Aku bertemu Guru dalam mimpi
Oleh Ngabehi K.M
Entah apa yang saya alami waktu itu, walaupun saya ini pernah mengenyam pendidikan yang notabene sekolah keagamaan, namun dihati ini tetap kering kerontang tak pernah mendapatkan kemantapan dalam menjalankan agama. Kejadian ini saya alami bertahun-tahun. Kondisi ini selalu saya diskusikan dengan sahabat saya , yang ternyata juga merasakan seperti apa yang saya rasakan.Akhirnya entah bagaimana awalnya saya mulai menemukan sesuatu yang saya cari-cari selama ini.Filsafat..ya filsafat. Hari demi hari saya lewati bersama sahabat saya ini dengan selalu berdiskusi tentang filsafat. Namun ada perbedaan pada kami berdua, yaitu waktu itu saya masih tetap menjalankan syariat Islam seperti biasa sementara temen saya dengan tegas menolaknya.Jujur aja waktu itu kami merasa seperti orang yang paling tau tentang pemahaman terhadap agama.Hingga saya pernah berkata kepada seorang teman, bahwa saya mau belajar kepada seseorang, bila orang itu mampu memberikan argumen yang tepat dan mampu membuktikan kebenaran tentang apa yang diajarkannya itu (bukan hanya cerita atau dogma).Seperti dalam kisah saja hingga suatu malam terjadilah sesuatu yang sangat berarti dalam kehidupan saya.Waktu itu saya bermimpi dengan jelas, bersama sahabat saya seperti yang saya ceritakan di atas, waktu itu kami seperti tengah menempuh perjalanan kesuatu tempat.Tiba-tiba perjalanan kami terhenti, karena di depan kami terhalang sungai yang amat deras arusnya, lebih mengerikan lagi sungai itu jauh di bawah sana, mungkin ada ratusan meter dari tepi kami berdua berdiri.Namun waktu itu sahabat saya tetap memaksa menyeberangi sungai itu walau sangat besar resikonya.Sungguh yang saya rasakan itu seperti kejadian nyata, waktu itu saya melihat teman saya turun ke bawah dengan merayap pelan-pelan.Karena tak punya pilihan lain sayapun mengikutinya, saya merasakan ketakutan yang amat sangat.Sayapun melihat batu kecil yang menjadi tempat kaki saya berpijak itu berguguran ke bawah.Nah pada saat yang kritis itulah tiba-tiba dari bawah saya melihat wanita yang berteriak2 mengingatkan supaya saya tidak nekat turun kebawah.Saya pun berhenti merayap, namun saya lihat sahabat saya tetap ngotot untuk menuruni jurang itu,Ditengah keraguan saya tiba-tiba ada suara yang memanggil saya.”Mas jangan lewat situ sangat berbahaya!lewat sini saja dijamin aman dan pasti cepat sampai.Begitu saya menoleh kekanan ternyata diatas sungai itu telah tehampar jembatan yang amat bagus dan lebar, dan disana saya lihat ada sesorang Laki-laki berdiri dengan tersenyum sangat ramah, orang itu mengenakan kaos putih yang agak lusuh dengan setelan celana jeans telor asin, saya melihat juga dilehernya melingkar sebuah kalung.Saya pun mengikutinya, dengan ramah dia menggandeng saya meniti jembatan itu, dan tak lama kamipun sampai di seberang kali.Dan Subhanallah ternyata di ujung perjalan mimpi saya tersebut saya menyaksikan pemandangan yang sangat indah sekali.Setelah dua minggu dari mimpi saya tersebut, saya bertemu salah satu teman waktu kami masih kecil, saya menceritakan mimpi saya tersebut. Temen saya hanya bisa menjawab” saat ini saya punya kelompok pengajian , mungkin kamu bisa menanyakan mimpimu itu pada guru ngaji saya.Sesuai waktu yang dijanjikan sayapun bertandang ketempat pengajian temen saya, Dan “Allhuakbar”, guru ngaji temen saya ini ternyata laki-laki yang saya lihat dalam mimpi saya, perawakan, baju, celana, kalung, persis seperti yang terlihat dalam mimpi saya.Dan ternyata seiring dengan perjalanan waktu, beliaulah ternyata Guru yang selama ini saya idam-idamkan, akhirnya belajarlah saya dengan beliau tentang agama sampai sekarang ini.Ya Allah Maha Suci Engkau yang telah menuntunku dari lembah kegelapan.

itulah yang disebut mimpi yang benar mas yang merupakan 1/40 bagian dari kenabian….
bersyukur mas karena mas sudah mendekati dan terhimpun dalam gelombang serta pusaran yang maha kuasa Allah SWT..
banyak pengalaman rohani yang tiap orangnya akan berbeda beda walau satu guru ngaji atau bahkan satu bacaan wirid yang sama…
blog yang menarik mas, penuh kesedrhanaan tapi dari sini mungkin akan tercapai kemuliaan
Komentar oleh yayat hendrayana — Januari25, 2008 @ 1:10 am
Rahayu… ,
Salam Penuh Kebahagiaan… ,
Kulanuwun, ndherek pasang iklan… , hehehe… .
Para kadang sekaliyan, saudara Herjuna, saudara Hidayat, dan saudara2 lainnya yang telah mengenal saya di seblog Gantharwa, saya mengundang panjenengan sedanten untuk berkunjung ke weblog saya di = http://ciwabuddha.wordpress.com.
Disana mungkin kita bisa lebih saling mengenal, karena disana saya juga menerangkan siapa diri saya ini, serta silsilah saya dari Sunan Kalidjaga, Paku Buwana IX, dan Hamengku Buwana I, semua saya uraikan dengan cukup lengkap ( dengan keterbatasan wahana tentunya, sehingga sebatas itu yang bisa diungkap ). Bersumber dari silsilah yang ada pada saya dan saya jaga, yang telah diresmikan, terutama oleh pemerintah, dan juga pemerintah Hindia Belanda waktu itu.
Disana ada halaman tempat ngangsu kaweruh Jawa-Kejawen, Buddha-Dharma.
Nanti juga akan saya tambahkan ‘pengalaman spiritual’, termasuk pengalaman saya ketika pada usia 5 tahun bersamadhi dan mendapatkan KERIS PANEMBAHAN SENAPATI yang datang menancap ke lantai di depan saya samadhi. Sekarang keris itu masih saya simpan, saya jamasi, saya beri warangka emas.
Dulu juga saya punya keris KYAI SENGKELAT, tapi disimpan oleh Ketua HPK seluruh Indonesia pada tahun 1994.
Kiranya cukup sekian. Mohon dipenuhi undangan saya ini, untuk mempererat tali persaudaraan kita, untuk lebih saling mengenal, dan untuk melanjutkan diskusi dengan lebih gayeng… .Jangan lupa, : http ://ciwabuddha.wordpress.com lho… .
Rahayu…
Semoga Semua Makhluk berbahagia… .
Salam-Damai dan Penuh-Cinta-Kasih… .
Komentar oleh Siwa Buddha — Juni28, 2008 @ 9:18 am
Seuseut batan neureuy keueus.= susah sekali…betulkah itu mimpi ataukah pertanda memang hidup ini susah ditebak
Komentar oleh mahesa — Oktober20, 2008 @ 9:23 am
HIDUP bekerja dalam peristiwa2 kebetulan
Ndilalah kersaning Allah
Komentar oleh tomy — Desember15, 2008 @ 1:39 am
Assalamu laikum sidang pembaca.
Karena adanya kalung dan ending mimpinya sepertiitu. maka dapat kusimpulkan itu hanya
bunga tidur. Bagi mereka yang tidak puas boleh menghubungi saya di 081260784699.
Wassalam
Komentar oleh drh.Burhanuddin Nasution — Maret6, 2009 @ 7:17 am
wa’alaikum salam pak Burhan.
saudara waskita sekali sehingga tau ternyata mimpi tersebut cuma bunga tidur.Berarti saudara juga tau kalung yang dipakai guru saya tersebut. Saya tunggu jawabannya.
Komentar oleh Ngabehi K.M — Maret6, 2009 @ 7:54 am
@ Drh.B.Nasution
Jangan sembarangan jika menilai sesuatu,apalagi masalah mimpi,ga bisa seenak udelnya begitu, dalam menilai mimpi seseorang,seharusnya sedikit banyak jika hendak mengomentari mimpi dan pengalaman batin seseorang itu yah ada baiknya kita juga harsunya bisa menghayati ulang dahulu pengalaman orang itu.Jika belum bisa,enggak pantas untuk ikut turut campur menilai benar salahnya sebuah pengalaman atau mimpi.
Ini bukan di tanah barbar,jadi baiknya dipakai itu tatakrama bergaul supaya ga terkesan ceroboh dan bertingkah sembarangan.
===================================================
Biarkan saja Mas Aji, mungkin beliau ini baru turun gunung, jadi ya wajar lah….
Komentar oleh Surya Gumilang Aji Darma — Maret8, 2009 @ 9:24 pm
Salam kenal saya kira itu suatu petunjuk hendaknya mas selalu bersukur atas semua ini,kalau ndak keberatan mas ketemu guru di mana (pengajian apa) salam kadaryono
Komentar oleh Daryono — Maret29, 2009 @ 9:16 am
Mana nich cambungan celita tentang mimpinya?
Bica nggak aku, aku ikutan belgulu?
Komentar oleh olang awam — Mei27, 2009 @ 8:26 pm
Masya Allah, mimpi mas Ngabehi sepertinya ada kemiripan dengan mimpi saya th. 2001. Cuma mimpi mas Ngabehi langsung mendapat jawabannya.
Dalam mimpi saya, saya tinggal di sebuah rumah yg indah mirip istana dan juga punya beberapa istri dan pembantu. Di depan rumah ada taman yg indah. Di ujung taman itu ada jurang yang sangat dalam dan juga ada jembatan menuju gunung di seberang jurang. Dalam mimpi itu hati saya tertarik dan selalu penasaran dengan isi jurang yg sangat ramai, hiruk pikuk kehidupan dan sangat indah. Tapi didalamnya ada seekor ular besar yg sangat ditakuti oleh semua penghuni jurang. Sedang jembatan diatasnya selalu diselimuti kabut tipis sehingga terkesan basah dan licin. Aku tidak berani masuk jurang itu meskipun tertarik dan juga belum berani menyeberangi jembatan yg berselimut kabut karena takut terpeleset jatuh ke jurang.
Dalam dalam perjalanan hidupku hingga hari ini saya belum menemukan jawaban atas segala unek-unek batin saya. Beberapa kali bertemu dengan orang “pintar” secara spiritual dan olah batin tapi belum mnenemukan jawaban yg memuaskan. Misalnya saya dengan seorang teman berkunjung dengan seorang tokoh spiritual lalu kami mengutarakan maksud kami tapi kenyataannya selalu teman saya yang di beri wejangan macam2 sedang saya sepertinya selalu dihindari. Entah ada apa dalam diri saya. Sampai hari ini saya masih “sabar ” menemukan air kehidupan yg akan melepaskan dahaga saya.
Tentang filasafat memang bagi yg tidak kuat secara spiritual sebaiknya dihindari kerena terbukti banyak yg malah mengingkari keberadaan Tuhan padahal tujuan awalnya mencari Tuhan.
===============================================
Sebaiknya memang Mas8nur tak perlu melihat jurang itu, tapi langsung menyebrangi jembatan di atas jurang itu. Mas8nur takut menyebrang sebetulnya bukan karena takut jembatan yang licin, tapi masih sayang dengan istri2 yang cantik dan taman yang indah tadi, ha ha. cuma becanda lho mas
Komentar oleh mas8nur — Juni4, 2009 @ 1:14 pm
Lha terus pripun….pengin raosipun manah, madhep mantep ngolah rasa lan meguru. Nyuwun pandonganipun mas Ngabehi nggih.
Komentar oleh masnur — Juni5, 2009 @ 6:55 am
nuwun sewu, penjenengan menika sampun krama menapa dereng? menawi dereng , menika rak gegambaran ingkang nyata, menawi tiyang2 ingkang sampun mbangun bale wisma menika raosipun langkung awrat menawi nedya ngupadi kasampurnan, langkung kathah reridhunipun, benten kaliyan tetiyang ingkang maksih legan,bebasan ombo jangkahe , banter playune lan jembar kalangane. mbok menawi mekaten masnur, nuwun sewu menika namung pemanggehipun tiyang cubluk kemawon.
wassalam
Komentar oleh Ngabehi — Juni5, 2009 @ 7:08 am
Dear mas Behi
Kulanuwun …
Mas Behi, saya tertarik dengan kalimat anda dibawah ini :
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ijin memberi komentar ya mas
. Namun saya [modifikasi] persempit menjadi : antara MENIKAH dan SELIBAT ( jadi bukan seorang yang LEGAN karena belum menikah, tapi karena memang berikrar tidak menikah ).
Jadi, komentar saya ini tidak spesifik mengomentari komentar mas Behi, hanya bersangkut-paut dengan komentar mas Behi diatas, dan terutama juga berhubungan dengan artikel terbaru yang saya tulis di blog saya.
Boten punapa-punapa to mas ?
Mas Behi, mengenai kedua hal tersebut diatas , masing-masing ada plus-minusnya.. .
1. MENIKAH, berat , karena memikirkan kebutuhan rumah-tangga. Karena itu memang seperti yang mas Behi utarakan, sudah pasti dan sudah jelas, akan lebih ’susah’ menempuh kehidupan spiritual ( sebab kehidupan spiritual itu “masuk-kedalam” diri sendiri, dalam kesendirian, tidak “keluar” ), meskipun tentunya tetap masih bisa ( walau akan terus-menerus sering terganggu oleh hiruk-pikuk duniawi, tinggal bagaimana seorang perumah-tangga bisa mengatasi dan mensiasatinya ).
Tapi menikah itu ENAK, karena mempunyai hiburan, misal tawa-riang / keceriaan anak-anak, dan yang terutama… BELAI-MESRA istri tercinta, seperti tulisan mas BEHI terbaru (tembang SINOM) , dan berbagai komentar mas Behi disana ( tentang “greng”-nya dengan istri, dll
).
2.SELIBAT, itu TIDAK-ENAK, karena seorang yang selibat bertempur mati-matian dengan nafsu-indriya-nya. Seseorang yang selibat :
1. TIDAK boleh melalukan MASTURBASI. Jika melakukan, maka ia telah terkalahkan, dan itu merupakan buah-karma-buruk bagi seseorang yang sudah berikrar.
2. TIDAK boleh mempunyai pikiran dan berbagai bentuk-bentuk batin yang mentoleransi bagi tumbuhnya nafsu.
3. TIDAK berucap yang mengandung nafsu-keindriyaan.
Jadi seorang yang selibat berbeda dengan seorang perumah-tangga yang masih memperkenankan hal-hal tersebut diatas.
Seorang yang selibat juga sangat tidak-enak, sebab, seperti lagu dangdud tempo-doeloe :
SEPI, SUNYI, itu tidak-enaknya.
Tapi, SELIBAT itu ENAK ; bagi yang sudah “bersinergi” dengan kehidupan selibatnya, dia tidak akan merasakan hal2 seperti ini lagi, karena dia justru menemukan kebahagiaan yang sangat dalam dari kesendiriannya itu, kebahagiaan dari keSUNYIan.
Disinilah, ia kemudian bisa masuk lebih dalam dan lebih dalam lagi ke kehidupan spiritual, hingga pada akhirnya sampai pada yang terdalam dari spiritualitas tersebut.
Apalagi bagi seseorang yang menempuh Jalan-Buddha, akan semakin menemukan makna dari keSUNYAan, sebab justru disitulah inti dari Buddha-Dhamma ; pelepasan-agung
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Nyuwun sewu, mas Ngabehi, jika agak Out Of Topic (OOT) … Tapi sepertinya juga cukup significant dengan tema halaman ini, “Perjalanan-Rohani”.
Semoga bermanfaat dan berkenan di hati..
Peace & Love, to All, especially mas Behi
Komentar oleh ratanakumaro — Juni5, 2009 @ 7:48 am
wah…maturnuwun sekali Mas Ratya, penjelasannya sangat gamblang sekali. Mungkin maksud saya seperti yang penjenengan tulis itu, tapi berhubung keterbatasan saya , sehingga hanya bisa bikin sedikit coretan tadi.Semoga yang dituliksan njenengan itu makin berguna untuk perjalanan Mas Nur mengenai mimpinya.Mas… sampeyan kalu nulis komentar disini kok agak takut2 to? emangya saya galak ya ha ha, santai mawon mas.
Komentar oleh Ngabehi — Juni5, 2009 @ 8:12 am
Dear mas Behi
Nggak takut2, biasa saja kok mas Behi
Peace & Love, mas Behi
Komentar oleh ratanakumaro — Juni5, 2009 @ 8:56 am
Hebat sekali pemikir-pemikir muda kita ini. Ki Ngabehi dan begawan Mas Ratana, keduanya menampilkan sisi yg berbeda namun saling melengkapi. Kita tahu, di dunia ini serba berpasangan, ada siang -malam, panas dingin, kuat lemah, baik buruk, laki perempuan, sebagaimana prinsip Yin Yang, sebagai hukum atau kodrat alam. sekali lagi KODRAT ALAM. Menikah menurut saya pribadi bagaikan BARTER dengan masa lajang. Ada pengorbanan baru, ada pula penghargaan/anugrah/nikmat baru. Masa lajang ada pula pengorbanan dan ada pula kenikmatannya. Keduanya merupakan “lakuning ngaurip” yg bisa berat dirasa, bisa juga dirasakan ringan tergantung prinsip dan perspektif masing-masing orang.
Ada “tamsil” yg mengatakan, hidup adalah pengorbanan. namun ada pula yg bilang, hidup adalah rahmat dan anugrah Tuhan. Nah masing-masing, yakni SELIBAT dan MENIKAH merupakan bentuk pengorbanan untuk meraih tataran kemuliaan dan anugrah hidup yg lebih tinggi. Tetapi, masing-masing juga sebagai upaya meraih kemuliaan/rahmat dan kenikmatan hidup dalam bentuk yg berbeda jalan yg ditempuhnya. Keduanya sama-sama bertujuan meraih anugrah dan kemuliaan hidup. Dengan kata lain, jalan boleh berbeda, pengorbanan juga berbeda, namun hakekat tetaplah sama. Kita sadari banyak sekali ragam syariat di dunia ini, meskipun berjuta ragamnya, namun tetap saja, ada nilai universal yang tdklah berbeda. Hanya saja kadang manusia terjadi berselisih faham karena beda syariat. Padahal hal itu terjadi hanya karena masing-masing belum menuntaskan tugasnya dalam menelusuri makna hakekat di balik beragamnya syariat (sembah raga).
Mohon maaf bila penjelasannya mungkin terasa OOT juga, tetap peace..!!
salam asah asih asuh
===========================================
Betul sekali Ki, dalam suatu pernikahan banyak sekali hikmah2 ataupun pengetahuan yang kita dapatkan, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Karena dalam pernikahan kita berangkat dari dua insan yang berbeda jenis, yang tentu saja banyak perbedaan baik sifat, pola fikir, nalar dsb.Nah di sini kita dituntut untuk saling bisa menundukkan ego masing2, tidak boleh nggolek butuhe dewe, menange dewe dan benere dewe.Keluarga adalah gambaran suatu negara, dimana seorang suami berperan sebagai raja yang harus bisa memimpin negerinya.Dari uraian di atas kita bisa mengira-ngira, betapa rumitnya sebuah keluarga, banyak permasalahan yang datang dari istri, anak, mertua, orang tua dan sebagainya. Nah bisa kita bayangkan alangkah hebatnya bila seorang suami ataupun seorang istri yang sudah begitu repot menghadapi tetek bengek permasalahan kelurga, tetapi masih mampu untuk berjuang mengenal diri dan tuhannya, berjuang memayu hayuning bawana alit ageng.Namun merupakan anugrah bagi seorang bujangan yang permasalahannya belum se kompleks orang yang telah berumah tangga, akan tetapi telah memperoleh kesadaran untuk berjuang menggapai spiritualitas demi kebahagiaan dirinya duni akhirat.Maaf Ki Ini hanya celotehan orang yang suka ngelamun aja, bukan sabda pujangga atau waskita.Maturnuwun atas kunjungannya.
rahayu
Komentar oleh sabdalangit — Juni5, 2009 @ 12:24 pm
Hmmmh napas panjang…………………..membaca penjelasan-penjelasan tokoh spiritual di atas.
@mas Ngabehi:
Waktu mimpi itu masih lajang mas, tapi sekarang sudah digondeli 2 anak je…………….. tapi tak menyurutkan ku untuk mencari jati diri. Insya Allah ada jalan, meskipun sudah meikah dan tantangan menjadi lebih berat.
Mungkin perbandingan di bawah ini bisa jadi cerminan saya pribadi:
“Mulia mana seorang santri yang berdzikir khusuk di dalam masjid dengan seorang pengembara yang berzikir ditengah pasar sedangkan ia sambil belanja sesuatu.”
Salam sejahtera dan rahmat Allah untuk kita semua. Amiin.
==============================================
lah ini perumpamaan masnur malah bagus sekali, ya begitulah makin berat beban hidup ini, jika kita mampu menyelesaikannya dengan baik plus kita tetap ngudi kasampurnaning ngaurip, menurut saya maqomnya lebih tinggi. Selamat berjuang Mas..
Komentar oleh mas8nur — Juni5, 2009 @ 6:56 pm
Dear mas 8Nur, mas Sabda, dan mas Behi.
Tergantung tujuannya.
Jika yang dituju adalah TUHAN dan SURGA , maka tidak perlu melepaskan keduniawian.
Tidak perlu berdzikir khusyuk di masjid dan tidak menikah ; tetap berkeluarga seperti mas Behi dan mas 8Nur, mas Sabda dan lain2nya, ya tetap bisa masuk surga dan menuju Tuhan. Jalannya ya seperti yang dijalani mas 8Nur, mas Sabda, dan mas Behi.
Tapi jika yang dituju adalah NIRVANA, maka mutlak harus melepaskan keduniawian,
Ini memang hal yang susah dipahami. Sebab selama ini orang keliru pemahaman, menyamakan NIRVANA dengan SURGA tempat Tuhan berada.
Perbedaan mendasar ini pula yang menyebabkan mengapa para suciwan Buddhis melepaskan keduniawian, sedangkan para rohaniwan non-Buddhis masih mentoleransi keindriyaan dan pemuasannya.
Saya ada diskusi menarik dengan mas Zal,
Silakan mas Behi, mas 8Nur dan mas Sabda kunjungi ini :
http://ratnakumara.wordpress.com/2009/05/26/nafsu-indriya-penghalang-yang-harus-dilenyapkan/#comment-973
Peace & Love, May All Beings Be Happy and Free from Suffering
May All Beings Attain Enlightenmet
Komentar oleh ratanakumaro — Juni8, 2009 @ 2:37 am