Dulu ketika masih duduk dibangku SMP saya punya kewajiban khusus dari orang tua yang harus saya kerjakan. Setiap pulang sekolah, sehabis makan saya harus ngangon (menggembala ) wedhus-wedhus (kambing) saya. Diantara kambing-kambing saya yang tidak sampai sepuluh ekor itu, diantaranya terdapat kambing jantan, saya kasih nama si Bandot. Bulunya hitam legam, badannya besar dan tanduknya runcing-runcing. Saya sering dibuat jengkel karena ulahnya, dalam perjalanan ke hutan dia selalu saja bikin ulah, yang ngangkroki (menaikI) kambing-kambing betina lah, makanin (nyebruti) tanaman dikanan-kiri jalan dan sebagainya.Lebih menjengkelkan lagi kalau sudah sampai di padang rumput, dia tidak aring (tekun memakan rumput), kerjanya malah nyrudukin kambing-kambing kepunyaan penggembala lain, (tak heran kalau saya sering di komplain oleh penggembala lain akibat kelakuannya), atau embak –embik (mengembik)sambil kaki depannya gedruk-gedruk ke tanah nyari perhatian kambing betina.Asal tau saja kalau ada kambing jantan penggembala lain mencoba mendekat karena tertarik dengan kambing betina saya atau sekedar ingin ikut makan rumput disitu, pasti akan dihajar habis-habisan oleh siBandot. Sekarang ini, kalau saya inget si Bandot saya suka ketawa sendiri, kok kelakuan si Bandot itu mirip saya ya ha ha ha, kalau istilah anak sekarang “gue banget gicu loh”.
Menjelang hari raya Idul Adha harga kambing-kambing jantan kian mahal, di perjalanan berangkat ke kantor tadi saya melihat banyak kambing-kambing jantan di cencang dipinggir jalan. Saya jadi teringat si Bandot, entah tahun kapan dia disembelih untuk kurban. Saya pernah diberi tahu sama Pak Ustad sebelah rumah, kata beliau barang siapa mau berkorban paling tidak seekor kambing pahalanya besar sekali, bahkan sampai bulu-bulunya dicatat sebagai pahala, maksudnya mungkin siapapun yang berani ikhlas berkorban dalam hidupnya segala aktivitas hidupnya akan bernilai menjadi ibadah.”Makanya mas, kita harus rajin-rajin menabung supaya kita bisa berkurban paling tidak sekali seumur hidup” kata beliau. Sayapun manggut-manggut, entah itu tanda setuju atau bingung.
Suatu senja disebuah pinggir jalan di kawasan cililitan saya terlibat diskusi (sebetulnya hanya ngobrol ngalor ngidul, supaya agak kelihatan keren dikit lah) yang agak serius dengan pak tua penjual tanaman. Entah siapa yang memulai tiba-tiba obrolan kami sampai pada topic masalah kurban.”Ngomong-ngomong babe tahun ini kurban tidak, saya menggodanya”. Yach mas orang kaya saya ini buat makan sehari-hari saja susah kok mau kurban, kalau kurban perasaaan mah sering mas.”Emang ada be kurban perasaan, setahu saya kurban itu ya motong kambing atau yang lainnya”sergah saya. ”Loh itu kan kalau mampu mas, bagi kita yang ndak mampu secara materi ya harus berusaha memotong perasaan-perasaan yang tidak baik dalam diri kita, wedhus-wedhus yang mas gendong kemana-mana itu harus di bunuh, baru mas dikatakan menjadi orang yang ikhlas dan beriman.”Maksud babe saya ini kaya’ wedhus gitu? kata saya sambil bersungut-sungut.”Bukan begitu mas, maksud saya pada dasarnya setiap manusia itu ya mempunyai kesifatan seperti kambing, mau menangnya sendiri,membesarkan urusan birahi, rebutan kekuasaan, makanan dan lan-lain, tak jarang kan banyak penggede-penggede kelas nasional bahkan kelas dunia yang jatuh terjerembah akibat masalah perempuan.Jadi pendeknya orang dikatakan ikhlas kalau sudah bisa mengalahkan wedhus-wedhus dalam diri tadi mas. ”Hmmm ada benernya juga lho be’ pendapat sampeyan”kata saya. “Mangga kersa mas, menurut saya sesuatu dikatakan benar atau salah, pas atau tidak, begini dan begitu, itu kan tergantung cara menerima, memahami dan menafsirkanya.
Disela-sela obrolan kami tiba-tiba sebuah motor oleng tersrempet metromini yang sedang melaju kencang, sangking jengkelnya sang biker berteriak memaki” dasar wedhusss.