Saudara-saudara yang budiman ijinkan saya nggedabul lagi….

Assalamualaikum

Entah kenapa tiba-tiba gairah untuk bikin coret-coretan kambuh lagi.Sering ku dengar orang bercerita tentang masa lalu ataupun masa depan(masa yang akan datang). Ada yang terhantui , ada yang ketakutan, membeci ada juga yang biasa-biasa saja.Masa lalu yang pahit kadang seperti momok yang menakutkan, bahkan tidak sedikit yang trauma untuk mengingatnya.

Bukankah masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang sebenarnya adalah satu dan tak terpisahkan?Adanya kita sekarang ini karena adanya masa lalu dan adanya hari esok karena adanya masa sekarang ini, kenapa harus gundah?Membenci masa lalu yang pahit dan tak mau mengingatnya adalah perbuatan tinggal glanggang colong playu.Masa lalu sebetulnya bisa dijadikan kaca benggala dalam hidup ini supaya kita tidak jatuh di lubang yang sama.Tindakan yang tepat adalah tidak hanyut dan tidak terbenam dalam nostalgila yang pahit maupun yang manis.

Hidup kita ya sekarang ini, sambutlah dengan bahagia apapun keadaanya, mau hidup mlarat, belum laku nikah, belum punya2 anak, dipinggirkan orang, itulah kasunyatan yang harus ditelan. saya yakin kalu dikorek2 dibalik semua itu ada kebahagiaan yang hakiki.Berusaha berontak dari kenyataan hanya akan membuat hati gundah dan kecewa, hidup jadi tak nyaman seperti di neraka.Terlalu memikirkan masa yang akan datang hanya akan mendapati ketakutan, membuat batin keruh dan akhirnya berbuah perbuatan ngawur.Lihatlah para koruptor itu, sebetulnya perbuatan mereka adalah buah dari kebencian mereka terhadap masa lalu dan ketakutanya tehadap masa depan, sehingga masa sekarang diisinya dengan aji mumpung(mumpung saiki aku lagi…, saiki tak ngene, besuk ben ngono kae).Lalu apakah orang tak boleh berencana? ya..ya…, tentu saja boleh dong, tapiii tidak usah berlebihan.Bukankah ketika ditanya orang kita selalu tangkas menjawab” yang ane takuti hanya Gusti Allah”Bukankan Tuhan itu maha segala2nya aliyas Tan Kena kinaya Ngapa”

Jabatan, Titel, uang yang bergepok-gepok, mobil mewah, istri yang semok dan semlohe, bahkan badan ini semua hanya barang pinjaman, kelak kalu sudah diminta yang Empunya kita tinggal mringis menunggu buah nasib perbuatan alias ngunduh wohing pakarti.Yang tinggal cuma namanya, mau harum atau bacin.Mepersiapkan harta yang banyak, pendidikan yang tinggi, kekuasaan, tanpa dibarengi pengetahuan tentang budi pekerti yang luhur untuk anak cucu, bukanlah jaminan keslamatan mereka, bisa2 malah jadi malapetaka.Tinggalilah anak cucu dengan pengetahuan tentang kebenaran, tentang budi pekerti yang luhur dll.

Meminjam istilah keluarga Gantharwa, amalkanlah konsep “Tamburo Maninten”supaya hidup ini tidak gamang dan gampang terombang ambing oleh badai kehidupan.Ketika Arjuna stess berat karena tidak bisa mengalahkan Buto Cakil cs, Ki Semar menasehati”Tanyalah dirimu sendiri Den”karena disana pasti ada jawabnya.Meminjam istilah Kanjeng Siti Jenar, bahwasannya di dalam diri seseorang mau itu bregajulan, orang alim, raja, kere onyik dll, terdapat sang ingsun sejati yang tak pernah bohong, bersikap tegas dan tak kenal kompromi.Karena sang insun sejati ini hanya taat dan tunduk kepada Sang Sejatining Insun.

Sebagai penutup, ringkasnya masa lalu dan hari esuk adalah hari sekarang ini, sampai dimanakah ketenangan kita , kenerimoan kita menerima kasunyatan kehidupan.Keikhlasan adalah buah yang baik dari masa lalu, dan ketenangan, ketentraman adalah benih yang bagus untuk masa depan. Sekiranya banyak kata yang kurang berkenan mohon maaf yang sebesar2nya.

Rahayu, rahayu nir ing sambekala, satuhu

Wassalam