Category: Wawasan Nusantara


Kanugrahan

Di penghujung tahu 2013 tidak sengaja saya mendapatkan kanugrahan agung, teman saya menghibahkan seluruh pusakanya untuk saya rawat. Walaupun mungkin di mata orang benda benda tersebut di pandng sebelah mata, namun bagi saya benda benda tersebut mempunyai nilai nilai yang sangat tinggi. Karena di dalam benda benda ini ada sejarah, mistik ,filosofi dan daya daya ruhani hasil karya para leluhur.

pusaka-2 pusaka-3 pusaka-5

Iklan

Wong jowo memperlakukan alam ini seperti saudaranya sendiri, dia harus disapa lembut, disayang, diberi makan dan sebagainya. Bagi orang jawa alam tak ubahnya seperti makhluk hidup lainnya, seperti halnya manusia, binatang dan sebagainya. Alam yang saya maksud di sini adalah segala bagian bumi dan langit yang tampak seolah-olah benda mati, contohnya ; sungai, gunung, hutan, laut dsb.
Saya ini orang puritan, yang terlahir di daerah terpencil di salah satu pelosok daerah Istimewa Yogyakarta, adoh ratu cerak watu, wong nggunung onang-anung pakanane sega jagung awan bengi mung nganggo sarung tur omahe cerak lurung. Pada waktu saya masih kecil, agama bagi kami bukanlah hal yang penting, bagi kami yang terpenting adalah bagaimana bisa terus bertahan untuk hidup yakni dengan berupaya menaklukan alam Gunungkidul yang terkenal tandus dan susah air.Agama bagi kami hanyalah sebagai pelengkap identitas yang tertera pada KTP, sedangkan praktek-praktek ritual keagamaan paling hanya bersifat tahunan, dari kenyataan itulah mungkin kami termasuk sebutan wong abangan.
Namun dibalik itu semua, kami sangat menjunjung rasa kemanusiaan, kami juga menjaga keharmonisan yang erat dengan alam. Bagi kami alam tak ubahnya seperti teman sendiri yang harus dijaga, dipelihara dan dihormati, karena bila alam lestari pasti akan memberikan berkah kepada kita, namun bila kita berbuat sebaliknya, maka malapetakalah yang akan datang. Masih tergambar jelas dalam ingatan, ketika ada hajatan warga atau desa, banyak tempat-tempat yang kita anggap angker selalu diberikan sesaji. Biasanya tempat-tempat yang diberi sesaji adalah, sumur tua yang mengandung mata air, pohon-pohon tua yang menjulang tinggi, hutan, sungai-sungai dsb. Kami tahu dan kami sadar, mereka tidak membutuhkan itu semua, juga jin peri prayangngan yang bersemayam dimana-mana tidak akan menyantapnya, toh akhirnya yang memakan sesaji adalah Mbah Jurukunci, warga sekitar atau orang yang sedang lewat. Kami hanya membangun kekramatan dan nuansa angker, sehingga orang-orang jahilpun akan berfikir dua kali untuk merusak tempat-tempat yang menjadi sumber hajat hidup orang banyak.
Namun kini jaman telah berubah, di desa dan di kota kehidupan orang begitu agamis dan religius. Banyak tempat ibadah di bangun, mesjid, gereja, klenteng dan sebagainya banyak yang berdiri dengan megahnya. Orang yang masih suka sesajen dibilang musrik, orang yang ngadain slametan nujuh bulan, tedhak siti dll, disebut bid’ah, orang yang mempercayai tanda-tanda alam disebut tahayul, khurafat dll. Sesajen, petung, slametan dll adalah kepercayaan yang kolot, ortodok dan perlu dibrantas karena akan menjadikan parasit-parasit keimanan. Pendek kata orang saling berlomba untuk beragama secara kaffah dan lurus.
Saya yang notabene hanyalah orang abangan ini menjadi heran, ketika jaman telah dikatakan makin modern dan orang-orang makin agamis kenapa yang terjadi malah sebaliknya. Kini orang-orang sudah mengabaikan norma-norma dan nilai-nilai hidup yang diajarkan leluhur,sekarang orang-orang gampang sekali menyakiti sesamanya, kini orang makin gampang membunuh, memperkosa dan lain sebagainya.Banyak sekali anak muda yang meninggalkan sopan santun tata krama, sifat andhap asor dll, tempat-tempat yang dulu dianggap angker atau keramat, kini tiada ditakuti lagi. Dahulu sungai yang banyak mengandung ikan telah disulap menjadi persawahan, pohon-pohon tua yang banyak menampung serapan air ditebang, hutan-hutan dijarah rayah sehingga menjadi gundul bak lapangan golf.Akibatnya mata air makin susah, udara menjadi panas sehingga iklim mulai kacau.Sebenarnya, siapakah yang bertanggung jawab terhadap semua ini, salahkah ajaranya atau manusianyalah yang salah memaknai sebuah agama. Benarkah keyakinan yang dianggap kuno, kolot, ortodok lebih buruk dibandingkan dengan keyakinan atau agama –agama yang baru?Saya rasa semua berpulang kembali kepada diri masing-masing untuk saling belajar memaknai dan ngonceki rasa, roso-rasane dhewe-dhewe.

Bencana Lagi

Ahir-akhir ini, tanah air kita yang sangat kita cintai ini tertimpa bencana yang silih berganti.Semoga semua ini semakin menjadikan kita bertambah eling lan waspada, sibuk megoreksi diri kita masing-masing, bukan mencari kesalahan di luar diri atau mencari kambing hitam.

Wasior, mentawai, merapi, jakarta yang di kepung banjir, semoga mampu membuka mata hati kita, mata hati pemimpin dan rakyat indonesia, bahwa kita harus senantiasa mulat sarira hangrasa wani.

Rahayu, rahau, rahayu

Semoga Gusti Allah paring pangayoman dumateng kita sami.



Brahala Sewu

Brahala Sewu

Brahala Sewu

Dalam lakon Kresna Duta, Sri Batara Kresna murka dan berubah wujud menjadi Raksasa yang sangat mengerikan, yang terkenal dengan nama Brahala Sewu. Konon kalau Betara Narada tidak segera turun ke mayapada, maka habislah negeri Astina oleh kemarahan Brahala Sewu.

Merujuk kisah di atas, negeri kita ini sedang berlangsung babak Sang Kresna benegosiasi dengan Prabu Duryudana. Semoga negosiasi di negeri ini berjalan dengan lancar demi terwujudnya indonesia yang gemah ripah tata titi tentrem karta raharja, tak ada cheos, tak ada anarkhi, semua berjalan dengan baik-baik saja, jadi tak perlu muncul Brahala Sewu terlebih dahulu.

SUMPAH BUDAYA 2009


garuda-pancasila

Globalisasi di ranah ide, gagasan, ilmu pengetahuan yang diiringi dengan teknologi berkembang amat pesat. Lebih cepat dari kemampuan manusia untuk merenungkan apa hakikat semuanya untuk kemanfaatan hidup. Orang tidak lagi disibukkan dengan pertanyaan untuk apa kita memiliki ilmu, pengetahuan dan teknologi. Namun lebih menekankan pada fungsi-fungsi kemanfaatan/pragmatisnya semata. Semua pada akhirnya mengikuti arus globalisasi secara latah dan masa bodoh dengan hakikat progress/kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahwa hakikat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah untuk penyempurnaan proses hidup manusia menuju kesatuan dan keserasian lahir batin, jiwa dan raga.

Budaya Populer adalah budaya yang berada di pusaran arus global. Sayangnya, perkembangan budaya global justeru mematikan budaya-budaya nasional dan budaya lokal yang ada. Budaya lokal secara substansial tidak mengalami kemajuan yang berarti kecuali hanya untuk sarana komoditas ekonomi dan turisme saja. Budaya yang merupakan hasil manusia untuk mengolah daya cipta, rasa dan karsa berdasarkan atas kehendak dan keinginan masing-masing individu dalam sebuah wilayah tidak mampu lagi dianggap sebagai sebuah kearifan.

Individu yang berada di ruang-ruang budaya pun menjadi tumpul oleh arus pragmatis budaya global yang mungkin dipandang lebih menarik, mudah, cepat dan efisien. Para pengambil kebijakan tidak lagi memiliki semangat yang menyala untuk nguri-uri kebudayaan lokalnya. Apalagi bila semua pihak tidak mendukung lahirnya kreativitas-kreativitas baru berkebudayaan dan berkesenian.

Ini adalah situasi di mana kita mengalami sebuah Degradasi Budaya bahkan kehancuran sistematis budaya lokal. Bhinneka Tunggal Ika sebagai semangat berbudaya dalam rangka kebersatuan berbagai budaya lokal untuk maju dalam frame bangsa dan negara pun hanya sebagai slogan yang kini semakin dilupakan.

Tumbuh berkembang serta kemajuan sebuah budaya ditentukan pada bagaimana kita semua merespon dan menjawab tantangan-tantangan budaya global. Respon dan jawabannya adalah agar kita kembali kreatif, inovatif dan menciptakan wilayah-wilayah perjuangan budaya yang mampu menjadi alternatif budaya global yang terbukti tidak memiliki “ruh” kemanusiaan yang utuh.

Justeru pada budaya lokal, kita menemukan kembali “ruh” kemanusiaan itu. Ruh yang akan menyinari individu agar bisa bergerak secara harmonis antara individu dengan individu yang lain, antara individu dengan alam semesta, bahkan antara individu dengan dirinya sendiri sehingga nantinya individu tersebut akan menemukan diri sejati yang merupakan wakil Tuhan di alam semesta.

Siapa yang harus memulai untuk melakukan penyadaran adanya degradasi budaya ini? Sebuah fakta sejarah terjadi pada 28 Oktober 1928 saat para pemuda mengikrarkan Sumpah Pemuda. Intisari dan hakikat dari Sumpah Pemuda adalah kesadaran bahwa semua elemen bangsa harusnya memiliki kehendak, keinginan, cita-cita yang sama untuk mewujudkan sebuah kesatuan wahana dan ruang kreativitas dan kebebasan ekspresi yang berbeda-beda.

Jembatan untuk memasuki wahana persatuan dan kesatuan tersebut adalah tanah air, bangsa dan bahasa. Setiap babakan sejarah, pemuda selalu menjadi motor penggerak perubahan zaman. Sejarah telah menegaskan tentang kepeloporan pemuda di era kolonial hingga era perjuangan kemerdekaan bahkan di era reformasi. Perjuangan pemuda selalu dihadapkan pada tantangan hambatan dan kesulitan, bahkan darah dan airmata menjadi taruhan.

Di era masa lalu, gerakan kepemudaan lebih berorientasi pada bidang politik. Kini tantangan kaum muda masa kini justeru lebih banyak berupa rongrongan budaya global yang sangat berpengaruh pada pola pikir dan gaya hidup mereka sehingga harusnya gerakan kepemudaan kini lebih diorientasikan pada bidang budaya local (local wisdom).

Pemuda harus memiliki semangat untuk bersatu, lepas dari penindasan dan penguasaan budaya global. Kita berharap agar bangsa Indonesia bisa menghidupkan kembali budaya-budaya lokal yang ada sehingga nanti terwujud bangsa yang maju berkembang tanpa kehilangan jati dirinya. Kita buka mata dan hati kita, lihatlah bangsa India, Cina, Jepang, Thailand, dan Korea telah membuktikan sendiri. Bangsa yang meninggalkan pola hidup taklid hanya ikut-ikutan, ela-elu. Kini telah tumbuh menjadi macam Asia, dihormati dan segani masyarakat dunia, bangkit meraih kejayaan dengan berlandaskan loyalitasnya terhadap nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom) yang terdapat dalam tradisi dan budayanya. Bangsa yang tahu karakter diri sejatinya, sangat tahu tindakan apa yang harus dilakukannya.

Sumpah Pemuda merupakan momentum yang berhasil menyatukan pemuda se-Indonesia dalam satu ikatan kebangsaan, perasaan senasib, sepenanggungan yang diderita oleh pemuda khususnya, telah memberikan kesadaran kritis terhadap situasi yang dihadapinya yaitu adanya sebagai tantangan bersama telah membangkitkan kesadaran kolektif pemuda untuk melawan penindasan budaya global. Diperlukan gerakan massif untuk menghidupkan kembali budaya-budaya lokal (baca; kearifan lokal) di tanah air secara terus menerus sebagai bentuk nyata dari perjuangan kaum muda.

Perjuangan kaum muda di bidang budaya diharapkan akan membawa perubahan sosial yang mendalam bagi masyarakat, terutama di bidang pendidikan. Dari pendidikan ini muncullah pejuang-pejuang muda yang kaya akan ide dan konsep untuk melawan budaya global.

Untuk mewujudkan ide tersebut maka dengan ini kami menyerukan kapada SEMUA PEMUDA DI TANAH AIR untuk bersatu dalam gerakan SUMPAH BUDAYA 2009:

1. MENGHIDUPKAN KEMBALI BUDAYA DAERAH SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN BUDAYA NUSANTARA

2. MENJADIKAN BUDAYA DAERAH SEBAGAI DASAR PIJAKAN IDE-IDE KREATIF PEMBANGUNAN

3. MENGEMBANGKAN KEARIFAN BUDAYA DAERAH SEBAGAI NILAI-NILAI PEMBANGUNAN NASIONAL

4. MENGEMBANGKAN NILAI-NILAI MORAL, MENTAL DAN AJARAN HIDUP BERMASYARAKAT YANG ADA DI BUDAYA DAERAH DALAM RANGKA MENDUKUNG PERKEMBANGAN BUDAYA NUSANTARA.

5. MENGURANGI PENGARUH NEGATIF BUDAYA GLOBAL DENGAN MENGEMBANGKAN BUDAYA NUSANTARA

MOTTO :THINK LOCALLY ACT GLOBALLY !!

SUMPAH BUDAYA:

BERBUDAYA SATU, BUDAYA NUSANTARA

BERJATI DIRI SATU, JATI DIRI BANGSA INDONESIA

KASIH SAYANG SATU, SATU KASIH SAYANG LINTAS AGAMA

Indonesia, 28 Oktober 2009

Tertanda:

1. KI WONG ALUS (www.wongalus.wordpress.com)

2. KI ALANG ALANG KUMITIR (www.alangalangkumitir.wordpress.com)

3. KI SABDA LANGIT (www.sabdalangit.wordpress.com)

4. KI AGUNG HUPUDHIO

5.  KI NGABEHI K.M. (https://ngajitauhid.wordpress.com )