Tanpa tudhuh kedlarung dlarung pinesthi

Tansah mituhu pitutur

Mring pra suci lan waskitha

Ini mengajarkan kepada para salik untuk senantiasa mematuhi rambu rambu yang telah ada. Tujuannya adalah untuk memperkecil resiko ditengah perjalanan.Rambu rambu (tudhuh) adalah pengetahuan yang bisa diambil dari berbagai referensi, misalnya Kitab kitab suci, Serat serat suluk, Babad dan sebagainya.Dengan pengetahuan tersebut apabila kemudian disertai laku dengan teratur atau ajeg dan dengan keyakinan yang penuh akan menghasilkan berbagai  Kaweruh yang sangat bermanfaat untuk diri sendiri dan masyarakat.Kenapa disebut kaweruh? , kaweruh artinya kaparingan weruh atau dikasih tahu, artinya orang tersebut benar benar bisa mengalami, merasakan dan bisa menggunakan kaweruh tersebut.

Langkah selanjutnya adalah terbuka atau mau mendengarkan petuah petuah atau nasehat nasehat orang lain dan  kemudian menyaringnya. Tidak boleh merasa sudah cukup dengan pengetahuan yang telah dimiliki, karena rasa demikian hanya akan menimbulkan kesombongan  yang berakibat mengotori batin dan mengahambat perjalanan mencariNYA. Juga senantiasalah untuk selalu mencari orang orang yang dianggap suci dan waskitha, supaya bekal kita makin bertambah.Terus apa parameter atau ukuran untuk bisa melihat bahwa seseorang bisa dikatakan “Suci lan Waskitha”.

Menurut saya sederhana saja untuk mengetahui seseorang itu benar2 termasuk seperti orang orang yang saya sebutkan di atas. Beberapa ciri cirinya sebagai berikut:

1. Sudah menjauhi perbuatan yang keji dan munkar. Munkar adalah perbuatan buruk yang jelas jelas bisa dilihat secara kasat mata dan ditolak keberadaanya ditengah masyarakat. Contohnya: Perjudian(main), Madon, Madat dll:P. Sedangkan perbuatan keji adalah perbuatan yang menjijikan, misalnya , iri, dengki, dendam kesumat dsb.Lho, bukannya penyakit ini tidak bisa dilihat dengan mata telanjang? Terus bagaimana melihatnya.Saya rasa gampang saja, bilamana seseorang masih suka grenengan bila melihat orang lain mendapat kesenangan, atau masih suka membicarakan cacat orang lain(seneng nyacat alaning liyan). atau tidak mau tersaingi dari segi materi, jabatan dll, itu tandanya orang tersebut masih memelihara sifat sifat keji.

2. Sudah mampu mengaplikasikan pengetahuannya dalam kehidupan sehari hari atau telah mampu mengimplementasikan ilmunya ditengah kehidupan masyarakat. Contohnya kalu menyuruh orang lain untuk hidup sederhana, ya dia sendiri telah mempraktekannya. Intinya berani dan bisa memberikan suri tauladan bagi keluarganya, lingkungan dan masyarakat.

3.Berakhlak mulia atau berbudi luhur.

Karena semua agama pada dasarnya mengajarkan bagi para pemeluknya untuk selalu mensucikan diri dengan ritual ritual yang telah diajarkan oleh masing masing agama tersebut. Nah buah dari mengerjakan ritual ritual tersebut  salah satunya  adalah terbentuknya akhlak yang mulia atau berbudi luhur. Lha kalu ritualnya ajeg, disiplin tapi sifat sifat buruknya tidak berubah?, itu namanya baru dapat kulitnya belum dapat isinya, kalu istilah kejawennya baru sembah raga, ya yang sehat atau segar cuma raganya saja.

4. Ora seneng nerak wewaler atau tidak suka menentang sesuatu yang telah mapan secara baik pada kehidupan masyarakat. Karena orang orang di level ini telah memahami hakekat atau telah menggapai kesejatian. Dia selalu bertindak hati hati dan bijaksana juga sangat menjaga toleransi dan penuh kesahajaan serta kebijaksanaan.

5.Berikutnya, sebetulnya ini tidak mutlak, tapi biasanya mereka memiliki daya linuwih atau semacam karomah dan lain lain. Mampu membaca sesuatu yang  lahir dan yang batin. Ada juga yang berkelakuan aneh atau nyeleneh. Bahkan kadang banyak orang tidak menyangka bahwa orang tersebut sebetulnya jalmo kang linuwih.

Mungkin ini dulu yang bisa saya sampaikan, mudah mudahan membawa manfaat walau cuma sedikit..:D.Ya inilah tafsiran tembang gambuh ” kembang gadhung” bait pertama, marilah senatiasa agawe – jumbuh antara pengetahuan dan perbuatan. Selalu njumbuhake kahanan dalam kehidupan sehari hari, percuma rasanya  mempunyai ilmu yang tingginya sundul ngawiyat tapi perilaku tidak sesuai.

Akhir kata, mangga kita asesanti:

Memayu hayuning bawana langgeng, tansah ngupadi  kasampurnaning urip lan bisoa bali maring kahanan jati.