Archive for Oktober, 2009


SUMPAH BUDAYA 2009


garuda-pancasila

Globalisasi di ranah ide, gagasan, ilmu pengetahuan yang diiringi dengan teknologi berkembang amat pesat. Lebih cepat dari kemampuan manusia untuk merenungkan apa hakikat semuanya untuk kemanfaatan hidup. Orang tidak lagi disibukkan dengan pertanyaan untuk apa kita memiliki ilmu, pengetahuan dan teknologi. Namun lebih menekankan pada fungsi-fungsi kemanfaatan/pragmatisnya semata. Semua pada akhirnya mengikuti arus globalisasi secara latah dan masa bodoh dengan hakikat progress/kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahwa hakikat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah untuk penyempurnaan proses hidup manusia menuju kesatuan dan keserasian lahir batin, jiwa dan raga.

Budaya Populer adalah budaya yang berada di pusaran arus global. Sayangnya, perkembangan budaya global justeru mematikan budaya-budaya nasional dan budaya lokal yang ada. Budaya lokal secara substansial tidak mengalami kemajuan yang berarti kecuali hanya untuk sarana komoditas ekonomi dan turisme saja. Budaya yang merupakan hasil manusia untuk mengolah daya cipta, rasa dan karsa berdasarkan atas kehendak dan keinginan masing-masing individu dalam sebuah wilayah tidak mampu lagi dianggap sebagai sebuah kearifan.

Individu yang berada di ruang-ruang budaya pun menjadi tumpul oleh arus pragmatis budaya global yang mungkin dipandang lebih menarik, mudah, cepat dan efisien. Para pengambil kebijakan tidak lagi memiliki semangat yang menyala untuk nguri-uri kebudayaan lokalnya. Apalagi bila semua pihak tidak mendukung lahirnya kreativitas-kreativitas baru berkebudayaan dan berkesenian.

Ini adalah situasi di mana kita mengalami sebuah Degradasi Budaya bahkan kehancuran sistematis budaya lokal. Bhinneka Tunggal Ika sebagai semangat berbudaya dalam rangka kebersatuan berbagai budaya lokal untuk maju dalam frame bangsa dan negara pun hanya sebagai slogan yang kini semakin dilupakan.

Tumbuh berkembang serta kemajuan sebuah budaya ditentukan pada bagaimana kita semua merespon dan menjawab tantangan-tantangan budaya global. Respon dan jawabannya adalah agar kita kembali kreatif, inovatif dan menciptakan wilayah-wilayah perjuangan budaya yang mampu menjadi alternatif budaya global yang terbukti tidak memiliki “ruh” kemanusiaan yang utuh.

Justeru pada budaya lokal, kita menemukan kembali “ruh” kemanusiaan itu. Ruh yang akan menyinari individu agar bisa bergerak secara harmonis antara individu dengan individu yang lain, antara individu dengan alam semesta, bahkan antara individu dengan dirinya sendiri sehingga nantinya individu tersebut akan menemukan diri sejati yang merupakan wakil Tuhan di alam semesta.

Siapa yang harus memulai untuk melakukan penyadaran adanya degradasi budaya ini? Sebuah fakta sejarah terjadi pada 28 Oktober 1928 saat para pemuda mengikrarkan Sumpah Pemuda. Intisari dan hakikat dari Sumpah Pemuda adalah kesadaran bahwa semua elemen bangsa harusnya memiliki kehendak, keinginan, cita-cita yang sama untuk mewujudkan sebuah kesatuan wahana dan ruang kreativitas dan kebebasan ekspresi yang berbeda-beda.

Jembatan untuk memasuki wahana persatuan dan kesatuan tersebut adalah tanah air, bangsa dan bahasa. Setiap babakan sejarah, pemuda selalu menjadi motor penggerak perubahan zaman. Sejarah telah menegaskan tentang kepeloporan pemuda di era kolonial hingga era perjuangan kemerdekaan bahkan di era reformasi. Perjuangan pemuda selalu dihadapkan pada tantangan hambatan dan kesulitan, bahkan darah dan airmata menjadi taruhan.

Di era masa lalu, gerakan kepemudaan lebih berorientasi pada bidang politik. Kini tantangan kaum muda masa kini justeru lebih banyak berupa rongrongan budaya global yang sangat berpengaruh pada pola pikir dan gaya hidup mereka sehingga harusnya gerakan kepemudaan kini lebih diorientasikan pada bidang budaya local (local wisdom).

Pemuda harus memiliki semangat untuk bersatu, lepas dari penindasan dan penguasaan budaya global. Kita berharap agar bangsa Indonesia bisa menghidupkan kembali budaya-budaya lokal yang ada sehingga nanti terwujud bangsa yang maju berkembang tanpa kehilangan jati dirinya. Kita buka mata dan hati kita, lihatlah bangsa India, Cina, Jepang, Thailand, dan Korea telah membuktikan sendiri. Bangsa yang meninggalkan pola hidup taklid hanya ikut-ikutan, ela-elu. Kini telah tumbuh menjadi macam Asia, dihormati dan segani masyarakat dunia, bangkit meraih kejayaan dengan berlandaskan loyalitasnya terhadap nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom) yang terdapat dalam tradisi dan budayanya. Bangsa yang tahu karakter diri sejatinya, sangat tahu tindakan apa yang harus dilakukannya.

Sumpah Pemuda merupakan momentum yang berhasil menyatukan pemuda se-Indonesia dalam satu ikatan kebangsaan, perasaan senasib, sepenanggungan yang diderita oleh pemuda khususnya, telah memberikan kesadaran kritis terhadap situasi yang dihadapinya yaitu adanya sebagai tantangan bersama telah membangkitkan kesadaran kolektif pemuda untuk melawan penindasan budaya global. Diperlukan gerakan massif untuk menghidupkan kembali budaya-budaya lokal (baca; kearifan lokal) di tanah air secara terus menerus sebagai bentuk nyata dari perjuangan kaum muda.

Perjuangan kaum muda di bidang budaya diharapkan akan membawa perubahan sosial yang mendalam bagi masyarakat, terutama di bidang pendidikan. Dari pendidikan ini muncullah pejuang-pejuang muda yang kaya akan ide dan konsep untuk melawan budaya global.

Untuk mewujudkan ide tersebut maka dengan ini kami menyerukan kapada SEMUA PEMUDA DI TANAH AIR untuk bersatu dalam gerakan SUMPAH BUDAYA 2009:

1. MENGHIDUPKAN KEMBALI BUDAYA DAERAH SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN BUDAYA NUSANTARA

2. MENJADIKAN BUDAYA DAERAH SEBAGAI DASAR PIJAKAN IDE-IDE KREATIF PEMBANGUNAN

3. MENGEMBANGKAN KEARIFAN BUDAYA DAERAH SEBAGAI NILAI-NILAI PEMBANGUNAN NASIONAL

4. MENGEMBANGKAN NILAI-NILAI MORAL, MENTAL DAN AJARAN HIDUP BERMASYARAKAT YANG ADA DI BUDAYA DAERAH DALAM RANGKA MENDUKUNG PERKEMBANGAN BUDAYA NUSANTARA.

5. MENGURANGI PENGARUH NEGATIF BUDAYA GLOBAL DENGAN MENGEMBANGKAN BUDAYA NUSANTARA

MOTTO :THINK LOCALLY ACT GLOBALLY !!

SUMPAH BUDAYA:

BERBUDAYA SATU, BUDAYA NUSANTARA

BERJATI DIRI SATU, JATI DIRI BANGSA INDONESIA

KASIH SAYANG SATU, SATU KASIH SAYANG LINTAS AGAMA

Indonesia, 28 Oktober 2009

Tertanda:

1. KI WONG ALUS (www.wongalus.wordpress.com)

2. KI ALANG ALANG KUMITIR (www.alangalangkumitir.wordpress.com)

3. KI SABDA LANGIT (www.sabdalangit.wordpress.com)

4. KI AGUNG HUPUDHIO

5.  KI NGABEHI K.M. (https://ngajitauhid.wordpress.com )

Bahasa Tuhan

Waspadeng sasmita kaki

Kareben sira waskita

Ulatno njaba njerone

Sak isine alam ndonya

Mengku Dzating Pangeran

Yekti  sapa nora weruh

Uripe pindha raseksa

Amatilah  segala sasmita,seloka, simbol dll anakku

Supaya dirimu menjadi orang yang awas(waskita)

Lihatlah luar dalamnya

Dunia dan isinya ini

Terliputi oleh Dzat  Tuhan

Siapa yang tiada mampu membaca kebesaranNya

Hidupnya seperti  Raksasa (Bodoh)

Di atas itu adalah penggalan bait tembang asmaradana yang saya tulis malam jum’at kliwon kemarin, tembang tersebut mengisyaratkan tentang bahasa Tuhan. Gusti Allah telah menggelar tanda-tanda kebesarannya di alam semesta ini, supaya manusia bisa membacanya (iqra’), Supaya manusia berhati hati dalam hidupnya sehingga bisa bahagia , selamat dunia akherat.

Sebetulnya Tuhan telah mempermudah hamba-hambanya dengan memberikan petunjuk-petunjuk, simbol, gambaran dengan senyata-nyatanya, supaya manusia tidak tersesat dalam mencariNya.

Samodra, gunung, sawah , hutan, pohon, binatang dan sebagainya adalah sebuah peta dariNya, dan apabila kita mampu untuk membacanya, hasilnya kita akan menjadi manusia yang linuwih, waskita atau jalma limpat seprapat tamat.

Terkadang kita dihadapkan oleh kejadian sehari-hari yang kelihatannya biasa saja, padahal kalau kita cermati boleh jadi itu merupakan pepeling , sindiran atau tegoran dari Tuhan. Kesandung, tersedak, klilipan dan lain sebagainya merupakan bahasa-bahasa halus dari Gusti, dan jikalau kita mampu membacanya, bukan tidak mungkin tersimpan pelajaran yang amat dalam.

Sebagai contoh, suatu saat tiba-tiba ada seekor kucing yang pulang ke rumah saya. Mulanya kucing itu selalu diusir oleh istri saya, karena anak saya yang masih kecil sangat ketakutan kalau di dekati kucing. Namun beberapa kali diusir kucing tersebut kembali lagi ke rumah kami, saya mulai memperhatikan kucing tersebut, ternyata kucing tersebut terluka dibagian perutnya, luka itu cukup dalam seperti bekas terkena sayatan benda tajam. Saya merasa kasihan, ketika saya tangkap kucing tersebut tidak berontak sama sekali, malahan ketika lukanya saya obati dengan obat penyembuh luka, kucing tersebut diam saja dan kadang-kadang giginya meringis seperti menahan rasa perih. Yang aneh lagi kucing tersebut tidak seperti pada umumnya, ketika tidak diberi makan dia tak pernah berani mengambi sendiri, walau dirumah belakang banyak tersedia bahan makanan.Singkat cerita kucing tersebut sembuh dari sakitnya, dan kemudian pergi entah kemana. Nah beberapa hari kemudian datanglah seorang sahabat ke rumah saya, usut punya usut ternyata dia baru  menghadapi berbagai masalah dalam hidupnya. Sahabat tersebut meminta bantuan moril, yaaaach setidaknya minta dikasih saran untuk menyesaikan masalahnya. Ternyat lewat kejadian di atas, Gusti telah mengajari saya untuk belajar, peduli, bijaksana dan welas asih kepada sesama. Banyak lagi kejadian-kejadian yang lucu, namun ternyata menyimpan hikmah yang dalam.

Gusti Allah telah menyederhanakan  segala ilmunya lewat beberapa kitab yang di turunkan dimuka bumi ini, supaya manusia tidak kesulitan dalam mencari jati diri dan mencari Gustinya. Diantara kitab tersebut adalah sebagai berikut :

1. Kitab Garing (yaitu kitab yang tersurat diantaranya kitab suci, sastra, syair, puisi mistik dll)

Apabila manusia mampu membedah dan memahami apa-apa yang termaktup dalam kitab garing ini, hasilnya menjadi manusia yang winasis, mengerti rahasia yang terdapat dala diri maupun alam ini.

2. Kitab berjalan (Manusia itu sendiri)

Ada hadist yang mashyur di kalangan sufi” Barang siapa kenal dirinya akan mengenal Tuhannya”

3. Kitab yang tersirat yaitu alam yang sangat luas yang bisa kita saksikan dengan mata telanjang.

QS. 2:164:

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.

Nah, untuk menangkap bahasa Tuhan tersebut ada berberapa teknik atau metode yang telah biasa dikenal oleh orang-orang yang suka mengolah rasanya.

1. Ngaji Diri

Adalah usaha manusia untuk mencari jati dirinya, atau mengetahui sangkan paraning dumadi, sehingga lahir metode-metode yang baru-baru ini digolongkan menjadi  teknik konvensional dan teknik yang modern.Dulu di daerah timur tengah banyak terlahir tarekat-tarekat sedangkan di bumi nusantara melahirkan aliran-aliran kebatinan, yang intinya adalah bermuara pada pencirian jati diri manusia. Referensi dalam rangka pencarian jatidiri ini bisa diambil dari kitab-kitab suci maupun dari pengalaman-pengalaman saat menjalani suluk.Ketika pertama-tama berlatih tafakur dan tahanust dulu, saya sering melihat sosok-sosok yang mengerikan. Pernah ketika baru posisi ruku’ tiba-tiba didepan saya lewat bayangan seekor ular yang besar sekali, juga sewaktu tafakur tiba-tiba ada orang setinggi rumah lewat didepan saya. Saya sendiri tidak pernah memusingkan dari mana dia datang dan siapa dia sebenarnya, mereka selalu saya fahami bahwa semua itu adalah potret-potret diri saya sendiri atau bagian kita sendiri. Karena dengan begitu, kita akan selalu ingat bahwa kita ini makhluk yang lemah yang sering berbuat kesalahan-kesalahan atau kesombongan.

2. Ngaji Ciri

Teknik ini sangat gampang sekali dipraktekan, kita tidak perlu  mengerahkan kekuatan batin atau menggunakan ilmu teropong  bila ingin mengenali atau mengetahui karakter,pola pikir atau budaya yang dianaut oleh individu atau kelompok didaerah tertentu. Caranya adalah dengan ilmu titen, namun tentu saja ilmu titen yang memang didasari oleh riset yang valid adan akurat. Teknik ini bukan berarti untuk mencari borok-borok atau mencampuri urusan orang lain, namun dimaksudkan dengan mengetahui sedini mungkin karakter orang lain atau kelompok masyarakat dimanapun kita tinggal, kita akan gampang menyesuaikan diri atau adaptasi sehingga tidak menimbulkan masalah  atau kontra.

Sebagai contoh, suatu hari saya dan temen  saya yang jadi pengurus RT berkeliling lingkungan untuk mengontrol warga. Sampai di ujung gang ada rumah yang cukup besar, beliau ini ternyata warga baru, teman saya ini tiba-tiba tersenyum,  “Ada apa mas? Kok senyum-senyum sendiri? Tanya saya. “Emang mas herjuno ga lihat gambar yang punya rumah ini, hati hati lho mas, nanti sampeyan kerepotan lho ngurus orang satu ini. Ternyata setelah saya perhatikan, di depan rumah sebelah kiri orang tersebut terdapat Torn air yang tinggi menjulang dan di bawah Torn tersebut  dibuat kerangkeng yang isinya burung oceh-ocehan. Mungkin kalau ditafsir begini ya, burung adalah simbol pikir, sedang air adalah nafsu keindahan. Burung yang dikerangkeng tersebut tidak bisa keluar ataupun tidak ada  burung dari luar yang bisa masuk. Artinya adalah orang ini berkarakter seperti katak dalam tempurung, baginya apa yang difikirkan itu selalu benar dan tak pernah mau menerima pemikiran orang lain, pandai memoles diri sehingga bila di depan saya suka berbicara yang manis-manis namun ternyata bila di belakang saya ,suka ngoceh tidak karuhan seperti burung kutilang yang dikerangkengnya. Waduh jadi curhat ya, sebetulnya ini bukan menilai negatif orang, namun hanya sebagi contoh ternyata untuk mengetahui kejiwaan individu ataupun kelompok itu sangatl mudah. Keadaan jiwa seseorang bisa dilihat dari, bentuk rumahnya, pagernya, cat temboknya, pusaka yang disimpannya, gambar-gambar dalam rumahnya, binatang peliharaanya, tanaman hiasnya, pakaiannya, kerling matanya dan masih banyak lagi.

3. Ngaji Alam

Mungkin ini termasuk dari ilmu Sastra Jendra Hayuningrat, Pak Dhe saya yang SD saja tidak tamat pandai sekali memprediksi kejadian-kejadian yang akan datang, dan kebanyakan tepat sekali. Beliau ini hanya membaca  fenomena alam  dan setelah melalui Teknik Pengolahan Data yang sangat njlimet akhirnya lahir pengetahuan-pengetahuan yang mencengangkan, dan mungkin seorang sarjana filsafat pun belum tentu bisa menandingi beliau.

Nah, mungkin kalau di antara sahabat-sahabat banyak yang warisan talenta gaibnya sedikit bisa belajar ngaji ciri dan ngaji alam ini, toh nanti hasilnya sama saja, yaitu menjadi manusia-manusia yang “WASPADENG SEMU”

Beberapa hari yang lalu di kantor saya terjadi suatu peristiwa yang sangat mengganggu kenyamanan antar karyawan. Masalah tersebut bermula ketika salah satu  teman kami menulis opininya di peperless system, yaitu sebuah jaringan intranet yang dibuat untuk keperluan komunikasi antar karyawan. Opini tesebut memang kurang tepat rasanya, bila diposting di lingkungan kerja kami yang tentu saja karyawannya multi etnis dan multi keyakinan. Apalagi menurut saya timing untuk pemostingan artikel tersebut belum tepat.

Tema yang di angkat adalah bencana gempa bumi yang baru saja terjadi di ranah minang, sebetulnya saya bisa memahami maksud dan tujuan penulis tersebut,tapi mungkin karena keterbatasan bahasa  sehingga seolah –olah isi tulisan tersebut malah kelihatan sekali menjadge dan menyudutkan saudara-saudara dari sumatra barat yang saat ini masih berbela sungkawa. Akibat dari  tulisan tersebut nyaris saja terjadi perpecahan antar karyawan yang berbau SARA. Sangat disayangkan, niat dari penulis yang sebetulnya mengajak kami semua untuk mentazdaburi bencana –bencana yang mengobrak-brik ibu pertiwi ini, malah berbuah pertengkaran dan keburukan.

Oke, mari kita tinggalkan kejadian buruk yang menimpa tempat kerja saya tersebut. Lewat blog yang compang camping ini saya ingin menumpahkan uneg-uneg  saya, yang tentu saja jauh dari standar hasil pemikiran para senior blog spiritual lainnya. Konon di internet beredar isu-isu pasca gempa ini terjadi. Konon jam dan menit saat gempa ini terjadi,  sangat relevan sekali bunyinya bila dihubungkan dengan ayat-ayat suci Al Qur’an. Saya tidak menyanggah hal ini, karena setahu saya sesuatu yang terjadi pada diri kita dan alam  ini tidak lepas dari kehendak Tuhan. Tuhan tidak pernah menciptakan suatu program, konsep atau sistem yang namanya”KEBETULAN”. Menurut saya yang masih cubluk ini, kata “kebetulan” itu muncul akibat ketidaktahuan karena keterbatasan akal-pikir manusia yang memang hanya mampu menjangkau hal-hal yang bersifat rasionalitas. Berikut saya kutipkan sebuah ayat :

Allah berfirman dalam QS. Al – Hadid, ayat 22-23,

” Tiada suatu bencana (mushibah) pun yang menimpa dibumi dan pada diri kamu melainkan telah tercatat dalam kitab ( Lauhil Mahfuzh ) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah sangat mudah. “

“Supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”.

Terlepas bagaimana anda memahaminya, yang jelas bahasa ayat di atas tidak boleh di telan mentah-mentah, harus melalui pendalaman dan kebersihan hati untuk bisa mengerti hakikat yang terkandung dalam ayat-ayat tersebut.

Catatan waktu terjadinya gempa.

1. Gempa di Jogja terjadi  pukul 05:55

Mari kita buka Al Qur’an surat Al Maidah ayat 55.

“Sesungguhnya penolong kamu adalah Allah, rasulnya dan orang-orang yang beriman,yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat seraya mereka tunduk.

Apakah jam saat terjadinya Gempa di Jogja ini kebetulan, ada apa dengan jogja dan apa hubungannya dengan Jogja. Seperti kita ketahui bersama, diakui atau tidak Jogja adalah simbol pusat spiritual. Segala aliran kebatinan, agama, budaya, kejawen ndeles, kejawen islam dan lain-lain tumbuh subur di tanah kelahiran saya ini. Kenapa hal ini bisa terjadi, karena warga jogja rata-rata mempunyai toleransi yang tinggi, sangat menghargai perbedaan dan tidak suka mencampuri faham atau keyakinan yang dianut orang lain. Bagi rakyat jogja, mungkin sepanjang keyakinan orang lain tersebut tidak mengganggu stabilitas umum, tidak mengganggu secara fisik, ya tidak perlu disikapi secara berlebihan. Berangkat dari sifat sifat orang jogja tersebut, kadang banyak pihak pihak yang malah menuduh bahwa orang jogja tidak setia dan konsisten dengan agamanya, suka melakukan kesyirikan, bid’ah, khurafat, tahayul dan lain sebagainya.Saya masih teringat,ketika luka warga jogja masih menganga akibat bencana gempa bumi, seorang teman dengan enteng  berkomentar di depan mata saya”Jogja dikasih  gempa kan karena orang jogja sering berbuat kesyirikan dan meninggalkan sholat”. Begitu menyakitkan kata kata tersebut dan masih terngiang ditelinga saya sampai sat ini.

Baiklah kita lupakan masalah itu, terlepas dari sisi ilmiah saya akan mencoba mengupas bencana-bencana tersebut dari sisi spiritual. Karena segala macam aliran kepercayaan, kebatinan, budaya, agama dan lain-lain ada di sana, tentu tidak terlepas dari hukum keseimbangan. Baik dan buruk, bengkok dan lurus(hanif), benar dan salah di dalam sebuah ajaran atau keyakinan pasti adanya. Namun bukanlah keyakinan  atau ajaran yang salah, karena pada dasarnya setiap  agama dan lain-lain pasti memiliki dan mengajarkan nilai-nilai kebenaran kepada pemeluknya, namun manusia sendiri yang sering menodainya. Nah ketika keburukan, pembelokan, kesalahan ini lebih dominan disuatu tempat maka kehancuranlah yang akan ditemui, baik itu bersifat kasar(fisik) dan halus(metafisik). Sekarang timbul pertanyaan apakah semua warga jogja suka melakukan kemusyrikan, maka saya menjawab bahwa di suatu tempat atau daerah  dan di apapun juga akan terdapat dua sisi yang berlawanan, hitam dan putih, baik dan buruk, lurus dan bengkok dan sebagainya.Lalu kenapa harus terjadi dijogjakarta, sekali lagi semua ini adalah simbol, gambar dan simbol, tidaklah maching bila judulnya spiritual tapi tapi gambar yang nongol adalh tempat wisata kuliner. Jadi pesan apakah yang bisa kita tangkap dari ayat tersebut, tidak lain adalah TAUHID.Kita dipanggil oleh Gusti Allah untuk kembali kepadanya. Kalau mau jujur, betapa bangsa kita telah jauh tersesat, kejahatan merajalela, korupsi, konspirasi politik, skandal perzinaan para pejabat, pembunuhan kelas tinggi maupun ecek-ecek, pelanggaran hak asasi manusia dan lain-lain telah menjamur di negeri ini. Dan yang lebih parah adalah bangsa ini telah jauh melanggar amanah para leluhur yang telah mewariskan kemerdekaan, warisan ilmu, budaya yang adiluhung dan sebagainya. Bahkan orang-orang yang mencintai dan berusaha untuk menjaga warisan-warisan budaya leluhur itu, sering dicap kapir kopar, luwuk bawuk kaya kuwuk.

Saudara-saudara, mari kita cermati bunyi ayat tersebut di atas satu persatu :

  1. Allah                                              : Tuhan =Sang Pencipta= Sangkan Paraning Dumadi = sebaik-baik tempat untuk kembali.
  2. Rasul                                             : Penyampai kebenaran = bisikan suci = Nur Muhamad
  3. Orang-orang beriman            : Bagi saya orang beriman adalah orang – orang yang sudah melek akan kebenaran, berani berkata, berbuat dan bertindak berdasarkan kebenaran yang berasal dari hati nurani.
  4. Mendirikan sholat                   : mendirikan sholat berbeda dengan mengerjakan sholat, mengerjakan sholat adalah sebatas memenuhi kewajiban, memenuhi hukum fiqih (syari’at), sedangkan mendirikan sholat adalah membangun atau mengaplikasikan inti sholat dalam kehidupan sehari-hari. Karena sholat itu bukan menyembah, sholat adalah nyaroso atau nyawiji kepada Gusti ingkang maha suci. Jadi implementasi sholat di tengah-tengah masyarakat adalah menjadi manusia yang rahmatan lil alamin, manusia-manusia yang bertindak atas kodrat dan iradatnya Gusti.
  5. Zakat                                             : ukuran keikhlasan, sosial kemasyarakatan, sifat untuk bisa hanguripi (mengentaskan) penderitaan orang lain.
  6. Tunduk                                         : berserah diri

Hendaknya bangsa ini segera kembali kepada Gusti Allah,membangun sebenar-benarnya tauhid, dengan jalan hanya mematuhi perintah dari hati nurani yang tak pernah bohong sehingga mampu memahami ayat-ayat Tuhan yang tergelar nyata di alam ini, hingga akhirnya akan terwujud sebuah masyarakat yang tabah, tawakal, istiqomah pandai bersyukur, saling mengormati –menghargai, berjiwa sumeleh dan sabar secara totalitas.

2. Gempa di Padang terjadi  pukul 17.16

Kita buka Al Qur’an bunyinya seperti ini:

QS : 17:16

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”

Sebelumnya saya mohon maaf, sekali lagi saya tidak bermaksud  membuat asumsi atau membangun opini bahwa orang  padang itu hidup bermewah mewah dan lalai, ketika kita berbicara padang pasti identik dengan kaum pedagang, bisnisman, pengusaha dan wiraswastawan. Kita tau banyak sekali orang Sumbar yang sukses dengan usaha mereka, kebanyakan dari mereka hidup  berkecukupan, bahkan mungkin menengah ke atas. Inti ayat ini adalah berbicara tentang materi, bahwa kekayaan, kemewahan bisa melupakan segalanya bahkan kepada Tuhan sekalipun.

Dalilnya adalah:

Surat
AT-TAKATSUR
Surat 102: ayat 1

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ

Kamu telah diperlalaikan oleh bermegah-megahan

Tuhan telah menegur bangsa ini, disatu sisi banyak saudara kita, teman kita, pejabat kita, pemimpin kita,  yang hidup bermewah-mewah, ber-banda bandu, tapi nun jauh di sana masih banyak saudara kita yang makan nasi aking, masih ada kampung ideot yang maaf tempat tinggal mereka tidak lebih bagus dari kandang kambing.

3. Gempa di Aceh terjadi  pukul 07:58

Coba buka surat ketujuh yaitu Al-A’raf ayat 58, apa isinya?

Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.

Sekilas mungkin ayat ini memang tidak nyambung, tapi mari kita perhatikan bunyi ayat tersebut pelan-pelan. Ayat ini berbicara suatu tempat yang subur dan gersang. Artinya kemakmuran suatu negeri, aceh terkenal dengan keislamannya sehingga dijuluki  sebagai serambi mekah, tanahnya subur, buminya mengandung emas dan minyak, namun seperti kita tahu, di tanah yang banyak melahirkan pahlawan nasional ini  banyak terjadi kejahatan rasisme, obat-obatan telarang, pembunuhan dsb. Rakyat aceh mengalami penderitaan yang panjang dengan adanya konflik yang belum lama berakhir. Ayat itu menegaskan bahwa kita telah  dikaruniai  negeri yang subur makmur, apabila semua itu kita kelola dengan hukum-hukum Tuhan, sesuai dengan kodrat dan iradatnya, tidak berdasarkan kesrakahan hawa nafsu tentu kita akan  negara yang gemah ripah karta rahaja, kita diperintahkan untuk merenung apabila negeri kita ini tandus betapa penderitaan kita lebih parah lagi. Oleh karena itu hendaklah semua komponen bangsa ini pandai bersyukur atas nikmat-nikmat yang telah dikarunikan Tuhan, dengan cara berjuang untuk menjadi manusia-manusia yang memayu hayuning bawono(rahmatan li alamin).Untuk mengakhiri artikel ini saya akan bertanya, apakah orang jogja, orang padang, orang aceh, orang jawa barat suka berbuat kemusryikan, bermewah-mewah, melanggar hak asasi manusia, suka melakukan perzinaan???. Maka saya jawab di tempat manapun pasti ada, namun orang-orang yang sholeh, yang bertauhid dan yang  jujurpun tidak kalah banyaknya. Sekali lagi, semua ini hanya potret, bahwa bangsa ini telah carut marut, benar salah terasa samar dinegeri ini, (wong dur angkara tambah mulya, wong jujur katone ajur).Akhir kata, Sampaikan kebenaran itu  dengan arif, sampaikan kebenaran itu dengan penuh kebijaksanaan, welas asih, kelembutan  bukan dengan teriakan yang penuh emosional. Ketika sebuah bencana tidak menjadikan suatu tempat/manusia berubah semakin baik itulah yang dinamakan azab/laknat, tapi ketika manusia mengalami bencana kemudian terjadi perubahan pada dirinya menjadi semakin baik dan hanif, maka bencana itu bermakna menjadi ujian.Seperti kata Ki Sabda langit” bahwa dibalik musibah terdapat anugrah bagi orang-orang yang sabar”

Wallahualam bishawab

Rahayu