SMS (Sholatlah Maghrib Sekarang!!!)

Hari kamis sore hujan deras mengguyur Jakarta dan Tangerang. Jam telah menunjukkan pukul 4 sore, tak sabar rasanya menunggu hujan reda, karena bisa saja menjelang malam hujan seperti ini baru reda.Kuterobos hujan deras sore itu tanpa menggunakan mantel, alhasil sampai rumah tubuh yang gering ini menggigil hebat. Alhamdulillah, bedug maghrib sudah menggema dengan pelan-pelan kunikmati secangkir teh manis hangat buatan istri tercinta sebelum ia sendiri mangajak putri kecilku pergi ke Mesjid.

Sungguh nikmat sekali rasanya, setelah seharian belajar menahan nafsu makan minum dan nafsu-nafsu lainnya. Setelah makan secukupnya, segera kuhisap rokok kegemarangku sambil menikmati sinetron komedi berseri disalah satu stasiun tv. Wuiiih makin mantab saja, sambil bersandar ke tembok sembari menikmati rokok, serasa dunia ini milikku sendiri…maaf yag lain cuma ngontrak… :mrgreen:

Tiba-tiba ponsel bututku berdering pertanda ada sms masuk. Dengan rasa malas kuambil hpku yang terletak di atas kulkas. Duerrrr, serasa hati ini seperti di hantam palu godam, tubuh saya bergetar setelah membaca sms itu.

“Ass….jangan lupa sholat maghrib ya…..(nama julukan saya di kampung)”

Isi sms itu begitu singkat dan sederhana, namun membuat hati ini tersadar bahwa aku sering berbuat lalai tanpa aku sadari. Aku bisa mengira -ira pasti ini adalah salah satu sahabatku yang di kampung. Tapi siapa ya, tak mungkin rasanya salah satu temen yang kuanggap seperjalanan memanggilku dengan nama julukan (parapan)ku dulu. Yang membuatku heran, dia mengirim sms seperti itu merupakan kebetulan ataukah dia sengaja menerawangku, he he. Ach.., aku tak ambil pusing, tanpa buang waktu segera kutunaikan sholat maghrib. Ba’da sholat maghrib segera kukirim sms balasan,”Trimakasih saya telah di ingatkan, tapi ngomong2 ini nomor  siapa?”

Setengah jam kemudian kuterima sms balasan:

“sami-sami, kula namung ngelikake supaya penjenengan tansah eling kaliyan Gusti Allah”.

Keesokan paginya saya berusaha menghubungi nomor tersebut, setelah diangkat kudengar nada suara seorang laki-laki yang tidak begitu jelas (kemruek, berisik) dan tak berapa lama dimatikan.Yang jelas siapapun anda saudaraku, secara kebetulan atau tidak, saya hanya bisa mengucapkan trimakasih karena telah menyadarkan saya  dari kelalaian yang mungkin sering saya lakukan tanpa saya sadari.

Mranggi Kanggo Sedulur

Para sederek ingkang minulya lan tansah kula tresnani, untuk mengekspresikan dan sedikit merealisasikan cita-cita saya untuk ikut andil nguri-nguri kabudayan jawi, maka dengan senang hati kepada teman-teman yang mencintai tosan aji khususnya keris dan  sedang bermasalah dengan warangka khususnya warangka keris (rusak, pengen punya serep dll, sementara untuk pesan ke mranggi membutuhkan biaya mahal) maka dengan ini saya siap membantu membuatkan warangka baru, baik gaya surakarta maupun jogjakarta(Gayaman maupun Ladrang) gratis. Insya Allah saya akan membuatnya dengan tangan sendiri, dan dengan penuh kebanggaan akan saya kirimkan kepada saudara yang menginginkannya, tentu saja kayu berikut ongkos pengirimannya dari sang pemesan, he he.Kalau saya yang nombok kan kasihan…..

Dan apa yang saya lakukan ini sebagai simbol dan sedikit wujud nyata, bahwa saya sangat menghargai karya para leluhur, dan kita semua wajib menjaga dan melestarikannya sampai kapanpun.

Demikian saudara2 sekalian, semoga woro2 ini ada manfaatnya.

Rahayu ingkang sami pinanggih

wassalam

Mengenalkan Budaya Dlm Keluarga

Konon seorang pria jawa dikatakan sempurna bila telah memenuhi beberapa kriteria, salah satunya adalah keris(curiga). Terlepas ada substansi apa dibalik wewarah seperti itu, saya tidak akan membahasnya terlalu jauh. Yang jelas, bagi saya keris adalah warisan budaya dari nenek moyang yang tiada ternilai harganya, sampai-sampai duniapun mengakuinya lewat UNESCO. Nah sebagai lelaki jawa, saya pun berusaha untuk memilki sebuah keris, he he he. Dan di bawah ini adalah keris berdapur Naga Siluman berwarangka ladrang (branggah) gaya surakarta. Keris ini saya namakan Kanjeng Kyai Koden, karena jenis keris ini bisa diperoleh dari para pedagang keris keliling dan biasanya sering dijual perKodi. Sejarah asal muasal  keris ini saya beli di sebuah toko souvenir ketika saya berkunjung ke rumah Ki Sabda Langit.

Kyai Koden

Kanjeng Kyai Koden

Tak lengkap rasanya bila di dinding kamar tamu telah tergantung sebilah keris tetapi belum ada wayang di sana.Dan untuk melengkapi supaya makin terasa nuansa jawanya, maka tak lupa saya pasang dua buah wayang kulit. Gambar di bawah ini adalah tokoh sang Resi Mayangkoro aliyas Hanoman sedang bercakap-cakap dengan Raden Wisanggeni, konon keduanya mempunyai hubungan yang akrab dan sangat khusus.

R. Wisanggeni & Hanoman

R. Wisanggeni & Hanoman

Selanjutnya mungkin karena sering melihat bapaknya ngelus elus keris, anak saya juga sangat senang sekali dengan benda yang satu ini. Ketika saya sedang membersihkan keris yang lain, dia kan selalu merengek untuk dapat memegangnya. Di bawah ini foto putri kecil saya dan Kanjeng Kyai Koden.

Dan ini bapaknya yang lebih hobi memakai baju metaraman dari pada memakai koko, ketika berangkat sholat jamaah ke Masjid (ke mesjidnya kalau lagi mau aja, he he)

Dalang Ra Payu

Dalang Ra Payu

Kalau lagi dipangku begini, genduk paling seneng ditembangin tembang-tembang jawa, sesekali tangannya uklak uklik menari mengikuti irama tembang. Tapi akhir-akhir ini dia lebih seneng shalawatan, pasalnya dia sering diajak ibunya ngaji di mesjid.

Nah, alangkah bagusnya bila setiap keluarga bisa mengenalkan budaya leluhurnya mulai dari hal-hal yang paling kecil. Bila budaya kita ingin lestari sepanjang masa, mari kita kenalkan sedini mungkin dalam lingkungan kita sendiri. Tidak usah yang terlalu rumit dulu, mulailah dengan hal-hal yang sederhana. Misalnya memasang atribut atau simbol atau hiasan yang berbau kedaerahan, membiasakan berbahasa daerah di dalam keluarga dalam interaksi sehari-hari dimanapun kita tinggal. Saya yakin dengan langkah-langkah sederhana seperti ini, bila tiap keluarga mempraktekannya maka budaya kita yang banyak mengandung falsafah hidup yang luhur tak akan musnah termakan jaman. Mangga para sedulur, kita jaga budaya warisan leluhur dengan cara kita masing-masing, supaya tidak kehilangan jati diri, supaya tidak jadi wong jawa sing kajawan. Selamat berjuang.

JOKE ALA SUFI

MENYUAP

Suatu hari di alam kubur malaikat sedang mengintrogasi para arwah, hingga sampailah giliran itu pada salah seorang seorang ahli kubur.

Arwah : (dengan senyum manis dan sikap yang sangat pd)

Malaikat : Kenapa anda pd sekali, pada hal anda ini ahli dosa?

Arwah : Karena saya yakin, pasti saya ndak jadi dimasukin ke neraka.

Malaikat ; Alasan apa yang membuat anda yakin seperti itu?

Arwah : (Sambil cengengas-cengenges tiba-tiba  sang arwah mengeluarkan amplop yang berisi cek yang bernilai milyaran rupiah)

Malaikat : Anda mau menyogok saya ya?

Arwah : (halaaah, trima saja, kan sudah tradisi).

Malaikat :( Termenung sejenak) kemudian dia membentak “enak aja, emangnya saya sama dengan para pejabat di negerimu dulu, pasti kamu orang ……………(sensor) ya?”

Arwah : (kaget) lho anda kok tahu…

Malaikat : :mrgreen: sudah tradisi….sambil menggebuk kepala sang arwah sampai hancur berkeping.

Baca Lanjutannya…

SUMPAH BUDAYA 2009


garuda-pancasila

Globalisasi di ranah ide, gagasan, ilmu pengetahuan yang diiringi dengan teknologi berkembang amat pesat. Lebih cepat dari kemampuan manusia untuk merenungkan apa hakikat semuanya untuk kemanfaatan hidup. Orang tidak lagi disibukkan dengan pertanyaan untuk apa kita memiliki ilmu, pengetahuan dan teknologi. Namun lebih menekankan pada fungsi-fungsi kemanfaatan/pragmatisnya semata. Semua pada akhirnya mengikuti arus globalisasi secara latah dan masa bodoh dengan hakikat progress/kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahwa hakikat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah untuk penyempurnaan proses hidup manusia menuju kesatuan dan keserasian lahir batin, jiwa dan raga.

Budaya Populer adalah budaya yang berada di pusaran arus global. Sayangnya, perkembangan budaya global justeru mematikan budaya-budaya nasional dan budaya lokal yang ada. Budaya lokal secara substansial tidak mengalami kemajuan yang berarti kecuali hanya untuk sarana komoditas ekonomi dan turisme saja. Budaya yang merupakan hasil manusia untuk mengolah daya cipta, rasa dan karsa berdasarkan atas kehendak dan keinginan masing-masing individu dalam sebuah wilayah tidak mampu lagi dianggap sebagai sebuah kearifan.

Individu yang berada di ruang-ruang budaya pun menjadi tumpul oleh arus pragmatis budaya global yang mungkin dipandang lebih menarik, mudah, cepat dan efisien. Para pengambil kebijakan tidak lagi memiliki semangat yang menyala untuk nguri-uri kebudayaan lokalnya. Apalagi bila semua pihak tidak mendukung lahirnya kreativitas-kreativitas baru berkebudayaan dan berkesenian.

Ini adalah situasi di mana kita mengalami sebuah Degradasi Budaya bahkan kehancuran sistematis budaya lokal. Bhinneka Tunggal Ika sebagai semangat berbudaya dalam rangka kebersatuan berbagai budaya lokal untuk maju dalam frame bangsa dan negara pun hanya sebagai slogan yang kini semakin dilupakan.

Tumbuh berkembang serta kemajuan sebuah budaya ditentukan pada bagaimana kita semua merespon dan menjawab tantangan-tantangan budaya global. Respon dan jawabannya adalah agar kita kembali kreatif, inovatif dan menciptakan wilayah-wilayah perjuangan budaya yang mampu menjadi alternatif budaya global yang terbukti tidak memiliki “ruh” kemanusiaan yang utuh.

Justeru pada budaya lokal, kita menemukan kembali “ruh” kemanusiaan itu. Ruh yang akan menyinari individu agar bisa bergerak secara harmonis antara individu dengan individu yang lain, antara individu dengan alam semesta, bahkan antara individu dengan dirinya sendiri sehingga nantinya individu tersebut akan menemukan diri sejati yang merupakan wakil Tuhan di alam semesta.

Siapa yang harus memulai untuk melakukan penyadaran adanya degradasi budaya ini? Sebuah fakta sejarah terjadi pada 28 Oktober 1928 saat para pemuda mengikrarkan Sumpah Pemuda. Intisari dan hakikat dari Sumpah Pemuda adalah kesadaran bahwa semua elemen bangsa harusnya memiliki kehendak, keinginan, cita-cita yang sama untuk mewujudkan sebuah kesatuan wahana dan ruang kreativitas dan kebebasan ekspresi yang berbeda-beda.

Jembatan untuk memasuki wahana persatuan dan kesatuan tersebut adalah tanah air, bangsa dan bahasa. Setiap babakan sejarah, pemuda selalu menjadi motor penggerak perubahan zaman. Sejarah telah menegaskan tentang kepeloporan pemuda di era kolonial hingga era perjuangan kemerdekaan bahkan di era reformasi. Perjuangan pemuda selalu dihadapkan pada tantangan hambatan dan kesulitan, bahkan darah dan airmata menjadi taruhan.

Di era masa lalu, gerakan kepemudaan lebih berorientasi pada bidang politik. Kini tantangan kaum muda masa kini justeru lebih banyak berupa rongrongan budaya global yang sangat berpengaruh pada pola pikir dan gaya hidup mereka sehingga harusnya gerakan kepemudaan kini lebih diorientasikan pada bidang budaya local (local wisdom).

Pemuda harus memiliki semangat untuk bersatu, lepas dari penindasan dan penguasaan budaya global. Kita berharap agar bangsa Indonesia bisa menghidupkan kembali budaya-budaya lokal yang ada sehingga nanti terwujud bangsa yang maju berkembang tanpa kehilangan jati dirinya. Kita buka mata dan hati kita, lihatlah bangsa India, Cina, Jepang, Thailand, dan Korea telah membuktikan sendiri. Bangsa yang meninggalkan pola hidup taklid hanya ikut-ikutan, ela-elu. Kini telah tumbuh menjadi macam Asia, dihormati dan segani masyarakat dunia, bangkit meraih kejayaan dengan berlandaskan loyalitasnya terhadap nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom) yang terdapat dalam tradisi dan budayanya. Bangsa yang tahu karakter diri sejatinya, sangat tahu tindakan apa yang harus dilakukannya.

Sumpah Pemuda merupakan momentum yang berhasil menyatukan pemuda se-Indonesia dalam satu ikatan kebangsaan, perasaan senasib, sepenanggungan yang diderita oleh pemuda khususnya, telah memberikan kesadaran kritis terhadap situasi yang dihadapinya yaitu adanya sebagai tantangan bersama telah membangkitkan kesadaran kolektif pemuda untuk melawan penindasan budaya global. Diperlukan gerakan massif untuk menghidupkan kembali budaya-budaya lokal (baca; kearifan lokal) di tanah air secara terus menerus sebagai bentuk nyata dari perjuangan kaum muda.

Perjuangan kaum muda di bidang budaya diharapkan akan membawa perubahan sosial yang mendalam bagi masyarakat, terutama di bidang pendidikan. Dari pendidikan ini muncullah pejuang-pejuang muda yang kaya akan ide dan konsep untuk melawan budaya global.

Untuk mewujudkan ide tersebut maka dengan ini kami menyerukan kapada SEMUA PEMUDA DI TANAH AIR untuk bersatu dalam gerakan SUMPAH BUDAYA 2009:

1. MENGHIDUPKAN KEMBALI BUDAYA DAERAH SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN BUDAYA NUSANTARA

2. MENJADIKAN BUDAYA DAERAH SEBAGAI DASAR PIJAKAN IDE-IDE KREATIF PEMBANGUNAN

3. MENGEMBANGKAN KEARIFAN BUDAYA DAERAH SEBAGAI NILAI-NILAI PEMBANGUNAN NASIONAL

4. MENGEMBANGKAN NILAI-NILAI MORAL, MENTAL DAN AJARAN HIDUP BERMASYARAKAT YANG ADA DI BUDAYA DAERAH DALAM RANGKA MENDUKUNG PERKEMBANGAN BUDAYA NUSANTARA.

5. MENGURANGI PENGARUH NEGATIF BUDAYA GLOBAL DENGAN MENGEMBANGKAN BUDAYA NUSANTARA

MOTTO :THINK LOCALLY ACT GLOBALLY !!

SUMPAH BUDAYA:

BERBUDAYA SATU, BUDAYA NUSANTARA

BERJATI DIRI SATU, JATI DIRI BANGSA INDONESIA

KASIH SAYANG SATU, SATU KASIH SAYANG LINTAS AGAMA

Indonesia, 28 Oktober 2009

Tertanda:

1. KI WONG ALUS (www.wongalus.wordpress.com)

2. KI ALANG ALANG KUMITIR (www.alangalangkumitir.wordpress.com)

3. KI SABDA LANGIT (www.sabdalangit.wordpress.com)

4. KI AGUNG HUPUDHIO

5.  KI NGABEHI K.M. (http://ngajitauhid.wordpress.com )