Lanjutan Misterius bagian I

……Mendengar perintah tersebut saya segera masuk kedalam rumah.Pertama-tama yang saya ambil adalah kaos kemudian beberapa potong kue yang ada dimeja.Ketika giliran tangan ini mau merogoh dompet, sang otak saya bermain.Dengan gaya bahasa yang lihai dia berkata:’he he yang bener aja kamu, masa’ orang gila mau dikasih duit, paling2 Cuma dia buang.”Eh bener juga ya, ada pihak lain yang membenarkanya. Akhirnya saya memutuskan mengikuti perintah tersebut, yaitu tidak memberikan uang.

Dengan menenteng sepotong kaos dan beberapa potong kue saya melangkah keluar untuk menemui orang gila tersebut.E e e iki piye to, barusan tadi duduk di bawah lampu penerangan jalan, sekarang tau-tau sudah duduk di depan warung sebelah kiri rumah saya.Emang aneh nich orang.Hi hi hi, sampai di luar pager saya jadi geli sendiri, karena Pak Marman dan Pak RT yang heboh sedari tadi karena kehadiran orgil ini, ternyata mereka tidak berani mendekat, mereka berdua berdiri agak jauh dan tak henti2nya mereka ngrasani orang itu .Dengan penuh keyakinan dan niat rasa ingin membantu, pelan-pelan saya dekati orang gila itu.Waktu itu dia dalam posisi jongkok menghadap ke utara dan jari jemari tanganya tak henti2nya bergerak seperti sedang memutar biji-biji tasbih.

“Assalamualaikum ki!sapa saya

“Walaikum salam”,jawab orgil itu.

“Sudah makan ki, lapar ya, kedinginan ya? Tanya saya

“Iya mbah, sahutnya (saya jadi geli, mungkin karena waktu itu saya masih lengkap memakai baju kebesaran saya)

“ Ini ada sedikit makanan ki dan sepotong baju”

“O ya trimakasih mbah, rokok2 ada ga?

Heran, sebelum menyantap makanan dari saya , dia dengan nikmatnya merokok, setelah itu kaos yang saya berikan juga dipakainya, setelah itu barulah kue –kue itu disantapnya. Yang mengherankan lagi orang gila kok memakai bajunya juga benar, tau mana yang diluar dan di dalam, tau mana yang diposisi depan atau belakang.Sambil mengamati tingkah laku orang itu, saya bergeser menjauh.Barulah setelah itu teman2 saya baik pak marman dan pak RT berani mendekat. Samar2 pak marman mulai mencari informasi dari orgil tersebut, beliau menanyakan tentang posisi, asal, syarat untuk mengambil, hari baik, laku untuk kepentingan keberadaan pusaka yang diyakininya. Aneh orang itu menjawab dengan lancarnya, dia menerangkan asal muasal, syarat yang harus dipenuhi, fungsi barang itu dll dengan gamblang sekali.Giliran Pak RT yang memberondong pertanyaan, tapi saya tidak begitu memperhatikanya, yang jelas beliau kemudian pulang sebentar dan kembali dengan membawa nasi dan lauk pauk serta uang senilai Rp. 5000 dan kemudian diserahkan kepada orang itu.

Setelah orang2 sudah puas dengan penrtanyaan masing-masing, saya mendekat lagi.

“Ki nanti kalu mau tidur silahkan di pos jaga itu, saya sudah ngantuk mau tidur, adakah pesen buat saya???

“ ada ada, sahutnya, yaitu air, air, air, dia mengulangi kata itu sampai tiga kali.”Apa lagi ki? Tanya saya.

“sandal”? kata dia, Oh kalu yang itu saya tak punya ki, coba tak tanya sama yang lain ada tidak yang mau ngasih. Aneh diantara orang 2 yang ada tak satupun yang mau memberikan sandalnya.

Begitulah pengalaman malam itu, akhirnya karena sudah ngantuk saya mohon diri untuk pulang dan kemudian tidur.Paginya , saya mendengar dari pak RT dan pak marman, orang gila itu pergi selang setengah jam setelah saya masuk rumah dan tidak meninggalakan pesan apa-apa lagi.Namun saya yakin banyak tamsil, seloka atau sasmita dari peristiwa itu. Silahkan para pembaca yang budiman menafsirkannya sendiri-sendiri.