapa hari, akhirnya jawaban itu muncul. Membuat tulisan ternyata bukanlah sekedar menorehkan ide-ide ataupun ispirasi ke gudang arsip blog. Namun ada sebuah tanggung jawab moral yang harus di pertanggung jawabkan. Sejauh mana isi tulisan itu dengan keadaan diri kita. Menurut saya ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk melahirkan sebuah tulisan, khususnya artikel yang berkaitan dengan religiusitas.
1. Fahamkah penulis dengan yang di tulisnya?
2. Sudahkah penulis mengalami sendiri tentang isi dari tulisannya?
3. Mampukah penulis melaksanakan tentang apa yang ditulisnya?
Mungkin ini suatu peringatan bagi saya, agar kedepan lebih berhati-hati dalam membuat tulisan.Karena semua ada pertanggung jawabannya. Tulisan bisa mempengaruhi orang lain, dan kalau ternyata tulisan kita jauh dari kebenaran, maka tak terbayang betapa kita telah menebar keburukan di muka bumi atau menjerumuskan orang lain. Intinya, bolehlah membuat tulisan atau artikel, namun harus melalui pendalaman, pembuktian dan pemahaman, bukan sekedar comot sana-sini. Itu setidak-tidaknya pesan untuk diri saya sendiri.Diam bukan berarti bodoh, dengan berlatih diam (meneng) akan menjadi hening dan melahirkan wening.


Anuuuu Ki
Sampean menulisnya, di pengolah kata seperti microsoft word dulu, nanti kalau sudah selesai menulis dan menyunting bisa disimpan ke hard disk dulu. Nah bila sudah manteb dengan tulisan yang dibuat bisa di copy paste ke editor nya wordpress. Di jamin lebih aman dari sengkala kehilangan posting bagus.
Sebenarnya ada beberapa software desktop untuk membantu nge blog di wordpress seperti windows live writer atau dari MS Word 2007 – 2010 sudah bisa buat posting ke wordpress secara online
Salam Taklim sangking karang padesan!
pengenya begitu mas jar, lha ning dua kali pikiran untuk kesitu ilang je.saya kalau nulis itu tiba-tiba, ndak pernah saya rencanakan lagian akhir2 ini link wordpress di kantor saya diblok sama admin. Tak pikir2 mungkin memang suruh diem dulu, he he…
Lha gimana sungai disana, kabarnya banyak ikan tidak? Nanti lebaran kok pengen mancing di kedung janggrung.
sekarang banyak udang dan wader, tapi ya entahlah, kalau aliran sungai berkurang biasanya banyak orang “ngobat” jadi ikan pada punah mati
wah, mudah2an ga ada yang ngobat, sehingga masih aga ikan besar, seperti lele, gabus, bader dll.Kesadaran warga terhadap lingkungan hidup harus lebih di galakkan.
wah nek aku gur iso point ke 1 wae kang…….sing ke 2 kadang2….sing ke 3 arang2….hihi….tapi yen kabeh kudu iso memenuhi 3 persyaratan mau….sajake sithik banget penulis sing nulis hal2 spiritual…..sing penting jare aku ben tidak ada kesan menggurui utawa keminter…….muwun
apa kabar Kangmas ngabehi dospundi kahananipun?
mbok ya ditulis ulang artikelnya……
tak tunggu kangmas………
salam pasedulurannnnnnnn,,,,,,,,,
kangmas ….sebenarnya yang paling berat malah yang terakhir ..“.Diam bukan berarti bodoh, dengan berlatih diam (meneng) akan menjadi hening dan melahirkan wening.“
kadang apa yang di tulis hanya ungkapan kekecewaan, marah, sedih dan rasa yang tersakiti, tapi benar juga mas… pas ada yang baca tulisan kita, banyak yang komen langsung ke hand phone menanyakan maksud dari tulisan itu sendiri ….
apalagi sekarang …. waaaahhhh diam karena marah akibat dusta ( waaahhh jadi curhat nih mas )
rahayu
/lu2
Mbak lulu..
Beginilah hidup ini…, selalu owah gingsir. Dari kecewa menjadi bahagia, dari bahagia menjadi sedih dan seterusnya. Tak ada yang kekal di dunia ini, semua datang dan pergi silih berganti..
injih kangmas ..
memang tidak ada yang kekal di dunia ini
dengan begitu tidak salah buat seseorang yang selalu menganggap RASA adalah mainan ya ….
hidup memang silih berganti , jadi dengan begitu, mungkinkah yang tersakiti bisa menjadi yang sedikit bisa merasakan bahagia , walau yang tersakiti itu harus kembali menata hati yang telah rapuh ….
rahayu
/lu2