Latest Entries »

IMG01786-20141019-0533 IMG01787-20141019-0533 IMG01788-20141019-0534 IMG01789-20141019-0550 IMG01790-20141019-0550 IMG01791-20141019-0551 IMG01792-20141019-0551 IMG01793-20141019-0608 IMG01794-20141019-0608 IMG01795-20141019-0609

Ilmu Petung Jawa

Salah satu ilmu tinggalan leluhur yang terlihat sederhana namun sebetulnya mengandung manfaat yang luas adalah ilmu petung jawa. Saya yakin ilmu ini terlahir melalui olah spritual yang cukup berat dan digabungkan dengan ilmu titen yang lazim dipegang teguh para leluhur jawa masa lampau.

Melalu ilmu ini kita dapat mengetahui karakter orang, peruntungan, kelemahan, mencari hari baik, melacak pencurian, pengobatan dan masih banyak lagi. Namun seperti apa yang telah disabdakan  para leluhur agung, bahwa ada ungkapan bijaksana yang berbunyi “Ngelmu iku kelokone kanthi laku”  , untuk menguasai ilmu ini tidaklah cukup membaca dan mengerti secara teoritis, ada laku (tarekat) khusus atau tertentu  yang harus dikerjakan terlebih dulu.

Seorang sahabat saya pernah berguru secara langsung untuk mendalami ilmu ini, namun sayang, belum sampai selesai (katam) sang Guru telah berpulang keharibaan Tuhan. Walau begitu, di mata saya beliau sudah tergolong waskita dalam membaca fenomena alam, politik, ekonomi, karakter manusia dll.

 

 

Wedhus

Dulu ketika masih duduk dibangku SMP saya punya kewajiban khusus dari orang tua yang harus saya kerjakan. Setiap pulang sekolah, sehabis makan saya harus ngangon (menggembala ) wedhus-wedhus (kambing) saya. Diantara kambing-kambing saya yang tidak sampai sepuluh ekor itu, diantaranya terdapat kambing jantan, saya kasih nama si Bandot. Bulunya hitam legam, badannya besar dan tanduknya runcing-runcing. Saya sering dibuat jengkel karena ulahnya, dalam perjalanan ke hutan dia selalu saja bikin ulah, yang ngangkroki (menaikI) kambing-kambing betina lah, makanin (nyebruti) tanaman dikanan-kiri jalan dan sebagainya.Lebih menjengkelkan lagi kalau sudah sampai di padang rumput, dia tidak aring (tekun memakan rumput), kerjanya malah nyrudukin kambing-kambing kepunyaan penggembala lain, (tak heran kalau saya sering di komplain oleh penggembala lain akibat kelakuannya), atau embak –embik (mengembik)sambil kaki depannya gedruk-gedruk ke tanah nyari perhatian kambing betina.Asal tau saja kalau ada kambing jantan penggembala lain mencoba mendekat karena tertarik dengan kambing betina saya atau sekedar ingin ikut makan rumput disitu, pasti akan dihajar habis-habisan oleh siBandot. Sekarang ini, kalau saya inget si Bandot saya suka ketawa sendiri, kok kelakuan si Bandot itu mirip saya ya ha ha ha, kalau istilah anak sekarang “gue banget gicu loh”.
Menjelang hari raya Idul Adha harga kambing-kambing jantan kian mahal, di perjalanan berangkat ke kantor tadi saya melihat banyak kambing-kambing jantan di cencang dipinggir jalan. Saya jadi teringat si Bandot, entah tahun kapan dia disembelih untuk kurban. Saya pernah diberi tahu sama Pak Ustad sebelah rumah, kata beliau barang siapa mau berkorban paling tidak seekor kambing pahalanya besar sekali, bahkan sampai bulu-bulunya dicatat sebagai pahala, maksudnya mungkin siapapun yang berani ikhlas berkorban dalam hidupnya segala aktivitas hidupnya akan bernilai menjadi ibadah.”Makanya mas, kita harus rajin-rajin menabung supaya kita bisa berkurban paling tidak sekali seumur hidup” kata beliau. Sayapun manggut-manggut, entah itu tanda setuju atau bingung.
Suatu senja disebuah pinggir jalan di kawasan cililitan saya terlibat diskusi (sebetulnya hanya ngobrol ngalor ngidul, supaya agak kelihatan keren dikit lah) yang agak serius dengan pak tua penjual tanaman. Entah siapa yang memulai tiba-tiba obrolan kami sampai pada topic masalah kurban.”Ngomong-ngomong babe tahun ini kurban tidak, saya menggodanya”. Yach mas orang kaya saya ini buat makan sehari-hari saja susah kok mau kurban, kalau kurban perasaaan mah sering mas.”Emang ada be kurban perasaan, setahu saya kurban itu ya motong kambing atau yang lainnya”sergah saya. ”Loh itu kan kalau mampu mas, bagi kita yang ndak mampu secara materi ya harus berusaha memotong perasaan-perasaan yang tidak baik dalam diri kita, wedhus-wedhus yang mas gendong kemana-mana itu harus di bunuh, baru mas dikatakan menjadi orang yang ikhlas dan beriman.”Maksud babe saya ini kaya’ wedhus gitu? kata saya sambil bersungut-sungut.”Bukan begitu mas, maksud saya pada dasarnya setiap manusia itu ya mempunyai kesifatan seperti kambing, mau menangnya sendiri,membesarkan urusan birahi, rebutan kekuasaan, makanan dan lan-lain, tak jarang kan banyak penggede-penggede kelas nasional bahkan kelas dunia yang jatuh terjerembah akibat masalah perempuan.Jadi pendeknya orang dikatakan ikhlas kalau sudah bisa mengalahkan wedhus-wedhus dalam diri tadi mas. ”Hmmm ada benernya juga lho be’ pendapat sampeyan”kata saya. “Mangga kersa mas, menurut saya sesuatu dikatakan benar atau salah, pas atau tidak, begini dan begitu, itu kan tergantung cara menerima, memahami dan menafsirkanya.
Disela-sela obrolan kami tiba-tiba sebuah motor oleng tersrempet metromini yang sedang melaju kencang, sangking jengkelnya sang biker berteriak memaki” dasar wedhusss.

Beringin Kembar Alun-Alun Kidul

Beringin Kembar Alun-Alun Kidul

Hari lebaran kedua kami sempatkan sekeluarga bertamasya ke Keraton Ngayugyokarto Hadiningrat.Tak lupa kami juga berkunjung ke alun –alun kidul dengan pohon beringin kembarnya yang sangat terkenal karena menyimpan segudang misteri. Mungkin tutur tinular yang menceritakan kemisteriusan tempat tersebut telah sering kita dengar, namun saya ingin menceritakan pengalaman saya yang mungkin ada sedikit manfaatnya. Pukul 17:00 kami tiba di lokasi, dan saya lihat ratusan orang telah memadati tempat tersebut untuk mencoba tradisi masangin, yakni berjalan dengan mata tertutup dan berusaha untuk melewati kedua pohon tersebut. Konon siapapun yang berniat sambil mengucapkan hajatnya di dalam hati dan kemudian berhasil melewati kedua pohon tersebut , itu pertanda hajatnya akan terkabul.
Semula saya tidak begitu percaya dengan cerita yang sudah sering saya dengar berkaitan dengan kedua pohon ini, namun setelah menyaksikan sendiri betapa banyak orang yang akhirnya kebingungan tak mampu melewati kedua pohon tersebut, hilanglah semua keragu-raguan saya. Banyak diantara peserta masangin akhirnya hanya berputar-putar tak tentu arah, bahkan ada diantara mereka malah berputar 180 derajat kearah Siti Hinggil, padahal saya melihat sendiri jarak yang mereka ambil relative sangat dekat. Seorang sahabat saya yang sedari tadi sangat bernafsu untuk mencoba keangkeran tempat ini segera menyambar kain penutup mata yang banyak disewakan di tempat tersebut.Samar-samar saya sempat mendengarkan ucapan beliau yang terkesan tidak percaya dan bahkan meremehkan. Aneh bin ajaib, baru tiga langkah ia berjalan tiba-tiba tubuhnya berputar 180 derajat ke arah Siti Hinggil,seperti ada kekuatan tak kasat mata yang menuntunnya untuk menjauhi kedua pohon tersebut. Akhirnya setelah mengulangi sampai tiga kali tidak berhasil juga, kawan saya ini menyerah juga. Setelah itu giliran adik saya, dengan langkah pelan namun pasti dia berhasil melewati kedua pohon ini persis digaris tengahnya. Giliran selanjutnya adalah saudara sepupu saya, dengan langkah cepat, mantab dan bahkan setengah berlari beliau berhasil melampaui ujian dengan hitungan waktu yang amat singkat. Akhirnya jatuhlah pada giliran saya, berbagai perasaan berkecamuk di hati saya waktu itu, antara rasa yang belum begitu percaya, malu kalau tidak berhasil, takut kalau nanti menubruk orang atau tembok dan akhirnya jadi bahan tertawaan orang-orang di sekeliling dan lain-lain. Cukup lama saya bernegosiasi dengan diri sendiri, namun akhirnya saya mendapat jawaban, apapun hasilnya, apapun kejadiannya saya harus ikhlas menerimanya. Ada kejadian yang tidak pernah saya sangka-sangka, ketika kain penutup mata telah terpasang tiba-tiba tempat tersebut menjadi sunyi senyap, bahkan saya tak yakin lagi dengan arah badan saya yang sebelumya telah saya pastikan menghadap persis diantara kedua pohon beringin tersebut.Akhirnya dengan kepasrahan saya melangkahkan kaki saya sedikit demi sedikit, Alhamdulillah sayapun berhasil melampauinya.
Setelah kami berkumpul, Mbah Parjan sing mbaureksa pohon tersebut membeberkan hikmah dari acara yang baru saja kami selesaikan.”Kurang lebih kata-kata beliau begini; Si adik ini mempunyai hati yang bersih selalu berfikiran baik dan punya cita-cita meluhurkan orang tua semampunya, sambil tangan beliau menunjuk adik saya. Kalau Mase ini, mempunyai keteguhan hati yang luar biasa tidak takut resiko atas keputusan yang telah diambil seperti layaknya Bimasena dan akan mampu menjadi pengayom bagi orang di sekelilingnya, sambil tangannya menepuk –nepuk kaki kakak sepupu saya yang sekarang ini menjadi seorang pengusaha.Kepada sahabat saya yang tidak berhasil beliau berkata; dalam kehidupan ini terkadang banyak pernak pernik kehidupan yang seolah-olah terlihat kecil dan remeh, namun bila kita salah menyikapinya akan berakibat fatal bagi diri kita dan sekeliling. Selalu berfikiran baik dan tidak gemar menyepelekan sesuatu yang kita belum memahaminya itu jauh lebih baik.Mungkin dari seorang Mbah Parjan yang sederhana itu saya bisa menyimpulkan, untuk bisa melewati dan menjalani kehidupan yang penuh misteri ini, hanya berbekal kepasrahan, kebersihan hati, keteguhan hati dan fikiran, sikap eling lan waspada, tidak adigang adigung adiguna, kita akan mampu melewatinya. Ketidaktahuan, kebodohan,cita-cita, misteri hidup hanya bisa ditembus dengan hal-hal di atas.Kedua beringin kembar adalah mata, jarak diantaranya adalah hidung, start adalah kepasrahan, keteguhan hati, kesucian hati dan lain-lain, maka tersingkaplah kebebalan yang menutupi hati ini sedikit demi sedikit.Manjing merem lan meneng, mandeng pucuking grana kanthi ati kang eling , suci lan awas, ngupadi ilham saka Gusti Kang Maha Suci.

Wong jowo memperlakukan alam ini seperti saudaranya sendiri, dia harus disapa lembut, disayang, diberi makan dan sebagainya. Bagi orang jawa alam tak ubahnya seperti makhluk hidup lainnya, seperti halnya manusia, binatang dan sebagainya. Alam yang saya maksud di sini adalah segala bagian bumi dan langit yang tampak seolah-olah benda mati, contohnya ; sungai, gunung, hutan, laut dsb.
Saya ini orang puritan, yang terlahir di daerah terpencil di salah satu pelosok daerah Istimewa Yogyakarta, adoh ratu cerak watu, wong nggunung onang-anung pakanane sega jagung awan bengi mung nganggo sarung tur omahe cerak lurung. Pada waktu saya masih kecil, agama bagi kami bukanlah hal yang penting, bagi kami yang terpenting adalah bagaimana bisa terus bertahan untuk hidup yakni dengan berupaya menaklukan alam Gunungkidul yang terkenal tandus dan susah air.Agama bagi kami hanyalah sebagai pelengkap identitas yang tertera pada KTP, sedangkan praktek-praktek ritual keagamaan paling hanya bersifat tahunan, dari kenyataan itulah mungkin kami termasuk sebutan wong abangan.
Namun dibalik itu semua, kami sangat menjunjung rasa kemanusiaan, kami juga menjaga keharmonisan yang erat dengan alam. Bagi kami alam tak ubahnya seperti teman sendiri yang harus dijaga, dipelihara dan dihormati, karena bila alam lestari pasti akan memberikan berkah kepada kita, namun bila kita berbuat sebaliknya, maka malapetakalah yang akan datang. Masih tergambar jelas dalam ingatan, ketika ada hajatan warga atau desa, banyak tempat-tempat yang kita anggap angker selalu diberikan sesaji. Biasanya tempat-tempat yang diberi sesaji adalah, sumur tua yang mengandung mata air, pohon-pohon tua yang menjulang tinggi, hutan, sungai-sungai dsb. Kami tahu dan kami sadar, mereka tidak membutuhkan itu semua, juga jin peri prayangngan yang bersemayam dimana-mana tidak akan menyantapnya, toh akhirnya yang memakan sesaji adalah Mbah Jurukunci, warga sekitar atau orang yang sedang lewat. Kami hanya membangun kekramatan dan nuansa angker, sehingga orang-orang jahilpun akan berfikir dua kali untuk merusak tempat-tempat yang menjadi sumber hajat hidup orang banyak.
Namun kini jaman telah berubah, di desa dan di kota kehidupan orang begitu agamis dan religius. Banyak tempat ibadah di bangun, mesjid, gereja, klenteng dan sebagainya banyak yang berdiri dengan megahnya. Orang yang masih suka sesajen dibilang musrik, orang yang ngadain slametan nujuh bulan, tedhak siti dll, disebut bid’ah, orang yang mempercayai tanda-tanda alam disebut tahayul, khurafat dll. Sesajen, petung, slametan dll adalah kepercayaan yang kolot, ortodok dan perlu dibrantas karena akan menjadikan parasit-parasit keimanan. Pendek kata orang saling berlomba untuk beragama secara kaffah dan lurus.
Saya yang notabene hanyalah orang abangan ini menjadi heran, ketika jaman telah dikatakan makin modern dan orang-orang makin agamis kenapa yang terjadi malah sebaliknya. Kini orang-orang sudah mengabaikan norma-norma dan nilai-nilai hidup yang diajarkan leluhur,sekarang orang-orang gampang sekali menyakiti sesamanya, kini orang makin gampang membunuh, memperkosa dan lain sebagainya.Banyak sekali anak muda yang meninggalkan sopan santun tata krama, sifat andhap asor dll, tempat-tempat yang dulu dianggap angker atau keramat, kini tiada ditakuti lagi. Dahulu sungai yang banyak mengandung ikan telah disulap menjadi persawahan, pohon-pohon tua yang banyak menampung serapan air ditebang, hutan-hutan dijarah rayah sehingga menjadi gundul bak lapangan golf.Akibatnya mata air makin susah, udara menjadi panas sehingga iklim mulai kacau.Sebenarnya, siapakah yang bertanggung jawab terhadap semua ini, salahkah ajaranya atau manusianyalah yang salah memaknai sebuah agama. Benarkah keyakinan yang dianggap kuno, kolot, ortodok lebih buruk dibandingkan dengan keyakinan atau agama –agama yang baru?Saya rasa semua berpulang kembali kepada diri masing-masing untuk saling belajar memaknai dan ngonceki rasa, roso-rasane dhewe-dhewe.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 35 pengikut lainnya