Latest Entries »

Wong jowo memperlakukan alam ini seperti saudaranya sendiri, dia harus disapa lembut, disayang, diberi makan dan sebagainya. Bagi orang jawa alam tak ubahnya seperti makhluk hidup lainnya, seperti halnya manusia, binatang dan sebagainya. Alam yang saya maksud di sini adalah segala bagian bumi dan langit yang tampak seolah-olah benda mati, contohnya ; sungai, gunung, hutan, laut dsb.
Saya ini orang puritan, yang terlahir di daerah terpencil di salah satu pelosok daerah Istimewa Yogyakarta, adoh ratu cerak watu, wong nggunung onang-anung pakanane sega jagung awan bengi mung nganggo sarung tur omahe cerak lurung. Pada waktu saya masih kecil, agama bagi kami bukanlah hal yang penting, bagi kami yang terpenting adalah bagaimana bisa terus bertahan untuk hidup yakni dengan berupaya menaklukan alam Gunungkidul yang terkenal tandus dan susah air.Agama bagi kami hanyalah sebagai pelengkap identitas yang tertera pada KTP, sedangkan praktek-praktek ritual keagamaan paling hanya bersifat tahunan, dari kenyataan itulah mungkin kami termasuk sebutan wong abangan.
Namun dibalik itu semua, kami sangat menjunjung rasa kemanusiaan, kami juga menjaga keharmonisan yang erat dengan alam. Bagi kami alam tak ubahnya seperti teman sendiri yang harus dijaga, dipelihara dan dihormati, karena bila alam lestari pasti akan memberikan berkah kepada kita, namun bila kita berbuat sebaliknya, maka malapetakalah yang akan datang. Masih tergambar jelas dalam ingatan, ketika ada hajatan warga atau desa, banyak tempat-tempat yang kita anggap angker selalu diberikan sesaji. Biasanya tempat-tempat yang diberi sesaji adalah, sumur tua yang mengandung mata air, pohon-pohon tua yang menjulang tinggi, hutan, sungai-sungai dsb. Kami tahu dan kami sadar, mereka tidak membutuhkan itu semua, juga jin peri prayangngan yang bersemayam dimana-mana tidak akan menyantapnya, toh akhirnya yang memakan sesaji adalah Mbah Jurukunci, warga sekitar atau orang yang sedang lewat. Kami hanya membangun kekramatan dan nuansa angker, sehingga orang-orang jahilpun akan berfikir dua kali untuk merusak tempat-tempat yang menjadi sumber hajat hidup orang banyak.
Namun kini jaman telah berubah, di desa dan di kota kehidupan orang begitu agamis dan religius. Banyak tempat ibadah di bangun, mesjid, gereja, klenteng dan sebagainya banyak yang berdiri dengan megahnya. Orang yang masih suka sesajen dibilang musrik, orang yang ngadain slametan nujuh bulan, tedhak siti dll, disebut bid’ah, orang yang mempercayai tanda-tanda alam disebut tahayul, khurafat dll. Sesajen, petung, slametan dll adalah kepercayaan yang kolot, ortodok dan perlu dibrantas karena akan menjadikan parasit-parasit keimanan. Pendek kata orang saling berlomba untuk beragama secara kaffah dan lurus.
Saya yang notabene hanyalah orang abangan ini menjadi heran, ketika jaman telah dikatakan makin modern dan orang-orang makin agamis kenapa yang terjadi malah sebaliknya. Kini orang-orang sudah mengabaikan norma-norma dan nilai-nilai hidup yang diajarkan leluhur,sekarang orang-orang gampang sekali menyakiti sesamanya, kini orang makin gampang membunuh, memperkosa dan lain sebagainya.Banyak sekali anak muda yang meninggalkan sopan santun tata krama, sifat andhap asor dll, tempat-tempat yang dulu dianggap angker atau keramat, kini tiada ditakuti lagi. Dahulu sungai yang banyak mengandung ikan telah disulap menjadi persawahan, pohon-pohon tua yang banyak menampung serapan air ditebang, hutan-hutan dijarah rayah sehingga menjadi gundul bak lapangan golf.Akibatnya mata air makin susah, udara menjadi panas sehingga iklim mulai kacau.Sebenarnya, siapakah yang bertanggung jawab terhadap semua ini, salahkah ajaranya atau manusianyalah yang salah memaknai sebuah agama. Benarkah keyakinan yang dianggap kuno, kolot, ortodok lebih buruk dibandingkan dengan keyakinan atau agama –agama yang baru?Saya rasa semua berpulang kembali kepada diri masing-masing untuk saling belajar memaknai dan ngonceki rasa, roso-rasane dhewe-dhewe.

Iklan

Wisata Alam Gunung Karang

Apakah anda seorang pencinta alam atau seorang yang gemar berpetualang? Kalau iya, tak lengkap rasanya bila anda belum pernah mendaki Gunung Karang di kawasan kabupaten Pandegelang – Banten. Sebuah Gunung dengan tinggi kurang lebih 1700 meter di atas permukaan laut. Ibarat seorang gadis gunung ini masih amat sangat Virgin, dalam arti belum tersentuh oleh tangan-tangan jahil manusia.
Hari minggu tanggal 26 desember 2010 cuaca cukup cerah, saya memacu kuda besi saya menuju rumah sahabat saya Mas Bayu R di kawasan serpong Tangerang. Pada hari itu saya diajak beliau untuk ikut mendaki Gunung Karang dan menikmati pemandangan alamnya yang amat elok nan eksotis. Setelah menikmati kopi pagi bikinan istri beliau akhirnya kami memutuskan untuk memulai perjalanan. Waktu masih menunjukkan pukul 08:00 pagi ketika kami mulai menyusuri Jalan Tol Jakarta – Merak.
Dalam perjalanan terpaksa kami bertanya ke sana- kemari, karena minimnya informasi yang kami ketahui. Beruntung sekali di sekitar Polres Pandegelang kami bertemu seorang bapak-bapak yang dengan senang hati bersedia mengantar kami sampai Dusun Kaduengang, yaitu sebuah dusun kecil nan sunyi di kaki Gunung Karang yang biasa dipakai start para pendaki. Sampai di dusun Kaduengang kira-kira pukul 11:00, dengan di temani warga setempat kami memulai pendakian. Sungguh di luar dugaan kami sebelumnya, ternyata akses untuk pendakian teramat sulit, belum ada jalan semi permanen seperti layaknya gunung-gunung yang biasa dikunjungi oleh para pendaki. Gunung ini benar-benar masih perawan. Dalam perjalanan pendakian, kami bertiga tak jarang harus bergelayutan akar-akar pepohonan, bahkan kadang-kadang jatuh terantuk akar pohon ataupun berguling karena terpeleset.

Pak Tua Pencari Rumput
Baru sekitar seperlima jarak tempuh perjalanan, tenaga kami benar-benar seperti terkuras, nafas tersengal-sengal, apalagi sahabat saya Mas Bayu yang usianya sudah separuh abad lebih, tentu saja kondisi fisiknya agak mengganggu proses pendakiannya. Akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat sebentar. Ditengah-tengah kami beristirahat, kami dikejutkan dengan kedatangan seekor anjing putih besar, dan ternyata di belakang anjing tersebut berjalan seorang bapak tua sambil memanggul rumput basah. Orang tua itu berhenti, dan dengan ramah menyapa kami sambil mengulurkan tangan keriputnya untuk menyalami kami. Sambil tersenyum dia menasehati kami agar berhati-hati dan mendoakan semoga selamat sampai tujuan. Setelah menghabiskan satu batang rokok, kami kemudian meneruskan perjalanan. “Aneeh”tiba-tiba saya merasakan keanehan terjadi pada diri saya, tubuh saya tiba-tiba terasa lebih segar, kuat dan amat ringan, hingga kaki ini terasa makin lincah menapaki bebatuan licin. Dalam hati ini bertanya-tanya, apakah bapak tua tadi yang telah memberikan tambah energy kepada kami? Di tengah kebingungan saya, Mas Bayu pun bercerita, ternyata beliau juga merasakan seperti yang saya alami. Bahkan beliau sempat berkelakar, ‘wah.. ternyata kita baru aja ketemu orang sakti mas’he..he ..he. Yang jelas siapapun anda bapak tua, kami wajib mengucapkan trimakasih yang sebesar-besarnya, karena telah memberikan bantuan yang besar kepada kami dengan cuma-cuma dan sembunyi-sembunyi.

Nuansa Mistis Gunung Karang
Di tengah pendakian kami bertemu dua orang penduduk yang berjaga di pos darurat sambil berdagang kecil-kecilan, menurut penuturanya kawasan lereng Gunung Karang menyimpan banyak tempat – tempat yang dikeramatkan, diantaranya makam seorang raja, pertapa dan lain-lain. Di kanan kiri jalan setapak yang kita lalui tumbuh pohon-pohon raksasa yang umurnya mungkin sudah ratusan tahun, gelapnya kabut membuat cabang-cabang pohon tersebut seperti tangan-tangan raksasa yang siap mencengkram manusia-manusia yang bermaksud jahil di kawasan ini. Di tengah perjalanan kami harus berhadapan dengan serangan hawa dingin, ditambah guyuran air hujan yang sangat deras juga terpaan angin yang amat kencang. Jalan semakin licin dan tak jarang membuat kami kadang-kadang jatuh terpeleset. Sampai di Pos 3 (tiga ) kami sempat bertemu dengan seorang kakek tua yang baru saja turun dari puncak, sungguh sangat mengagumkan seorang kakek yang sudah berumur 70 an masih mampu mendaki gunung setinggi ini, pada hal kami yang masih muda saja harus berjuang habis-habisan. Akhirnya perjuangan kami membuahkan hasil, beberapa puluh meter di atas kami telah terlihat bangunan mushola, dan akhirnya kami benar-benar mencapai puncak Gunung Karang. Di atas Gunung ini ada keajaiban alam yang mungkin jarang di temukan di tempat-tempat yang lain. Umumnya sebuah mata air sering kita jumpai di kawasan lereng atau di kaki sebuah gunung, namun di Gunung Karang mata air tersebut benar-benar muncul di puncang gunung tersebut. Mata air tersebut muncul menjadi 7 (tujuh) sumber, yang oleh penduduk sekitar disebut dengan nama sumur tujuh. Khasiat dari air sumur tersebut adalah untuk membersihkan diri dari gangguan energi-energi negative. Caranya adah dengan berdoa dan mandi keramas di sumber tersebut. Bagi yang mata batinnya sudah terasah dengan baik, saya yakin akan bisa menyaksikan fenomena-fenomena gaib di tempat ini. Ketika berada di pucak gunung ini saya sempat hampir pingsan, karena hawa dingin yang menggigit. Ketika kami datang tempat ini sedang terjadi hujan angin yang sangat mengerikan.

Rute Pendakian
Setelah di rasa cukup kami memutuskan untuk turun, saat itu waktu kira-kira menunjukkan pukul 16:30 dan tepat azan isya’ berkumandang kami telah sampai di tempat kami menitipkan kendaraan. Bagi anda yang ingin berkunjung kesana, saya sarankan untuk mengikuti rute di bawah ini, karena setelah kami berputar-putar ternyata rute inilah yang paling mudah untuk di lewati. Patokannya adalah alun-alun depan Polres pandegelang. Bila anda dari arah Jakarta, ketika telah bertemu alun-alun silahkan anda berputar ke kiri, nanti akan ketemu pertigaan bila lurus menuju ke Tanjung Lesung, kalau ke kanan kea rah labuhan, ambil kearah labuhan dan nanti akan bertemu pertigaan , silahkan ambil arah ke kanan ketemu pertigaan ke kanan lagi, setelah itu akan ketemu pertigaan lagi dan silahkan ambil kiri terus menuju dusun Kaduengang. Jalan ini cuma kecil untuk memastikan supaya tida tersasar jangan sungkan-sungkan untuk bertanya kepada penduduk setempat. Jarak Polres Pandegelang ke dusun Kaduengang sekira-kira 15 km, anda harus berhati-hati karena jalanan yang sangat buruk. Bila telah sampai di Kampung Kaduengang anda bisa menitipkan kendaraan di warung pertigaan tusuk sate (warung Teteh Choiriyah/aa’ Agus) dan anda selama pendakian bisa minta tolong dipandu seorang anak muda yang bernama RUDA’I, orangnya ramah, sabar dan amat mengenal seluk beluk daerah ini.

Koki Sejati

Saya dulu hobby masak, saking cintanya pada acara masak memasak, saya berguru kemana saja. Pokoknya tiap ada koki yang terkenal pasti saya datangi untuk belajar tentang resep-resepnya, kadangkala saya langsung diajak praktek atau cuma sebatas teori saja.
Suatu hari ada beberapa tamu datang kerumah, tentu saja saya sangat bahagia karena kebetulan tamu saya tersebut juga hobby masak memasak. Sangking senengnya supaya orang lainpun tambah ilmu memasaknya dan bisa ditularkan kesiapa saja, sayapun mengobral teori memasak saya tanpa tedeng aling-aling secuilpun, tapi rupanya niat saya yang tulus itu tidak pada tempatnya. Suatu hari kawan saya datang menegur saya.
Teman: Kamu tau ndak kalu kawan kita agak jales sama kamu.
Saya : lho, emang salah saya apa?
Teman: Kemarin Firman ngomong sama saya, kamu telah membabar resep masakannya tanpa menyebutkan asal muasal resep itu.
Saya: Waduh biyung , modar aku. Jujur saya ndak bermaksud sejauh itu je, di hati dan kepala saya, saya ndak ada maksud-maksud khusus, saya cuma pengen resep itu bisa diketahui siapa saja.Jadi ndak ada maksud di hati supaya saya ini dianggap koki hebat atau mumpuni terus di subya-subya.
Teman :Lha iya saya tau maksudmu, tapi itu kan etika. Seharusnya kamu sebutin dong kalau kamu dapat resep dari mana?
Saya : Waduh ya mohon maaf, saya lupa sama etika. Menurut saya sesama koki yang katanya telah memilih kesejatian ndak perlu begitu-begituan, seharusnya dengan getaran rasamu kamu bisa bedakan, penjabaran resep saya itu ada muatan-muatan tertentu atau tidak, wealah kok yo kamu sejauh itu to.
Temen: Pokoknya sekali lagi, itu adalah sebuah ETIKA titik, kamu jangan ngeyel aja!!!
Saya : wooo ya sudah saya ngaku salah deh, tapi kamu tau tidak? Ternyata ada beberapa resep ciptaan saya sendiri, juga dibajak orang lain, dan itu juga sahabat sejati saya sendiri, tapi saya malah seneng lho.
Temen: Seharusnya kamu marah dong, atau setidak-tidaknya kamu tegur!
Saya: he he he , buat apa saya marah, saya malah bahagia banget lha wong ternyata resep saya itu juga ada yang suka.Berarti saya kan sudah memberikan manfaat.Saya ini pengen jadi koki sejati, saya ga butuh resep saya dipuji2, diakui atau bahkan di patenkan, atau bila perlu nama saya jadi terkenal. Biarlah nanti Tuhan sendiri yang menilainya, gitu men………
Temen://??????###

Bencana Lagi

Ahir-akhir ini, tanah air kita yang sangat kita cintai ini tertimpa bencana yang silih berganti.Semoga semua ini semakin menjadikan kita bertambah eling lan waspada, sibuk megoreksi diri kita masing-masing, bukan mencari kesalahan di luar diri atau mencari kambing hitam.

Wasior, mentawai, merapi, jakarta yang di kepung banjir, semoga mampu membuka mata hati kita, mata hati pemimpin dan rakyat indonesia, bahwa kita harus senantiasa mulat sarira hangrasa wani.

Rahayu, rahau, rahayu

Semoga Gusti Allah paring pangayoman dumateng kita sami.



Tidak Boleh Menulis

Aneh..!, dua kali sudah saya kehilangan artikel yang telah cape’-cape’ saya tulis dengan rapi.Keduanya raib begitu saja. Saya jadi berfikir, apakah perihal yang saya tulis itu memang belum waktunya untuk di babar. Ach kaya’nya terlalu berlebihan kalau saya punya pendapat seperti itu, karena isi dari artikel saya ini tidak terlalu rumit-rumit amat.Lagian yang saya tulis juga bukanlah sebuah ilmu gaib yang sinengker. Setelah saya melakukan kontemplasi beberapa hari, akhirnya jawaban itu muncul. Membuat tulisan ternyata bukanlah sekedar menorehkan ide-ide ataupun ispirasi ke gudang arsip blog. Namun ada sebuah tanggung jawab moral yang harus di pertanggung jawabkan. Sejauh mana isi tulisan itu dengan keadaan diri kita. Menurut saya ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk melahirkan sebuah tulisan, khususnya artikel yang berkaitan dengan religiusitas.
1. Fahamkah penulis dengan yang di tulisnya?
2. Sudahkah penulis mengalami sendiri tentang isi dari tulisannya?
3. Mampukah penulis melaksanakan tentang apa yang ditulisnya?
Mungkin ini suatu peringatan bagi saya, agar kedepan lebih berhati-hati dalam membuat tulisan.Karena semua ada pertanggung jawabannya. Tulisan bisa mempengaruhi orang lain, dan kalau ternyata tulisan kita jauh dari kebenaran, maka tak terbayang betapa kita telah menebar keburukan di muka bumi atau menjerumuskan orang lain. Intinya, bolehlah membuat tulisan atau artikel, namun harus melalui pendalaman, pembuktian dan pemahaman, bukan sekedar comot sana-sini. Itu setidak-tidaknya pesan untuk diri saya sendiri.Diam bukan berarti bodoh, dengan berlatih diam (meneng) akan menjadi hening dan melahirkan wening.