Archive for Oktober, 2008


Siapa mengharap imbalan uang
Demi ilmu yang ditulisnya
Ia hanya memuaskan diri sendiri
Dan berpura-pura tahu segala hal
Seperti bangau di sungai
Diam, bermenung tanpa gerak.
Pandangnya tajam, pura-pura suci
Di hadapan mangsanya ikan-ikan
Ibarat telur, dari luar kelihatan putih
Namun isinya berwarna kuning

Tulisan di atas adalah terjemahan suluk wujil bait ketujuh.Maaf saya tidak bermaksud suka protes atau meng-kritik, tapi ini merupakan fenomena yang terjadi dinegara kita bahkan mungkin dunia.Bait ini lebih condong menyoroti siapapun anda yang merasa atau memproklamirkan diri sebagai pejalan, pencari spiritual atau kaum rohaniawan. Tolok ukur kebahagiaan seorang rohaniawan, kyai, ulama, pandita dll adalah bukan uang, tapi sejauh mana mereka bisa membawa orang lain terbebas dari penderitaan bathin akibat fatamorgana dunia dan kembali kepada Gusti Allah.

Suluk diatas masih sangat relevan dengan jaman sekarang ini, Bahkan kalau saya yang bilang mungkin amat sangat relevan.Lihatlah saudara, lihatlah dengan mata yang jernih, kebanyakan para rohaniawan zaman ini telah lupa akan kesejatian tugasnya, jubah ruhani mereka tanggalkan, kebahagiaan mereka ukur dengan gemerlapnya dunia, mas picis raja brana.Siapa yang menukar kawruh dengan imbalan harta , sesungguhnya ia hanya memuaskan ego, dan perbuatan amal saleh yang dianggapnya selama ini ternyata hanya kekosongan.

Falsafah manuk kuntul (burung bangau) memang jumbuh dengan kenyataan.Bila dilihat sekilas, burung bangau memang menakjubkan. Dia begitu hebat, kakinya yang panjang menambah wibawanya, bulunya yang putih bersih memperlihatkan karismanya, dan sikapnya yang tenang seolah menunjukan kedalaman ilmunya(memang saudara2 manuk kuntul sekarang ilmunya hebat2 dan penampilanya juga meyakinkan).

Namun ternyata saudara2 semua itu hanyalah tipuan semata, semua itu hanya kemuna……yang dibungkus rapi.Burung burung itu pura pura tau dalam segala hal padahal bila ditanya ternyata hanya katanya (kalu tidak percaya coba deh tanya ama burung2 itu, he he he).Bersikap serba wibawa, tenang, tajam padahal sebetulnya ia hanya membangun kesan supaya terlihat arif dan bijaksana.Dengan cara cara yang dikemas sedemikian rupa, ia caplok mangsa mangsanya dengan serakah seoalah tanpa dosa (kasihan deh lo ikan ikan dungu), sayang ikan ikan itu tak sadar bahwa didepan sang bangau mereka itu hanyalah mangsa untuk kemakmuranya.Inilah saudara kebusukan si burung kuntul, yang kelihatan putih bulunya tapi tenyata merah dagingnya. Ratu Wahdat benar inilah jaman burung bangau, mereka berkeliaran di tengah kota dengan menawarkan surga, surga yang didalamnya banyak bidadari2 seperti kemauan mereka.Lebih baik jadi burung perkutut, walaupun sederhana wujudnya tapi banyak yang suka bahkan sang rajapun berkenan memelihara dan mau mendengarkan keindahan suaranya.

Maaf saya tidak mengarang, saya hanya mencoba menafsirkan isi kidung diatas.

Iklan

“Misterius” bagian II(Tamat)

Lanjutan Misterius bagian I

……Mendengar perintah tersebut saya segera masuk kedalam rumah.Pertama-tama yang saya ambil adalah kaos kemudian beberapa potong kue yang ada dimeja.Ketika giliran tangan ini mau merogoh dompet, sang otak saya bermain.Dengan gaya bahasa yang lihai dia berkata:’he he yang bener aja kamu, masa’ orang gila mau dikasih duit, paling2 Cuma dia buang.”Eh bener juga ya, ada pihak lain yang membenarkanya. Akhirnya saya memutuskan mengikuti perintah tersebut, yaitu tidak memberikan uang.

Dengan menenteng sepotong kaos dan beberapa potong kue saya melangkah keluar untuk menemui orang gila tersebut.E e e iki piye to, barusan tadi duduk di bawah lampu penerangan jalan, sekarang tau-tau sudah duduk di depan warung sebelah kiri rumah saya.Emang aneh nich orang.Hi hi hi, sampai di luar pager saya jadi geli sendiri, karena Pak Marman dan Pak RT yang heboh sedari tadi karena kehadiran orgil ini, ternyata mereka tidak berani mendekat, mereka berdua berdiri agak jauh dan tak henti2nya mereka ngrasani orang itu .Dengan penuh keyakinan dan niat rasa ingin membantu, pelan-pelan saya dekati orang gila itu.Waktu itu dia dalam posisi jongkok menghadap ke utara dan jari jemari tanganya tak henti2nya bergerak seperti sedang memutar biji-biji tasbih.

“Assalamualaikum ki!sapa saya

“Walaikum salam”,jawab orgil itu.

“Sudah makan ki, lapar ya, kedinginan ya? Tanya saya

“Iya mbah, sahutnya (saya jadi geli, mungkin karena waktu itu saya masih lengkap memakai baju kebesaran saya)

“ Ini ada sedikit makanan ki dan sepotong baju”

“O ya trimakasih mbah, rokok2 ada ga?

Heran, sebelum menyantap makanan dari saya , dia dengan nikmatnya merokok, setelah itu kaos yang saya berikan juga dipakainya, setelah itu barulah kue –kue itu disantapnya. Yang mengherankan lagi orang gila kok memakai bajunya juga benar, tau mana yang diluar dan di dalam, tau mana yang diposisi depan atau belakang.Sambil mengamati tingkah laku orang itu, saya bergeser menjauh.Barulah setelah itu teman2 saya baik pak marman dan pak RT berani mendekat. Samar2 pak marman mulai mencari informasi dari orgil tersebut, beliau menanyakan tentang posisi, asal, syarat untuk mengambil, hari baik, laku untuk kepentingan keberadaan pusaka yang diyakininya. Aneh orang itu menjawab dengan lancarnya, dia menerangkan asal muasal, syarat yang harus dipenuhi, fungsi barang itu dll dengan gamblang sekali.Giliran Pak RT yang memberondong pertanyaan, tapi saya tidak begitu memperhatikanya, yang jelas beliau kemudian pulang sebentar dan kembali dengan membawa nasi dan lauk pauk serta uang senilai Rp. 5000 dan kemudian diserahkan kepada orang itu.

Setelah orang2 sudah puas dengan penrtanyaan masing-masing, saya mendekat lagi.

“Ki nanti kalu mau tidur silahkan di pos jaga itu, saya sudah ngantuk mau tidur, adakah pesen buat saya???

“ ada ada, sahutnya, yaitu air, air, air, dia mengulangi kata itu sampai tiga kali.”Apa lagi ki? Tanya saya.

“sandal”? kata dia, Oh kalu yang itu saya tak punya ki, coba tak tanya sama yang lain ada tidak yang mau ngasih. Aneh diantara orang 2 yang ada tak satupun yang mau memberikan sandalnya.

Begitulah pengalaman malam itu, akhirnya karena sudah ngantuk saya mohon diri untuk pulang dan kemudian tidur.Paginya , saya mendengar dari pak RT dan pak marman, orang gila itu pergi selang setengah jam setelah saya masuk rumah dan tidak meninggalakan pesan apa-apa lagi.Namun saya yakin banyak tamsil, seloka atau sasmita dari peristiwa itu. Silahkan para pembaca yang budiman menafsirkannya sendiri-sendiri.

Mijil

Mijil Pangeling-eling


Waspadakna anggamu sireki

(Perhatikanlah dengan jelas dirimu sendiri)

Jo nganti kagodha

(Jangan sampai tergoda)

Iblis setan sakwadya balane

(Iblis Syetan dan Bala tentaranya)

Sesotya laku hening lan eling

(Hiasilah dirimu dengan jalan hening dan eling)

Mrih sentosa dhiri

(Supaya Hidup ini selamat)

Slamet ing bebendu

(Dan selamat dari berbagai bencana)


Mangayom marang Gusti Sejati

(Berlindunglah pada Tuhan yang sejati)

Dudu mung pulasan

(Tidak sekedar semu atau munafik)

Pindha manuk kuntul bebasane

(Ibarat burung bangau yang luarnya putih bersih namun dalamnya merah)

Tan jumbuh lair tulusing batin

(Tidak sama antara lahir dan bathinnya)

Olah rasa  yekti

(Maka bersungguh-sungguhla mengolah rasa)

Tumrape wong luhur

(Begitulah tanda-tanda orang yang berbudi luhur)

Dibulan Syawal ini, perkenankan saya sebagai pemilik rumah yang sederhana ini mengucapkan minal aidin walfaizdin mohon maaf lahir dan bathin. Walaupun sebenarnya saling maaf memaafkan harus kita lakukan setiap hari. Kepada Mas Siliwangi, Mas Hidayat, Mas Ratya, Mas Hendrayana, Mas Triyoga dll yang tidak saya tulis disini, saya mohon maaf yang sedalam-dalamnya. Mungkin selama kita berdiskusi di gubug ini terkadang ada kata-kata yang terlontar dengan sengaja maupun tidak sengaja sehingga melukai bathin saudara2 sekali lagi mohon dimaafkan setulus-tulusnya. Saya juga mohon maaf mungkin selama gubuk saya ini tak tinggal mudik,  ternyata banyak saudara2ku yang bertamu dan tentu saja saya tidak menyambutnya.Semua itu karena keterbatasan, dikampung saya tidak membawa laptop karena memang tidak punya he he.Baru hari ini saya masuk kerja dan akhirnya saya ucapkan selamat berjumpa lagi, marilah kita teruskan obrolan2 kita.Jujur saat ini keadaan batin masih agak berantakan, bayangin aja begitu banyak peristiwa yang saya alami selama lebaran, yaitu mudik, macet, ketemu orang tua, ketemu sahabat lama, anak ngajak ini dan itu, istri minta di ajak jalan2 dan masih banyak lagi seabrek peristiwa yang bertumpuk di ruang bathin. Mungkin hari2 sekarang ini lebih bagus dipergunakan untuk kembali menjernihkan fikiran supaya tenang kembali. Akhirnya saya mengucapkan selamat bertebaran kembali di muka bumi untuk memenuhi tugasnya sendiri2.