Kira kira dua bulan yang lalu saya mendapat hadiah dari teman saya. Sebuah buku yang sudah tampak kumal dan usang karangan bapak Syamsul Alam diterbitkan tahun 1981. Buku tersebut mengupas tentang semedhi dan kejawen.Salah satu yang menarik bagi saya di dalam buku tersebut terdapat judul yaitu ” Orang Jawa Hilang Jawanya”. Dan pendapat beliau saya tulis di bawah ini.

” Sebelum kita menyelami judul di atas, sebaiknya kita ungkapkan dulu arti kata-katanya. yang dimaksud dengan “orang jawa” adalah suku jawa. Jadi bukan suku Ambon, suku Batak, suku Dayak dan sebagainya. Sedangkan yang dimaksud dengan “hilang jawanya” bukan dalam arti hilang tanda tanda jasmani suku jawanya, misalnya telah menjadi keturunan orang arab, orang negro atau orang belanda. Hilang jawanya adalah hilang sifat sifat jawanya, jadi menyangkut lingkunan alam fikiran dan alam hati.

Timbullah pertanyaan, sifat sifat jawa itu yang bagaimana? Jawabannya sungguh tidak mudah. Untuk menyederhanakan uraian marilah kita ikuti gambaran di bawah ini:

*) Adaikata Mahapatih Gajah Mada dari kerajaan Majapahit sebagai leluhur Suku Jawa diminta turun dari alam sana, lalu diajukan pertanyaan: ” Wahai Sang Mahapatih! Apakah Panembahan Senopati di Kerjaan Mataram masih termasuk utuh kejawennya?”Besar kemungkinan Sang Mahapatih akan mengalami kesulitan untuk menjawabnya.

*) Demikian pula jika Panembahan Senopati dimohon turun dari “alam sana” untuk dimintai keterangan: “Wahai sang Panembahan!Apakah Presiden Soeharto sesepuh bangsa indonesia masih termasuk utuh Kejawennya?” Panembahan Senopati juga tentu akan repot mencari Jawabannya.

*). Selanjutnya jika kita tanya kepada Presiden Soeharto”Wahai Bapak Soeharto! Apakah para pelajar dan mahasiswa suku jawa masa kini masih utuh kejawennya!.Beliau pasti akan kesulitan memberikan jawaban yang benar. Bahkan mungkin akan disambut dengan senyum yang mengandung seribu satu kemungkinan.

Aba sebab sangat sukar untuk menjawab pertanyaan itu? Sebabnya karena: Standard atau ukuran atau kaidah atau norma untuk mengatakan “inilah sifat kejawen murni, utuh dan segar” sama sekali tidak ada!.

Andaikata saya membuat standar bahwa “Orang Kejawen yang asli, murni dan utuh itu jika dapat melakukan laku dhodhok, menyembah dan sungkem”, anda yang bukan kerabat keraton dan merasa benar benar seorang jawa asli, tentu akan mengatakan: ” Hai, nanti dulu……..

Sebaliknya jika anda berkata, bahwa orang yang masih asli dan utuh Kejawennya adalah orang yang halus budi bahasanya, sabar dan belas kasih terhadap sesamanya, maka saya dapat menyela dengan pertanyaan:” Apakah orang orang negro di Amerika Serikat sana tidak ada yang halus budi bahasanya, sabar dan belas kasih terhadap sesamanya?.”

Orang lain dapat membuat patokan:”Dikatakan masih uth kejawen seseorang jika ia memiliki keris pusaka, teratur membakar kemenyan dan menyediakan sesaji untuk pusakanya itu, tahan lapar dan kurang tidurnya”. Alasanya para leluhur kita dahulu berbuat demikian. Menghadapi patokan demikian, orang lain dapat mempertanyakan:” Bukankah leluhur kita yang menjalankan agama Buddha secara murni dan konskwen, oleh sebab konskwennya itu beliau tidak membakar kemenyan dan sesaji untuk benda benda pusaka, apakah tidak utuh Kejawennya?.” Sebagai kita ketahui orang berfaham buddha yang tulus dan utuh menjalankan ajaran Sang Buddha Gautama, pasti melipatgandakan kerelaannya untuk melepaskan tali tali keduniawian. Tentu mereka berusaha untuk mengosongkan hatinya dari hubungan hubungan dengan isi benda benda pusaka.

Dengan merenungkan gambaran gambaran tersebut di atas, kita menjadi mengetahui bahwa jika kita membicarakan mengenai sifat sifat jawa atu Kejawen, kita perlu menguraikan persoalannya menjadi 3 atau 4 atau 5 perincian. Jelasnya begini ;

*). Ada hubungan:, 1. Orangnya, 2. Sifat sifatnya, 3. Kebudayaanya, 4. Agamanya,Yaitu keempat empatnya merupakan kepribadiannya.

*). Ada Hubungan:, !. Orangnya, 2. Sifat sifatnya, 3. Kebudayaanya, 4. Agamnya, 5. Cita citanya. Yaitu kelima limanya merupakan kepribadiannya.

Kiranya tidaklah sulit untuk menerima standard hipotesis atu norma teoretis, bahwa orang jawa yang utuh kejawennya jika ia memiliki kelima macam unsur tersebut, dalam arti serba baik keadaanya.

Jika kebudayaan, agama dan cita-citanya negatif, sukar untuk menamakan orang itu masih utuh Kejawennya.

Sampailah kita pada menjawab pertanyaan: Orang jawa yang hilang sifat jawanya itu yang bagaiman? Sekarang pertanyaan itu makin jelas duduk persoalannya. Sebab jika orang Jawa tidak memiliki kebudayaan yang sesuai dengan agama yang dianutnya, dan tidak memiliki cita cita yang selaras dengan agama dan kebudayaanya, orang ini telah kehilangan Kejawennya.

Mengapa kebudayaan disangkutpautkan dengan agama?

Kebudayaaan orang Jawa zaman dahulu, ketika masyarakat umumnya masih menganut faham hindu, kebudayaan jawa waktu itu tersusun, tumbuh dan dijiwai oleh alam fikiran dan alam hati penganut penganut faham hindu itu.

Ketika faham Buddha masuk dan berkembang, kebudayaan lam terpengaruh dan mengalami perubahan yang berasal dari alam hati dan alam fikiran penganut penganut faham Buddha. Bahakan disana sini terjadi kebudayaan campuran Hindu dan Buddha.

Ketika Islam masuk dan meluas keseluruh penjuru, kebudayaan lama juga mengalami perubahan perubahan, penambahan dan pengurangan, bahkan penghapusan sesuai dengan alam hati dan alam fikiran para penganut islam itu.

Pada masa kini dan yang akan datang, ilmu dan tehnologi yang berasal dari dunia barat, sangat mempengaruhi corak dan isi kebudayaan tersebut, bahkan tidak sedikit yang porak poranda karenanya. Yang dimaksud dengan  ilmu dari barat adalah, termasuk di dalamnya ilmu ilmu sosial dan filsafat.Amat terang dan jelaslah bahwa Agama, ilmu dan Tehnologi yang menjadi isi dari alam hati dan alm fikiran orang Jawa, terus menerus memberi pengaruh dan mengakibatkan perubahan pada sifat jawanya orang Jawa; Pada Kejawennya Orang Jawa!!

Memang sesungguhnya yang dimaksud dengan Kejawen adalah alam hati dan alam fikiran orang jawa umumnya yang mengolah gagasan gagasan dan pengalaman pengalaman yang berasal dari agamanya, ilmunya dan teknologinya.

karena itu jika kita membicarakan masalah kejawen, kita seharusnya jangan lupa untuk mempertimbangkan zaman kejadiannya serta tempat peristiwanya.

Kejawen di Surakarta pada era Sinuwun Paku Buwana ke X adalh kejawen yang feodalistis dan mistis. Pada Masa itu, Kejawen di lingkungan pesantren Gontor tidak Feodalistis dan Mistis, melainkan bersifat islam. Pada saat yang sama, kKejawen di wilayah masyarakat Samin ( Randublatung) sama sekali tidak feodalistis, tidak mistis dan tidak islam, melainkan bersifat Buddha.