Aneh..!, dua kali sudah saya kehilangan artikel yang telah cape’-cape’ saya tulis dengan rapi.Keduanya raib begitu saja. Saya jadi berfikir, apakah perihal yang saya tulis itu memang belum waktunya untuk di babar. Ach kaya’nya terlalu berlebihan kalau saya punya pendapat seperti itu, karena isi dari artikel saya ini tidak terlalu rumit-rumit amat.Lagian yang saya tulis juga bukanlah sebuah ilmu gaib yang sinengker. Setelah saya melakukan kontemplasi beberapa hari, akhirnya jawaban itu muncul. Membuat tulisan ternyata bukanlah sekedar menorehkan ide-ide ataupun ispirasi ke gudang arsip blog. Namun ada sebuah tanggung jawab moral yang harus di pertanggung jawabkan. Sejauh mana isi tulisan itu dengan keadaan diri kita. Menurut saya ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk melahirkan sebuah tulisan, khususnya artikel yang berkaitan dengan religiusitas.
1. Fahamkah penulis dengan yang di tulisnya?
2. Sudahkah penulis mengalami sendiri tentang isi dari tulisannya?
3. Mampukah penulis melaksanakan tentang apa yang ditulisnya?
Mungkin ini suatu peringatan bagi saya, agar kedepan lebih berhati-hati dalam membuat tulisan.Karena semua ada pertanggung jawabannya. Tulisan bisa mempengaruhi orang lain, dan kalau ternyata tulisan kita jauh dari kebenaran, maka tak terbayang betapa kita telah menebar keburukan di muka bumi atau menjerumuskan orang lain. Intinya, bolehlah membuat tulisan atau artikel, namun harus melalui pendalaman, pembuktian dan pemahaman, bukan sekedar comot sana-sini. Itu setidak-tidaknya pesan untuk diri saya sendiri.Diam bukan berarti bodoh, dengan berlatih diam (meneng) akan menjadi hening dan melahirkan wening.