Category: My Profile


IMG01786-20141019-0533 IMG01787-20141019-0533 IMG01788-20141019-0534 IMG01789-20141019-0550 IMG01790-20141019-0550 IMG01791-20141019-0551 IMG01792-20141019-0551 IMG01793-20141019-0608 IMG01794-20141019-0608 IMG01795-20141019-0609

Iklan

Gambuh pitutur III (tamat)

Sjati gesang puniku

Tindak becik meper hawa nepsu

Lamun leno pralaya kang den temahi

Mulo tansah setya tuhu

Mring Gusti kang Maha Manon

Ijinkan saya nggedabul lagi, membedah tembang gambuh yang saya tulis dengan memakai bahasa yang sangat sederhana ini.

Jadi hidup yang sejati, hidup yang benar, hidup yang rahmatan lil alamin, hidup yang bermanfaat adalah hidup yang penuh kebaikan. Yaitu hidup dimana kita telah berhasil menundukkan hawa hawa nafsu negatif, Amarah, sufiyah dan lawamah.Karena nafsu nafsu tesebut apabila tidak ditundukkan hanya akan menimbulkan manusia yang penuh keakuan, sombong, gila kehormatan, serakah dll. Seorang muslim dianjurkan untuk selalu bermuhasabah yaitu selalu instropeksi diri atau jawanya Mulat Sarira hangrasa wani, nah buah dari laku tersebut adalah menjadi manusia yang selalu awas, teliti, bijaksana, mengerti dsb. Jika manusia mengesampingkan hal hal di atas maka kematianlah yang akan ia temui. Kematian disini bukan berarti kematian fisik melainkan kematian secara ruhani. Bayangkan bila manusia  yang dalam hidupnya hanya menuruti hawa nafsunya saja, maka seperti pernyataan seorang penulis yang pernah saya baca, maka manusia tersebut diibaratkan seperti Zombie-zombie yang siap menerkam siapa saja.Jalan  satu satunya adalah mendekatkan diri kepada Tuhan, yaitu Tuhan yang telah menciptakan jagad  raya seisinya ini. Lho bukannya Tuhan itu ya ..yang satu satunya menciptakan jagad raya ini. Jawaban saya belum tentu, karena dalam praktek kehidupan sehari hari kadang kita sering menuhankan sesuatu, misalnya harta benda, kekuasaan, kekuatan, kehormatan dll. Lha yang paling sulit untuk diteliti itu yang namanya Tuhan Ego, maaf kadang2 kalu dicermati masih ada saja orang yang berilmu tinggi, berpengetahuan tinggi namun akhirnya terjebak dengan egoisme yang lebih halus. Kalu hal ini tidak serta merta diobati, seberapapun tinggi pengetahuan seseorang sampai sundul ngawiyat pasti akan terperosok kelubang rasisme, narsisme, fanatisme, keminterisme dll. Sebagai penutup kata: kenali dirimu maka kau akan mengenali tuhanmu dan kenalilah tuhanmu maka terasa semakin bodohlah akan dirimu…(pesan ini buat saya sendiri lho…. :mrgreen: )

Dibulan Syawal ini, perkenankan saya sebagai pemilik rumah yang sederhana ini mengucapkan minal aidin walfaizdin mohon maaf lahir dan bathin. Walaupun sebenarnya saling maaf memaafkan harus kita lakukan setiap hari. Kepada Mas Siliwangi, Mas Hidayat, Mas Ratya, Mas Hendrayana, Mas Triyoga dll yang tidak saya tulis disini, saya mohon maaf yang sedalam-dalamnya. Mungkin selama kita berdiskusi di gubug ini terkadang ada kata-kata yang terlontar dengan sengaja maupun tidak sengaja sehingga melukai bathin saudara2 sekali lagi mohon dimaafkan setulus-tulusnya. Saya juga mohon maaf mungkin selama gubuk saya ini tak tinggal mudik,  ternyata banyak saudara2ku yang bertamu dan tentu saja saya tidak menyambutnya.Semua itu karena keterbatasan, dikampung saya tidak membawa laptop karena memang tidak punya he he.Baru hari ini saya masuk kerja dan akhirnya saya ucapkan selamat berjumpa lagi, marilah kita teruskan obrolan2 kita.Jujur saat ini keadaan batin masih agak berantakan, bayangin aja begitu banyak peristiwa yang saya alami selama lebaran, yaitu mudik, macet, ketemu orang tua, ketemu sahabat lama, anak ngajak ini dan itu, istri minta di ajak jalan2 dan masih banyak lagi seabrek peristiwa yang bertumpuk di ruang bathin. Mungkin hari2 sekarang ini lebih bagus dipergunakan untuk kembali menjernihkan fikiran supaya tenang kembali. Akhirnya saya mengucapkan selamat bertebaran kembali di muka bumi untuk memenuhi tugasnya sendiri2.

SEJARAH GUNUNGKIDUL

Inilah cuplikan sejarah tentang daerahku!!

Adanya sebagian pelarian dari Majapahit yang kemudian menetap di Gunungkidul, diawali dari Pongangan Nglipar dan Karangmojo, maka perkembangan penduduk di Kabupaten Gunungkidul pada waktu itu cepat di dengar oleh Raja Mataram Sunan Amangkurat Amral yang berkedudukan di Kartosuro. Pada saat itu Sang Raja langsung mengutus Senopati Ki Tumenggung Prawiropekso agar membuktikan kebenaran berita tersebut. Setelah datang ke Gunungkidul, ternyata benar bahwa di Gunungkidul telah banyak dihuni orang-orang pelarian dari Majapahit, antara lain Ki Suromejo. Tumenggung Prawiropekso kemudian menasehati pada Ki Suromejo untuk meminta ijin dulu dengan Raja Mataram di Kartosura,karena daerah ini termasuk wilayah kekuasaan Raja Mataram. Namun tidak digubris, sehingga menimbulkan perselisihan. Perselisihan itu menyebabkan Ki Suromejo dan keluarganya,yaitu Ki Mintowijoyo,Ki Poncobenawi,Ki Poncosedewa (anak menantu) terbunuh, dan Ki Poncodirjo akhirnya menyerahkan diri. Oleh Pangeran Sambernyowo, Ki Poncodirjo diangkat menjadi Bupati Gunungkidul I, namun tidak lama menjabat. Dikarenakan adanya penentuan batas daerah Gunungkidul antara Sultan dan Mangkunegaran II pada tanggal 13 Mei 1831,maka Gunungkidul yang dikurangi Ngawen sebagai enclave Mangkunegaran telah menjadi daerah kabupaten. Menurut buku “PEPRENTAHAN PROJO KEJAWEN” karangan Mr.Raden Mas Suryadiningrat,berdirinya Kabupaten Gunungkidul yang telah memiliki sistem pemerintahan itu, ternyata bersamaan dengan tahun berdirinya daerah-daerah lain di wilayah Yogyakarta, yaitu setahun setelah selesainya perang Diponegoro. Perbedaan yang ada hanyalah untuk pemberian sebutan kepada para pengageng atau penguasa, seperti untuk daerah Denggung yang sekarang Sleman, kemudian daerah Kalasan serta daerah Bantul dengan sebutan Wedono Distrik,sedang untuk wilayah Sentolo dan Gunungkidul dengan sebutan Riyo. Untuk Kabupaten Gunungkidul,setelah melalui berbagai upaya yang dilakukan oelh panitia untuk melacak Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul yang dibentuk pada tahun 1984,baik yang terungkap melalui fakta sejarah,penelitian dan pengumpulan data dari tokoh masyarakat berhasil menyimpulkan bahwa hari lahir Kabupaten Gunungkidul adalah Hari Jumat Legi tanggal 27 Mei 1831 atau Tahun Jawa 15 Besar Tahun Je 1758. BUPATI YANG PERNAH MEMIMPIN KABUPATEN GUNUNGKIDUL

1. Mas Tumenggung Pontjodirjo

2. Raden Tumenggung Prawirosetiko

3. Raden Tumenggung Suryokusumo

4. Raden Tumenggung Tjokrokusumo

5. Raden Tumenggung Padmonegoro

6. Raden Tumenggung Danuhadiningrat

7. Raden Tumenggung Mertodiningrat

8. KRT.Yudodiningrat

9. KRT.Pringgodiningrat

10.KRT.Djojodiningrat

11.KRT.Mertodiningrat

12.KRT.Dirjodiningrat

13.KRT.Tirtodiningrat

14.KRT.Suryaningrat

15.KRT.Labaningrat

16.KRT.Brataningrat

17.KRT.Wiraningrat

18.Prawirosuwignyo

19.KRT.Djojodiningrat,BA

20.Ir.Raden Darmakun Darmokusumo

21.Drs.KRT.Sosrodiningrat

22.Ir.Soebekti Soenarto

23.KRT.Harsodingrat,BA

24.Drs.KRT.Hardjohadinegoro (Drs.Yoetikno)

25.Suharto,SH (Bupati saat ini)

Situs Sejarah:

Pertapan Kembang Lampir (tempat turunnya wahyu kerajaan Mataram Islam)

Pesarehan Ki Ageng Giring IV

Pesarehan R. Bondan Kejawan

Prasasti Ngobaran

dll

Sumber:Pustaka Babad Gunungkidul

Tafakur

Biasakanlah bertafakur walau sebentar.Banyak yang diperoleh kalu kita ikhlas tanpa beban mengerjakannya.

Dengan bertafakur semua akan tersingkap, dengan bertafakur hati menjadi tentram, dengan bertafakur otak menjadi cerdas, dlll

A’uzdu billahiminasyaithonirrajim

Bismillahirrahmanirrahim

Asyhadualaillahaillallah

Wasyhaduanna muhammadarasululllaah

Allahuma shali ala muhammad, wa ala ali muhammad

Astagfirullah hal azdim (minimal 3kali)

Ya Allah yaa Rabbi..

Ampunilah dosa2 hambamu ini, baik dosa masa lalu, sekarang atau masa yang akan datang.Baik dosa-dosa kecil maupun dosa-dosa yang besar.

Ya Allah ya Rabbi , bersihkan dan sucikan bathin ini, hancurkan kemusyrikan dan kebatilan yang ada pada diri hambamu ini.

Ya Allah ya Rabbi, ampunilah dosa kedua orang tua kami, kasihanilah mereka sebagaimana mereka telah mengasihi kami sedari kami masih bayi.

Ya Allah ya Rabbi, hijrahkan kami kedalam Qolbu kami,ruhiyah kelangit terdekat, ke Baitullahmu ya Allah , untuk menjadi tamu Engkau, Untuk menyaksikanMu ya Allah.

Lahaula wallaquata illa billah

Lailahaillallah (sebanyak-banyaknya)

Tutup dengan hamdallah

(SEMOGA BERMANFAAT)