Archive for Desember, 2008


Serat Kalasasra

Amenangi jaman kala sasra
Datan ana jalma kang tata
Kebo tumindak adigang adigung adiguna
Dene semut tan eling marang rupanira
Mula Gusti paring kala sasra

Pancen punika sampun pinesthi
Saking kersanipun Hyang Widhi
Supados jalmo datan lali
Marang sangkan paraning dumadi
Mugya tansah mulat sarira, hangrasa wani

Ing jaman puniki katanda sengkalan
Sad sirna pati ing sungu
Nuswantara kathah layon agung.
Prasasat gajah lan semut pejah amblasah.
Awit klimput-luput ing marga
Puguh mbeguguk kaya angguk mring Hyang Manon

Hurip ing jaman kala sasra aja pegat ing kaprayitnan
Lakonono urip laku tama
Mangsah gesang ulama , satriya ,raja utawa kawula
Lumaku ing marga titis datan owah gingsir
Mangayom marang Gusti Allah kang sanyata

Bakal sirep kala sasra punika
Menawi samangke sang maeso sami Silo
Semut alit ugi sami ngererepa
Nuswantara gemah ripah karta raharja
Awit Gusti nglumunturaken samodra pangaksama

Mimpi Si Ngabehi

Suatu malam di lereng Gunung Muria, udara sangat dingin menggigit tulang. Namun semua itu tak mempengaruhi kekhusyukan para pemuda yang hebat hebat ini,  yang rata rata mempunyai daya linuwih di atas orang awam pada umumnya. Ternyata di malam yang dingin itu tengah diadakan sarasehan dari para pendekar spiritual kelas wahid. Mereka tengah memperbincangkan tentang nasib nusantara ke depan.

Hadir pada malam hari itu ialah Upasaka Ratana Kumaro, Seorang Pandhita muda yang berlatar keilmuan Budhisme.Walaupun masih muda belia, beliau ini telah banyak memiliki pengetahuan yang tinggi. Tentang karma, reinkarnasi, samadhi, hukum alam dan sebagainya dialah pakarnya.Tak ketinggalan hadir pula Ki Sabda Langit, lelaki tampan  dari Ngayugyakarta Hadiningrat ini tak diragukan lagi tentang ilmu kejawennya.Beliau ini sudah cukup kenyang makan pahit manisnya kehidupan. Berbagai pengalaman ruhani sering beliau alami karena perjuangan hidupnya yang selalu diisi oleh tindak hambeg nggayuh kautaman lan kejaten.Hadir pula salah satu sesepuh Gantharwa (dari Kejawen juga) Ki Nata Warga.Beliau ini seorang intelektual muda sekaligus pembimbing spiritual yang cukup disegani.Sahabat2 yang dibimbingnya sangat banyak sekali, dari pengalaman saya ketika bertemu beliau, saya menangkap beliau ini sangat mengerti sekali tentang dunia pedhanyangan tanah jawa.

Hadir pula seorang sakti yang selalu kocak dengan pernyataannya,beliaulah  Mas Hidayat yang masih keturunan bangsawan jawa. Tentang hal hal ghoib beliau ini adalah pakarnya. Tak ketinggalan hadir pula seorang sufi muda dari tanah pasundan Aa Siliwangi. Dialah seorang lelaki muda yang ganteng, berwajah lembut dan sangat bijak tutur bahasanya.Selanjutnya hadir pula Kyai Siti Jenang yang selalu tampil nyentrik namun sangat brilian tentang pemikiran-pemikirannya.Beliau ini punya hobi mateg aji sluman slumun slamet, tiba tiba datang mak bendunduk dan pergi “plas” seperti kilat, penulis suka gemes dibuatnya , untungya dia ini laki laki.Dan samar samar masih banyak yang mengelilingi beliau beliau ini, diantaranya Mas  Eha,Mas wirajaka, Mas Saputro, Pak Sugimo dll.

Sarasehan malam itu sangat meriah sekali, suatu masalah dijabarkan dari sudut pandang keilmuan masing masing. Tema yang dibicarakan malam itu adalah tentang Satrio Piningit, Ramalan SabdoPalon, Jangka Jaya Bhaya dll. Meskipun tampak seperti orang debat tapi ternyata tidak,Sejatinya mereka ini sedang  saling mengisi, mengoreksi dan bertukar tentang pengetahuan atau kawruh. Taukah anda, apakah mereka saling bertemu secara phisik? Ternyata tidak, malam itu hanya badan2 halus yang berada disana, rupanya beliau beliau ini telah janjian untuk meraga sukma.Lalu kemanakah si Ngabehi KM yang suka nggedabul itu? Tentu saja dia tidak berada ditengah2 mereka,…..

Karena dialah yang saat itu tengah bermimpi melihat pertemuan yang sangat bersejarah itu. Andaipun dia tidak tidur dia tak akan ikut pertemuan itu karena ilmu meraga sukmanya masih latihan 😀

Namun dia yakin kejadian ini akan benar2 terjadi , suatu saat nantinya……

Mari bangun Nusantara sekecil apapun andil yang bisa kita berikan

Rahayu

Wassalam

Guyon Aja (Selingan)

Sekedar guyon aja…
1. suatu saat saya menghadiri slametan didaerah terpencil di daerah tangerang, supaya tampil beda saya memakai koko saya yg paling baru lengkap dengan sorban merah tua dan dengan sampur itu yang sering dipakai pak haji (namanya apa ya) yang kaya taplak meja.hasilnya saya disambut dengan takzim sekali, bahkan ada bebrapa orang yang mencium tangan saya, saya jd mrinding tapi asyik juga ya…

2. Suatu malam saya nongkrong di warung sambil menikmati rokok, waktu itu saya berpakaian bak abdi dalem yogyakarta, baju surjan pantiyoso lengkap dengan blangkon kas yogya. Tiba2 ada pembeli yang sok akrab dengan saya, nawarin rokok lagi dan ngajak ngobrol ngalor ngidul, ternyata ujung ujungnya nanya ilmu ini dan itu,hmm ternyata saya dikira orang sakti atau dukun.

3. kira kira 8 tahun yang lalu ketika saya masih kerja di lapangan, dengan berpakaian dekil saya naik kopaja p 18, walaupun saya berusaha memasang wajah ramah, tapi orang2 pada menjauh,ternyata saya dikira orang ga waras, sampai2 sang kondektur ga berani minta ongkos ke saya, he he..

4. pada lebaran tahun 2004 ketika saya pulang kampung, waktu itu dengan memakai kaos oblong dan celana kolor saya pergi ke sebuah toko swalayan di wonosari guna membeli kue2 lebaran, hasilnya saya dikuntit satpam mulu dan ketika saya bayar belanjaan saya yang sampai dua ratus ribuan, eeee si kasir malah terbengong bengong.ternyata saya dikira kutil …

5. belum lama, saya suka membaca di internet tentang artikel hasil dari pemikiran sahabat saya yang beragama buddha, saya di tegor sama pak Dekan, mas hati2 lho jangan sampai pindah agama, wah berarti saya masih kelihatan miskin iman,..

Kesimpulanya:

1. banyak orang terkecoh dengan penampilan (kulit,sisi luar)
2. gampang memvonis atau mengecap, mengadili orang berdasarkan penampilannya tanpa berusaha mengenal lebih dulu.
3. terlalu memperhatikan orang lain dan kadang lupa dirinya sendiri.
4. ternyata memang benar kata seorang bijak” bahwa banyak manusia tertipu oleh kepalsuan dunia(ya itu tadi apa yang tampak dimata itu yang dijadikan ukuran)
5. banyak yang hidup didalam dogma tapi tidak terasa, contohnya kalu orang pakai udeng dan surjan pasti dia itu dukun, kalu pakai jubah dan surban iru kyai, kalu pakai levis dan jaket kulit ya preman dll.ini yang nampak saja lho kalu yang tak kelihatan ini wilayahnya Ki Jenang dll, he he…
Ternyata hidup itu sederhana banget yaa…, he he