Beringin Kembar Alun-Alun Kidul

Hari lebaran kedua kami sempatkan sekeluarga bertamasya ke Keraton Ngayugyokarto Hadiningrat.Tak lupa kami juga berkunjung ke alun –alun kidul dengan pohon beringin kembarnya yang sangat terkenal karena menyimpan segudang misteri. Mungkin tutur tinular yang menceritakan kemisteriusan tempat tersebut telah sering kita dengar, namun saya ingin menceritakan pengalaman saya yang mungkin ada sedikit manfaatnya. Pukul 17:00 kami tiba di lokasi, dan saya lihat ratusan orang telah memadati tempat tersebut untuk mencoba tradisi masangin, yakni berjalan dengan mata tertutup dan berusaha untuk melewati kedua pohon tersebut. Konon siapapun yang berniat sambil mengucapkan hajatnya di dalam hati dan kemudian berhasil melewati kedua pohon tersebut , itu pertanda hajatnya akan terkabul.
Semula saya tidak begitu percaya dengan cerita yang sudah sering saya dengar berkaitan dengan kedua pohon ini, namun setelah menyaksikan sendiri betapa banyak orang yang akhirnya kebingungan tak mampu melewati kedua pohon tersebut, hilanglah semua keragu-raguan saya. Banyak diantara peserta masangin akhirnya hanya berputar-putar tak tentu arah, bahkan ada diantara mereka malah berputar 180 derajat kearah Siti Hinggil, padahal saya melihat sendiri jarak yang mereka ambil relative sangat dekat. Seorang sahabat saya yang sedari tadi sangat bernafsu untuk mencoba keangkeran tempat ini segera menyambar kain penutup mata yang banyak disewakan di tempat tersebut.Samar-samar saya sempat mendengarkan ucapan beliau yang terkesan tidak percaya dan bahkan meremehkan. Aneh bin ajaib, baru tiga langkah ia berjalan tiba-tiba tubuhnya berputar 180 derajat ke arah Siti Hinggil,seperti ada kekuatan tak kasat mata yang menuntunnya untuk menjauhi kedua pohon tersebut. Akhirnya setelah mengulangi sampai tiga kali tidak berhasil juga, kawan saya ini menyerah juga. Setelah itu giliran adik saya, dengan langkah pelan namun pasti dia berhasil melewati kedua pohon ini persis digaris tengahnya. Giliran selanjutnya adalah saudara sepupu saya, dengan langkah cepat, mantab dan bahkan setengah berlari beliau berhasil melampaui ujian dengan hitungan waktu yang amat singkat. Akhirnya jatuhlah pada giliran saya, berbagai perasaan berkecamuk di hati saya waktu itu, antara rasa yang belum begitu percaya, malu kalau tidak berhasil, takut kalau nanti menubruk orang atau tembok dan akhirnya jadi bahan tertawaan orang-orang di sekeliling dan lain-lain. Cukup lama saya bernegosiasi dengan diri sendiri, namun akhirnya saya mendapat jawaban, apapun hasilnya, apapun kejadiannya saya harus ikhlas menerimanya. Ada kejadian yang tidak pernah saya sangka-sangka, ketika kain penutup mata telah terpasang tiba-tiba tempat tersebut menjadi sunyi senyap, bahkan saya tak yakin lagi dengan arah badan saya yang sebelumya telah saya pastikan menghadap persis diantara kedua pohon beringin tersebut.Akhirnya dengan kepasrahan saya melangkahkan kaki saya sedikit demi sedikit, Alhamdulillah sayapun berhasil melampauinya.
Setelah kami berkumpul, Mbah Parjan sing mbaureksa pohon tersebut membeberkan hikmah dari acara yang baru saja kami selesaikan.”Kurang lebih kata-kata beliau begini; Si adik ini mempunyai hati yang bersih selalu berfikiran baik dan punya cita-cita meluhurkan orang tua semampunya, sambil tangan beliau menunjuk adik saya. Kalau Mase ini, mempunyai keteguhan hati yang luar biasa tidak takut resiko atas keputusan yang telah diambil seperti layaknya Bimasena dan akan mampu menjadi pengayom bagi orang di sekelilingnya, sambil tangannya menepuk –nepuk kaki kakak sepupu saya yang sekarang ini menjadi seorang pengusaha.Kepada sahabat saya yang tidak berhasil beliau berkata; dalam kehidupan ini terkadang banyak pernak pernik kehidupan yang seolah-olah terlihat kecil dan remeh, namun bila kita salah menyikapinya akan berakibat fatal bagi diri kita dan sekeliling. Selalu berfikiran baik dan tidak gemar menyepelekan sesuatu yang kita belum memahaminya itu jauh lebih baik.Mungkin dari seorang Mbah Parjan yang sederhana itu saya bisa menyimpulkan, untuk bisa melewati dan menjalani kehidupan yang penuh misteri ini, hanya berbekal kepasrahan, kebersihan hati, keteguhan hati dan fikiran, sikap eling lan waspada, tidak adigang adigung adiguna, kita akan mampu melewatinya. Ketidaktahuan, kebodohan,cita-cita, misteri hidup hanya bisa ditembus dengan hal-hal di atas.Kedua beringin kembar adalah mata, jarak diantaranya adalah hidung, start adalah kepasrahan, keteguhan hati, kesucian hati dan lain-lain, maka tersingkaplah kebebalan yang menutupi hati ini sedikit demi sedikit.Manjing merem lan meneng, mandeng pucuking grana kanthi ati kang eling , suci lan awas, ngupadi ilham saka Gusti Kang Maha Suci.