Pertengahan tahun 2007 kemarin, kami bersama temen-temen sekantor jalan-jalan ke Kraton Jogjakarta.Berjalan-jalan di komplek tersebut serasa jiwa saya tersedot jauh masuk kealam masa lalu, ya..seperti hidup pada ratusan tahun yang lalu.Ada yang menarik perhatian saya, yaitu para abdi dalem.Mereka ada yang duduk-duduk bergerombol sambil menghisap rokok kretek, namun juga ada yang duduk dengan antusias di pojok sebuah ruangan dan siap melayani berbagai pertanyaan dari wisatawan.Seorang kakek berumur kira-kira 70 an, berpakaian jawa peranakan lengkap dengan sebilah keris terselip di pinggangnya.” Sugeng siang mbah” saya menyapanya.” Sugeng siang ugi nak, mangga-mangga nak” jawabnya dengan ramah dan ketinggalan juga acungan jempol beliau yang ditopang dengan tapak tangan kirinya untuk mempersilahkan saya.Kamipun terlibat pembicaraan yang amat panjang, mulai dari cerita-cerita pusaka kraton, sisilah, sejarah berdirinya kraton, tentang raja dan lain-lain.Namun hanya satu yang begitu membekas di hati saya, menurut mereka profesi abdi dalem bukanlah sarana untuk mencari rupiah, namun lebih cenderung mencari ketenangan bathin.Karena kalu di itung2 , sebagai Abdi dalem gaji mereka tak cukup untuk membeli rokok, sungguh aneh .Kok bisa ya , jaman sekarang kan apa-apa serba duit.Namun semua ini kenyataan, ya……kesederhanaan dan kesahajaan yang diperankan oleh para abdi dalem ini pantes kita tiru.Selesai mengobrol saya meneruskan perjalanan saya untuk menyusuri sudut-sudut kraton. Pohon-pohon sawo kecik, pasir halus, pohon beringin, pohon tanjung serasa menciptakan suasana sendiri-sendiri. Kadang suasana terasa sejuk segar, namun kadang terasa angker dan mistis.Sayup-sayup saya mendengar alunan tembang dandhang gula yang ditembangkan oleh seorang kakek disebuah ruangan yang cukup besar lengkap dengan asap dupa yang mengepul dan sajian bunga-bungaan.Tembang itu begitu nikmat di telinga saya, mengingatkan saya kepada bapak yang suka rengeng-rengeng waktu malam menjelang.Demikianlah kunjunganku ke kraton akhirnya saya tutup dengan mengunjungi moseum kereta, entah karena melihat sesajen bunga-bungaan atau tidak cocok dengan hawa di tempat itu, tiba-tiba perut saya seperti di aduk-aduk , mual dan sebagainya. Akhirnya daripada nanti aku muntah di tempat itu, segera saya lari keluar moseum dan selanjutnya kembali ke mobil, di mana teman2ku ternyata telah pada berkumpul menunggu.